Konflik 50:50 ( Bab 8, Egaliter vs Insecure)






 Bab 8

Egaliter vs Insecure


Bima kemudian membungkuk, mengambil batu kali itu, dan memindahkannya ke pinggir trotoar agar tidak membahayakan orang lain. Tindakan sederhana itu membuat hati Alin terhibur secara luar biasa. Baginya, ini adalah bentuk ketampanan yang sesungguhnya—bukan sekadar fisik, melainkan budi pekerti dan kesigapan untuk peduli pada keselamatan orang lain--

Namun, di dalam batin Bima, terjadi pergolakan yang berbeda. Meski ia baru saja melakukan tindakan heroik, rasa insekuritasnya tetap membisikkan keraguan. Ia merasa tangannya yang sedikit gemetar tadi menunjukkan betapa ia masih seorang amatir di depan wanita dewasa seperti Alin. Ada bagian dari dirinya yang ingin menjadi "penguasa" dalam situasi itu, namun sisi kemanusiaannya justru membuatnya bertindak seperti seorang pelayan yang menghormati tuannya—seperti Yusuf yang menghargai Zulaikha--. 

Bima merasa puas bisa melindungi Alin, tapi ia juga merasa terancam oleh kecantikan dan kedewasaan Alin. Ia takut jika Alin mengetahui bahwa di balik sikap protektifnya, ia hanyalah seorang remaja yang baru saja patah hati dan merasa tidak berdaya. Inilah momen krusial pertahanan diri Alin mulai goyah karena aksi heroik Bima yang sederhana namun tulus. Dari sini, akan terlihat kekontrasan antara sikap Bima yang protektif secara alami dengan insekuritas yang menghantuinya.

Alin menatap punggung Bima yang mulai menjauh kembali ke dalam lobi. Ada sebuah benih harapan yang mulai tumbuh di hati Alin. Ia mulai berpikir bahwa mungkin tidak semua lelaki memiliki ego sebesar Firaun yang hanya ingin disembah. Mungkin, masih ada lelaki yang mau bersikap lembut dan menghargai wanita dengan tulus.

"Jika dia bisa bersikap seperti ini sekarang," batin Alin sambil melanjutkan langkahnya ke parkiran dengan lebih hati-hati, "Bagaimana jadinya jika dia sudah dewasa nanti? Mungkinkah dia bisa menjadi rumah tempatku pulang?"

Alin tidak menyadari bahwa insiden kecil ini akan menjadi dasar baginya untuk menaruh harapan besar pada Bima. Harapan yang nantinya akan hancur ketika insekuritas Bima membuatnya berpaling pada Dania. Hal yang mendorong Alin terjebak pada pernikahan dengan Tino, yang sesungguhnya hanya untuk menghindari gelar perawan tua.

Sore itu, sebuah batu di depan tempat les telah mengubah segalanya. Sebuah jembatan emosional telah terbangun antara seorang sarjana yang terluka dengan seorang siswa SMA yang merasa tidak berharga. Namun, di atas jembatan itu, ego patriarki Bima masih mengintai, siap untuk meruntuhkan apa pun yang baru saja mereka bangun. 

Inilah titik baliknya. Alin mulai melihat potensi Bima bukan sebagai "anak kecil", melainkan sebagai lelaki sejati. Kontras antara tindakan Bima yang egaliter dalam melindungi dan batinnya yang mulai terinfeksi patriarki. Ia mulai merasakan insecure dan ingin berkuasa. Keinginan yang akan menjadi motor konflik selanjutnya. 

Malam itu, Alin tidak bisa memejamkan mata. Bayangan Bima yang sigap menangkap lengannya di depan tempat kursus terus berputar seperti piringan hitam yang rusak di benaknya. Ada sesuatu pada tatapan Bima yang membuatnya merasa "penuh" kembali, setelah sekian lama merasa dikosongkan oleh kebohongan pria di media sosial. 

