Konflik 50:50 ( Bab ke-2, Tersesat)

 Bab II

 Tersesat


Melihat kesederhanaan makam Khadijah, Alin kembali meneteskan air mata. Wanita seagung Khadijah, yang namanya abadi, memilih pulang dalam kesunyian yang begitu pasrah. Ziarah ke Al-Ma'la ini mengunci keyakinan Alin, bahwa cinta sejati tidak pernah peduli pada angka usia di atas kertas, melainkan tentang bagaimana dua jiwa saling menguatkan di jalan Tuhan. Sekali lagi, dari balik pagar Al-Ma'la itu, Alin memantapkan hatinya untuk melepaskan segala ketakutannya tentang umur, bersiap menyambut takdir apa pun yang telah dituliskan untuknya kelak. 

 

Di depan jeruji emas Hujrah Syarifah, air mata Alin menetes semakin deras, seirama dengan salawat yang lirih ia rapalkan. Pandangannya terpaku pada kebersahajaan makam di balik dinding itu. Tempat Rasulullah SAW beristirahat dengan damai, diapit oleh dua sahabat setianya, Abu Bakar dan Umar. Di tengah riuh rendah isak tangis jemaah dari berbagai penjuru dunia, jiwa Alin justru melayang masuk ke dalam sebuah ruang perenungan yang teramat dalam.

 

“Ya Rasulullah…” bisik Alin di dalam hatinya, dadanya bergemuruh oleh rasa kagum yang tak terperi. 

"Betapa agung perjuanganmu mengubah wajah peradaban dunia. Engkau berdiri paling depan demi membela derajat manusia, membebaskan mereka dari segala bentuk perbudakan.” 

 

Alin merenungi bagaimana Rasulullah membebaskan manusia dari perbudakan fisik yang kejam. Beliau pun berjuang mengangkat derajat kaum wanita yang pada zaman jahiliyah tak lebih dari barang warisan. Beliau bahkan memberi contoh menghentikan tradisi purba berlabel poligami yang sesungguhnya lelaki pun tak bisa adil. Bukankah Khadijah yang telah berjuang bersamanya dari awal, merelakan harta demi niat mulia memberantas pola pikir jahiliyah, tidak dimadu seumur hidupnya kendati lebih tua usianya? 

 

Tak hanya itu, batin Alin kian bergetar mengenang cara Rasulullah menghancurkan perbudakan mental dan spiritual. Beliau membebaskan manusia dari rantai keserakahan dan ego yang tak mau terkalahkan maupun luapan tersinggung merasa direndahkan. Konflik batin yang menjerat mereka ke dalam kubangan riba demi terlihat kaya. Selain itu, beliau pun menyelamatkan jiwa-jiwa rapuh dari jeratan judi dan khamr hanya karena ingin bebas dari stres dan tekanan hidup. Beliau membimbing dengan sangat sabar dan ketenangan luar biasa.

 

Rasulullah saw senantiasa membimbing umat dengan samudra kesabaran yang tak bertepi, menyentuh hati manusia bukan dengan keangkuhan otoritas, melainkan dengan kelembutan yang memanusiakan. Beliau tidak langsung menghakimi seorang pria yang mengaku sulit lepas dari dosa, melainkan menuntunnya secara psikologis lewat satu syarat sederhana, "Boleh asal jujur," yang pada akhirnya justru membangkitkan kesadaran moral terdalam pria tersebut. Ia malu tiap kali ditanya tentang ulahnya. Rasa malu yang akhirnya membuatnya bertobat dari maksiat. 

 

Kesabaran radikal ini pula yang terpancar ketika beliau dilempari batu hingga terluka oleh penduduk Taif. Beliau justru memaafkan dan mendoakan mereka dengan penuh kasih sayang. Mereka didoakan agar segera sadar, memahami bahwa tindakan itu muncul karena mereka memang belum tahu.

 

“Dan semua revolusi besar itu…” Alin menyeka air matanya yang membasahi kain mukena, “...berhasil Engkau menangkan hanya dalam waktu singkat, sekitar dua puluh tiga tahun. Dua puluh tiga tahun yang penuh dengan caci maki, boikot, tekanan fisik, hingga ancaman pembunuhan.”

 

Namun, yang membuat hati Alin sebagai seorang wanita modern kian terenyuh adalah fakta sejarah di balik perjuangan itu. Rasulullah tidak berjuang sendirian. Di paruh pertama masa kenabian yang paling berdarah-darah, ada sosok Sayyidah Khadijah RA yang disamping beliau. Khadijah, sang pebisnis ulung dan bangsawan kaya raya, tidak menggunakan kekayaannya untuk bermewah-mewah atau memamerkan status sosialnya. Ia menyerahkan seluruh harta bendanya, sekeping demi sekeping, hingga tak tersisa sedikit pun demi mendukung perjuangan suaminya. 

 

Khadijah adalah simbol abadi dari seorang wanita yang berjuang untuk menjadi kaya. Namun, sepanjang hidupnya hanya memberi dan berkorban sampai titik darah penghabisan demi pencerahan umat yang berada dalam kegelapan. Alin menarik napas dalam-dalam, merasakan kedamaian Raudah meresap ke dalam pori-pori jiwanya. Dialog batin di depan makam ini menjadi penutup dari segala keraguan hatinya “Jika Khadijah bisa mencintai dan menyokong penuh perjuangan suaminya yang lebih muda tanpa peduli pada pandangan sinis bangsawan Quraisy, mengapa aku harus takut pada tradisi patriarki yang kaku?” pikir Alin mantap, setelah merasa goyah berdiri di bumi patriarkis yang membuatnya dianggap aneh adakalanya juga merasakan tekanan mental karena tidak seragam.

