Konflik 50:50 (Bab ke-3, Kenangan Masa Kecil)
Si OB mengantar mereka menelusuri lorong, membawa mereka naik ke lift pertama, kemudian berpindah koridor menuju lift kedua. Ketika si OB mengarahkan mereka menuju lift ketiga, Alin mulai dirayapi rasa curiga dan waswas. “Apakah anak ini berniat tidak baik? Kenapa jalannya memutar sejauh ini?” pikir Alin didera kecemasan. Terlebih lagi, saat melewati salah satu area, lift tersebut dipenuhi oleh rombongan lelaki lokal yang meneriakinya, "Come here! Come here! Syahrini! Syahrini!" Meski teriakan itu terdengar riuh, situasi tetap terasa aman dan sopan karena mereka berada dalam kawalan si OB yang berjalan di depan mereka. Tahun ia umrah Syahrini yang masih nona memang lagi ngetop-ngetopnya, sehingga jika ia mengenakan baju selain hitam dan berkaca mata lensa gelap, ia pun dipanggil "Syahrini! ".
Namun, karena sang ibu yang sudah teramat kelelahan tetap melangkah mengikuti si OB tanpa ragu, Alin terpaksa ikut melangkah demi menjaga agar tidak terpisah dari ibunya. Begitu pintu lift ketiga terbuka dan mereka melangkah keluar, Alin terkesima. Pintu kamar hotelnya sudah berdiri tepat di depan matanya. Dengan cepat, Alin memasukkan kartu magnetik untuk membuka pintu kamar. Sang ibu yang merasa sangat terbantu langsung menyuruh Alin untuk memberikan uang tip kepada si OB sebagai ungkapan terima kasih. Namun, begitu Alin membalikkan badan, koridor di belakangnya kosong melompong. Pemuda OB itu telah menghilang tanpa jejak dalam hitungan detik.
Lebih anehnya lagi, saat Alin melangkah kembali ke arah lift untuk memastikan, ia menyadari satu hal yang luput dari pandangannya tadi. Bukankah semula, begitu pintu lift terbuka, pintu kamar hotel berada tepat di depan pintu lift, sehingga begitu keluar tangannya langsung membuka pintu sehingga bisa spontan lega dan duduk menghalau lelah? Namun, setelah ia keluar kamar dan berbalik lagi ke kamarnya ternyata pintunya kembali seperti hari-hari biasa, tidak terletak tepat di depan pintu lift. Dengan keheranan, ia kembali masuk dan menceritakan keanehan itu kepada ibunya. Pemuda OB itu datang dengan tulus menolong mereka di saat tersesat, lalu menghilang seketika, mengikis seluruh prasangka buruk yang sempat bersarang di kepala Alin.
Perjalanan umrah itu membekas sebagai sebuah tamparan spiritual bagi Alin. Benar saja, setibanya di tanah air, tabir kepalsuan lelaki yang dikenalnya di Facebook itu akhirnya terbongkar. Lelaki mapan yang selama ini mengaku lajang itu ternyata telah memiliki istri sah. Dengan sisa-sisa ketegasan karakternya, Alin langsung memutuskan hubungan tersebut dan mau tak mau, batinnya didera trauma yang mendalam.
Di tengah reruntuhan hati itulah, Bima hadir membawa warna yang berbeda. Pada mulanya, Alin sama sekali tidak pernah membayangkan bahwa ia bisa jatuh cinta pada seorang pemuda yang usianya jauh di bawahnya. Namun, setelah serangkaian kecewa dari lelaki dewasa, Bima terasa jauh lebih aman secara psikologis dan hukum agama. Bima pemuda lajang, seiman, dan yang paling penting, hubungan mereka tidak akan pernah merebut kebahagiaan wanita lain atau mengganggu suami orang, maupun mengguncang keimanan seseorang.
Bagaimanapun, pengalamannya saat umrah sangat memengaruhinya untuk mencoba membuka hati terhadap sesuatu yang semula dihindari. Bukankah selain ditolong OB yang ternyata bisa berbahasa Inggris ketika ia tersesat, merasa terjerat tali rafia sehingga tersungkur dalam posisi sujud, meskipun karpet tebal tersebut tidak membuat keningnya luka, maka mau tak mau ia pun mencoba membuka hati. Setelah bertahun-tahun berkecimpung di dunia pendidikan dan sejujurnya sebelum bertemu Bima, beberapa siswa dari beberapa sekolah yang pernah disinggahinya sebagai guru, juga ada saja yang melakukan hal serupa, kan? Perbedaannya, dulu hatinya berjuang mati-matian menolak.