Alin duduk di tepi ranjangnya, memandangi pantulan dirinya di cermin rias. Ia adalah seorang sarjana, wanita yang seharusnya berpikir logis dan realistis. Namun, di sinilah ia, seorang wanita dewasa yang hatinya bergetar hanya karena tindakan sederhana seorang siswa kelas 3 SMA. Alin, sang sarjana, mulai melakukan negosiasi dengan logikanya sendiri demi membenarkan rasa sukanya pada Bima yang masih di bawah umur.

"Dia baru kelas tiga," gumam Alin pada bayangannya sendiri. 

"Sebentar lagi lulus. Jika dia kuliah, dia akan menjadi pria dewasa sepenuhnya. Sebelum ia dianggap dewasa aku harus menjaga jarak." Padahal, setelah Bima menolongnya dari terpelanting itu, sore itu ia ingin mengajak jalan-jalan sekadar menonton film di mall sebagai ungkapan terima kasih. Namun, ditahannya karena Bima belum cukup umur. 

Pikiran Alin mulai menenun skenario yang manis sekaligus nekat. Ia membayangkan Bima lulus SMA, lalu melanjutkan kuliah sambil bekerja. Alin tidak keberatan menunggunya, bahkan andai menikah sebelum ia lulus kuliah, toh sudah cukup umur untuk dianggap sebagai lelaki dewasa. Ia melihat sosok Yusuf dalam diri Bima, seorang lelaki muda yang mampu menjaga kehormatan Zulaika, wanita, bahkan saat statusnya masih dianggap "kecil" oleh dunia. Baginya, attitude Bima yang protektif dan sopan jauh lebih aman dari protes hati  nuraninya daripada status sosial atau kemapanan instan yang ditawarkan pria-pria suami orang.

Hati nuraninya membisikkan ia harus mencintai sesama seperti cintanya pada diri sendiri. Bukti universal keimanan seseorang yang diakui agama apa pun itu. Empatik "Aja njiwit yen ora gelem dijiwit", falsafah Jawa yang sudah didengarnya sejak kecil. Nasihat orang tuanya ketika mengajarinya berlatih mandiri finansial, dari berbagi pekerjaan di rumah sampai menabung sejak usia dini. Sesama wanita tentu terluka jika diduakan. Kalaupun jauh di dasar hati tidak terluka suaminya mendua karena tiada lagi chemistry, tetap akan menyulut konflik dari rasa malu suaminya selingkuh sampai luka hati anak-anak mereka. Hal yang akan menyulut heboh, lalu bisa saja berlanjut ke dunia maya. Risiko yang tak sanggup dihadapinya. 

Ia pun malu disebut pelakor. Selain empatik dalam hati nuraninya melarang, rasa malu mengundang gunjingan orang pun bersarang, rezeki untuknya yang tak akan membuatnya kelaparan pun membayang. Kembali dalam hatinya mendengungkan istigfar meskipun tak terdengar dari luar. Alin pun merasa terhibur. Nikmat apa yang kudustakan? Gumamnya dalam hati. Toh dompetnya selalu terisi, cukup untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari.

 Ia bersyukur hidup di negerinya yang aman melindungi aktivitasnya sebagai wanita. Lelaki, selain Tuhan memberi tahu untuk menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan, wanita pun dilindungi undang-undang. Bukankah kaum lelaki akan kena pasal pidana jika bersiul, menggoda, melontarkan ungkapan seksis terhadap wanita? Jangankan di ruang publik, menggunjing fisik wanita sebagai objek seksual di ruang privat pun bisa terkena pidana. Nikmat apa yang kudustakan? Gumamnya sekali lagi sambil menatap wajah dan tubuhnya di cermin.

Wahai raga pembungkus jiwa. Tuhan dan hukum negara telah melindungimu. Maka, jagalah langkahmu dari kejahilan yang berniat mengeksploitasi fisikmu demi kepuasan nafsu semata. Kamu sangat berharga bagi semesta dan bagi negara. Kenanglah masa kecil, masa sekolah, ketika nilai rapormu setara bahkan banyak yang lebih tinggi dari teman lelaki. Mengapa setelah dewasa rela ditumpulkan potensimu demi egoisme mereka? Bukankah Kamu bisa mandiri, bisa mengais rezeki sendiri, janganlah patuhi ajakan tanpa bernalar. Ajakan yang akan menghancurkan masa depan cemerlang, sedangkan Tuhan dan negara telah memberikan perlindungan.