Di ambang kebingungan di lorong labirin hotel bintang lima yang luas itu, Alin melihat seorang Office Boy (OB) hotel berpakaian seragam rapi sedang melintas membawa tumpukan linen bersih. Alin agak kelelahan karena memutar arah, sementara ibunya sudah bersandar lemas di dinding marmer. Alin memberanikan diri mendekati pemuda itu. Karena tidak bisa bahasa Arab, ia menggunakan bahasa Inggris dengan artikulasi yang jelas namun sarat nada cemas.

 

"Excuse me, Sir. I’m sorry to bother you, but my mother and I are completely lost. We’ve been walking around for a while and we can’t find our room," ujar Alin memecah kesunyian lorong.

 

Si OB menghentikan langkahnya, menaruh linen yang dibawanya, lalu membungkuk hormat dengan senyum khas pelayan hotel yang sangat ramah,

 "Good evening, Madam. Please don't worry. May I see your room key card, or do you remember the room number?"

 

Alin segera meraba tas kecilnya, menunjukkan kartu magnetik hotel yang dipegangnya sambil menyebutkan nomor yang tertera di sana,

 "Yes, it’s Room 1204 on the 12th floor. But every time we follow the signs, we just end up back in this same corridor."

 

Pemuda OB itu mengangguk paham setelah memeriksa kartu di tangan Alin. Sikapnya sangat tulus dan menenangkan,

"Ah, I see. This wing of the building can be quite confusing because the layout is circular, . Room 1204 is actually in the VIP zone, and the access elevator from this side is a bit hidden. Please, follow me. I will take you and your mother straight to the door."

"Are you sure? Is it far from here? My mother is very exhausted," tanya Alin memastikan, sambil menoleh ke arah ibunya yang mengangguk pelan.

"It’s not far, Madam, but we need to take a connecting lift. Please, don't worry. Just follow my steps," jawab si OB meyakinkan.

"Thank you so much, Sir. You are a lifesaver." Alin pun mengajak ibunya yang sudah kelelahan itu beranjak mengikutinya. 

 

Ketegangan yang semula “sok tahu” jalan lalu mendadak bingung, kontras antara kepanikan Alin dan ketulusan si OB. Ia memandunya melewati lift demi lift yang sempat membuatnya curiga, menjadi semakin dramatis hingga akhirnya si OB menghilang misterius begitu mereka tiba di depan pintu kamar hotel. . Pengalaman “sok tahu” yang dianggapnya teguran, tidak berhenti sampai di situ.

 

Makkah Al-Mukarramah membentang megah di bawah langit jazirah yang benderang. Alin mengenang kembali saat ia berdiri di kaki Jabal Rahmah, dikerumuni oleh ribuan jemaah dari berbagai belahan dunia yang memadati bukit bebatuan penuh sejarah itu. Dengan hati yang berdebar, ia segera mengeluarkan sebuah spidol, berniat menuliskan nama lelaki dewasa yang kala itu dikenalnya di Facebook pada salah satu sudut batu. Namun, sebuah kejadian tak terduga terjadi. Saat tangannya baru saja menggoreskan huruf, tubuhnya tersenggol oleh jemaah lain yang melintas. Spidolnya terjatuh, dan nama lelaki itu tertulis tidak lengkap, terputus di tengah jalan—sebuah isyarat samar yang baru dipahaminya di kemudian hari--.

 

Berikutnya hal aneh yang dianggapnya teguran lanjutan. Pada hari kedua di hotel mewah tempat ia dan ibunya menginap sebagai peserta umrah —sebuah hotel bintang lima berarsitektur megah dengan lantai marmer mengilat dan fasilitas premium untuk paket umrah VIP yang mahal— Alin mengalami peristiwa yang mengetuk logikanya. Saat melangkah di dalam koridor hotel menuju kamarnya, kakinya tiba-tiba terantuk sesuatu hingga ia tersungkur. Begitu ia tersungkur, ia merasa seutas tali rafia mengikat kakinya. Alin tertegun, akal sehatnya menolak; bagaimana mungkin ada seutas tali rafia berserakan di atas karpet tebal sebuah hotel mewah internasional yang dijaga ketat kebersihannya? Mengapa harus tersungkur dalam posisi sujud pula? 

 

Rasa syok merasakan tersesat pun menyadarkan Alin bahwa "sok tahu" dan "percaya diri"lah yang membuatnya mengalami peristiwa demikian. Meskipun banyak saran harus berjuang melepaskan ego ketika berada di tanah suci, tetapi kebiasaan tersebut membuatnya lalai. Alin dengan percaya diri merasa tahu jalan kembali ke kamar hotelnya. Namun, rasa "percaya diri" tersebut justru membuat ia dan ibunya yang sudah kelelahan, tersesat di labirin koridor hotel yang luas. Di ambang kebingungan, Alin melihat seorang Office Boy hotel berpakaian seragam rapi sedang melintas.. Beruntung, si OB memahami ucapannya dan quotes mengantarnya menuju kamar hotelnya. 

 (Bab sebelumnya).                        Daftar Isi         (Bab selanjutnya)

Komentar

Postingan Populer