Namun, sebuah ironi besar justru menghadang mereka di tanah air. Lingkungan masyarakat yang masih terikat pada tradisi patriarki mendadak gempar dan melancarkan penentangan yang agresif terhadap hubungan mereka. Selisih usia yang terlalu jauh atau balasan semesta atas penolakan batinnya pada masa lalu yang menolak tunduk pada hal yang sebetulnya aman? Perhatian Bima yang tak terkontaminasi materialisme, murni berpijak pada keindahan lahir batin seperti yang dirasakan Zulaikha terhadap Yusuf? Apa salahnya toh Tuhan telah memberinya rezeki untuk mandiri?
Entahlah. Yang pasti, Alin merasakan perubahan pola sikap sekitarnya. Toh, sesungguhnya mereka bukan primitif amat terlebih sudah era internet. Maka, Alin kembali menatap kanvasnya dengan senyum getir, merenungkan keanehan cara berpikir sosiologis di sekitarnya sambil menyadari betapa semesta sangat jeli memberlakukan Hukum Newton ketiga.
Masyarakat patriarki kerap kali menutup mata dan memaklumi jika ada seorang lelaki tua menikahi gadis remaja yang usianya terpaut puluhan tahun. Namun, ketika situasinya dibalik—seorang wanita mapan dan mandiri seperti Alin menjalin hubungan dengan pria yang posisinya lebih muda—mereka langsung menghujatnya dengan tuduhan yang mengada-ada.
Akan tetapi, tiap kali terkenang peristiwa umrah, Alin kembali tenang. Alin kembali mencoba pasrah mengikuti arus seperti ketika melakukan thawaf. Jika hukum Newton 3 tengah menjalani tugas untuknya, ia harus pasrah terhadap hukum tersebut sebagai konsekuensi logis makhluk bumi. Bukankah Adam Hawa setelah melanggar aturan dengan makan buah kuldi, mereka pun terlempar ke bumi dan terpisah bertahun-tahun sebelum akhirnya bertemu lagi di Jabbal Rahmah?
Hubungan Alin dan Bima tidak pernah mengganggu keimanan orang lain, tidak pernah merusak rumah tangga orang lain, dan sepenuhnya sah di hadapan syariat agama. Namun, tradisi patriarki yang kaku menolak untuk melihat kebenaran itu. Mereka belum terbiasa melihat sebuah hubungan beda usia ketika wanitanya tidak bertindak sebagai pihak yang bergantung secara materi, melainkan sebagai mitra egaliter yang mandiri. Jika Alin hanya berpijak pada pendapat itu, batinnya tentu terluka. Bisa saja asam lambungnya naik. Namun, kisah Adam Hawa menghiburnya, bahwa ia manusia biasa dan harus pasrah terhadap pemberlakuan Hukum Newton 3 melalui ulah Bima, sepasrah ketika menjalani Thawaf.
Namun, Alin hanyalah manusia biasa. Kesadaran yang muncul tiap usai salat malam, seringkali lenyap ketika rasa kesal terhadap ulah sekitar yang tak lagi sesuai pola, menderanya. Ia pun bersedih, menghapus air matanya. Ia lalu menebak-nebak, jangan-jangan penentangan dari sekelilingnya itulah yang akhirnya memicu penyakit “anxiety” dan insekuritas Bima, hingga pemuda itu memilih berlari ke arah Nunung? Alin menarik napas dalam-dalam, kembali menggoreskan kuasnya dengan mantap. Biarlah tradisi patriarki dengan segala keanehannya tetap mengungkungnya dalam pikiran aji mumpung. Selagi ulahnya untuk mendua bahkan lebih, tidak menyulut konflik sekitar, mengapa ia risau? Bukankah itu karunia yang harus disyukuri terlahir sebagai lelaki di wilayah patriarki? Alin tidak mau mengenangnya lagi. Apa yang diyakini Bima suatu kebenaran, bagi Alin belum tentu benar dan sebaliknya.