 Setelah luka pengkhianatan dari pria yang mengaku lajang di Facebook dan tak bisa menyalahkannya karena dirinya pun sudah dewasa, kejujuran gerak-gerik Bima terasa seperti obat penawar. Ia mulai berpikir bahwa jika Bima ingin mengajaknya menikah suatu saat nanti, ia akan bersedia. Toh, Bima akan segera cukup umur. Alin pun mencoba membayangkan sebuah kehidupan yang egaliter. Ketika mereka bisa saling mendukung; Bima kuliah, dan ia tetap bekerja. Untuk sementara ia menopang ekonomi karena telah mandiri. Ia yakin Bima tak akan membiarkan kondisi timpang terus berlanjut. Ia tentu akan segera bekerja selepas kuliah, bahkan jika harus bersibuk bersamanya mengelola bimbingan belajar yang bisa saja bercabang-cabang. 

Mengapa tidak? Toh sebagai duta berbagai label, ia pasti akan memilih. Bekerja dan hasilnya untuk kemanusiaan minimal menggerakkan literasi tingkat RT, mendanai Karang Taruna percontohan, tentu Alin akan mendukung sepenuhnya dengan aneka ide sekaligus membiayai kebutuhan hidup berdua. Atau, bekerja keras sendirian demi gaya hidup isteri jelita bak boneka yang akan dipamerkan ke seluruh dunia, yang hanya goleran di rumah saja agar tidak diambil orang? Atau wanita yang bisa diakali untuk bekerja keras menghidupi dan mencukupi kebutuhannya untuk dimadu kelak, jika uangnya sudah banyak? Bima sang duta kemanusiaan tentu tak kan tega memilih opsi ketiga. Meskipun kemungkinan itu ada, karena menjalani kehidupan bukan seperti mengerjakan soal matematika.

 Alin pun memprogram kehidupan egaliter yang saling menghargai potensi tanpa saling merasa tersaingi, karena sadari kecerdasan mereka berbeda. Ia dominan di linguistik, sedangkan Bima dominan di kinestetik. Kelak ia dilarang iri jika Bima mahir berpencak silat sedangkan ia cuma bisa bersilat lidah. Akan halnya rezeki, bisa dikais berdua atas nama demi memaksimalkan potensi diri, demi berbagi setelah cukup untuk memenuhi kebutuhan pribadi, toh kian bnyak rezeki kian bisa beramal. Mengapa harus saling membatasi jika sudah sanggup saling memercayai? 

Namun, di tengah mimpi-mimpi yang mulai bersemi itu, Alin tidak menyadari bahwa Bima sedang berjuang melawan hantu-hantu termasuk hantu dihatinya sendiri. Akankah kelak ia takluk pada bujuk rayu wewe gombel, sundel bolong, pocong, glundhung pringis, banaspati, kuntilanak, demit,genderuwo yang menakutinya, agar dirinya tidak sok menjadi pahlawan kesiangan seperti duta aneka prestasi yang disandangnya? Hidup sudah sulit, harus pelit. Ngapain mikirin urusan orang lain. Duta tinggal duta. EGP!

Mending ngurusi tuntutan isteri semata wayang. Ingin operasi plastik, ingin penuhi tubuh dengan tatto, penuhi leher dengan aneka kalung emas, gelang kaki gemerincing, mobil mewah, itu lebih wah. Alin melihat Bima sebagai pelabuhan, namun Bima justru melihat dirinya sendiri sebagai perahu yang rapuh dan mudah karam. Lalu melihat kecerdasan linguistik Alin sebagai ancaman yang bakal membuatnya tenggelam. Jika ia sebagai lelaki tak sanggup mengungguli potensi Alin, sebaiknya Alin merelakan diri untuk padam demi menghargai dirinya. Ajaran Firaunis berbau patriarkis yang memenuhi mental remajanya mulai menyiksa. 