Dulu, sebelum gerbang hatinya terbuka untuk menerima ketulusan Bima sebagai jawaban atas pencariannya, Alin terlebih dahulu harus melewati sebuah fase peruntuhan dogma di dalam kepalanya sendiri. Jauh di lubuk hatinya, sebuah memori masa kecil yang naif telah lama bersarang, membentuk dinding tebal yang menghalanginya untuk melihat cinta melampaui angka. Kesadaran yang tersibak dengan serangkaian pengalaman unik ketika umrah, kini harus dirasakannya. Setelah mencoba membuka hati terhadap Bima bak kepolosan cinta Zulaikha terhadap Yusuf, Hukum Newton 3 ternyata berlaku surut. Melalui ulah Bima, ia seolah harus menerima energi kecewa para pendahulu Bima yang juga pernah tertarik kepadanya.
Dalam pedih hati, kembali Alin terkenang saat ia masih seorang gadis kecil yang gemar membaca buku-buku sejarah Islam di perpustakaan sekolahnya. Kala membaca kisah pernikahan antara Sayyidah Khadijah dan Rasulullah, nalar kekanak-kanakannya menolak dengan keras. Ada rasa benci dan tak suka yang aneh muncul di benaknya waktu itu.
“Bagaimana mungkin seorang pemuda tampan berusia dua puluh lima tahun menikahi wanita berusia empat puluh tahun?” pikir Alin kecil saat itu dengan dahi berkerut. Dalam imajinasi masa kecilnya yang dangkal, wanita berusia empat puluh tahun pastilah sudah sangat tua, berwajah penuh keriput, bertubuh ringkih, dan jalannya sudah membungkuk.
Gambaran visual yang keliru itu membuatnya menganggap pernikahan beda usia sebagai sesuatu yang ganjil dan tidak masuk akal. Pola pikir naif itulah yang di kemudian hari membuatnya terobsesi hanya ingin mencari lelaki yang usianya jauh lebih tua, hingga berujung pada rangkaian patah hati dan penipuan di dunia maya. Namun, Tuhan Maha Membolak-balikkan hati manusia. Ketika Alin menginjakkan kaki di tanah suci untuk menunaikan ibadah umrah, usianya justru telah menyentuh angka lima puluh tahun.
Angka yang bahkan lebih tua dari usia Khadijah saat menikah. Tetapi cermin kehidupan justru memantulkan kenyataan yang membalikkan semua ketakutannya masa kecil. Alin sama sekali tidak keriput. Kulitnya tetap kencang, tubuhnya bugar, dan pesonanya memancarkan keanggunan seorang wanita yang matang sekaligus tampak jauh lebih muda dari angka biologisnya.
Banyak orang di sekitarnya yang menolak percaya jika usianya sudah separuh abad. Puncak pencerahan itu runtuh ketika Alin berada di dalam Raudah, taman surga di Masjid Nabawi, Madinah. Di bawah karpet hijau yang sakral, di dekat makam kekasih Allah, dada Alin berguncap hebat. Air matanya tumpah tak terbendung, membasahi kain mukenanya saat ia bersujud dengan tubuh yang gemetar.
“Ya Allah... ampuni hamba,” bisik Alin di sela-sela tangisnya yang tersedu-sedu, batinnya dilanda penyesalan. “Ampuni kenaifan pola pikir hamba saat masih anak-anak dulu. Hamba pernah mencela dan membenci kisah kekasih-Mu hanya karena hitungan angka. Kini hamba tersadar, di usia lima puluh tahun ini, Engkau justru menjaga hamba tetap tegak dan muda. Umur benar-benar hanyalah sebuah angka di hadapan-Mu.” Di wilayah yang jauh dari tanah air dan disebut Tanah Suci itu, Alin menyadari bahwa mempermasalahkan umur adalah kesalahan fatal dalam Fisika. Bukankah dalam Fisika tak ada kerangka absolut di alam semesta? Menilai orang lain hanya karena mereka bergerak dalam garis waktu berbeda, menunjukkan si pemberi nilai terjebak dalam ilusi absolutisme yang sudah ditumbangkan Fisika modern



Komentar