Alin mengambil buku catatannya, menuliskan beberapa rencana kerja untuk besok, tapi pikirannya tetap tertuju pada bagaimana ia akan menyapa Bima di pertemuan berikutnya. Ia ingin memberikan sinyal bahwa ia pun memiliki ketertarikan yang sama. Alin tidak tahu bahwa setiap perhatian yang ia berikan justru akan menjadi beban bagi Bima—seorang lelaki yang dibesarkan dalam tradisi patriarki yang merasa harus selalu lebih unggul dari wanitanya--.

"Mungkin ini adalah takdir," bisik Alin sebelum akhirnya mematikan lampu kamar. Toh rasa itu tak melukai siapa pun. 

Ia tertidur dengan senyum tipis, membayangkan masa depan yang cerah bersama sang pelindung muda. Ia tidak pernah menduga bahwa esok, kehadiran empat pembimbing laki-laki baru akan menghancurkan seluruh rencana indah yang baru saja ia susun di dalam kepalanya. Mimpi Alin sedang mekar, namun badai insekuritas Bima baru saja akan dimulai.

Alin mencoba merasionalkan perasaannya. Ia terjebak dalam harapan, bahwa cinta bisa mengatasi perbedaan usia dan status di bumi patriarki ini, hanya karena Bima pernah terpilih sebagai duta pertukaran pelajar di Belanda. Namun, adakah jaminan pola pikirnya menjadi egaliter? Alin  meskipun guru dan magister pula, tetap saja nalarnya kacau ketika jatuh cinta. Itu karena ia percaya pola pikir Bima mendadak dewasa begitu menginjakkan kaki di Eropa. Kekontrasan antara rencana Alin yang egaliter dengan kenyataan insekuritas Bima akan menjadi konflik utama yang menyakitkan pada masa mendatang.

Dunia Bima yang baru saja mulai sedikit berwarna, mendadak kembali menjadi abu-abu saat ia menginjakkan kaki di lobi tempat kursus sore itu. Suasana yang biasanya akrab, kini terasa asing dan mengintimidasi. Di depan meja administrasi—tempat Alin biasanya duduk dengan anggun—kini berdiri empat orang lelaki yang tidak pernah Bima lihat sebelumnya.

Mereka adalah para pembimbing baru. Berbeda dengan Bima yang masih mengenakan seragam abu-abu putih dengan sisa keringat kegiatan sekolah, keempat pria ini tampil dengan kemeja rapi, jam tangan yang tampak mahal, dan aroma parfum yang memenuhi ruangan. Mereka adalah representasi dari kemapanan, kedewasaan, dan kepercayaan diri yang selama ini Bima dambakan namun belum ia miliki demi Alin. 

Bima mematung di dekat pintu masuk. Ia melihat Alin sedang tertawa kecil menanggapi ucapan salah satu dari mereka. Tawa yang biasanya membuat Bima merasa damai, kini terasa seperti sembilu yang menyayat harga dirinya. Insekuritasnya, yang selama ini ia coba tekan dengan aksi heroik "batu kali", bangkit kembali dengan kekuatan ganda. sebuah titik balik atmosfir tempat kursus yang awalnya terasa hangat bagi Bima, mendadak berubah menjadi medan pertempuran ego yang menyesakkan. Di sinilah "Firaun kecil" dalam diri Bima mulai berbisik lebih kencang karena rasa terancam.

Lihat mereka, bisik sebuah suara di dalam kepalanya. Mereka punya segalanya. Mereka punya pekerjaan, mereka punya ijazah sarjana yang setara dengan Alin, dan mereka punya keberanian untuk bicara tanpa ragu. Sedangkan kau? Kau hanyalah anak ingusan yang bahkan belum tentu lulus ujian nasional. Ia pun mengukir tekat di benaknya

Jika hidupku sepi wanita

Yang ternyata mudah takluk 

pada harta benda

Mengapa aku harus setia


    Sebelumnya                 Daftar Isi 

                                                 

Komentar

Postingan Populer