Konflik 50:50(Bab ke-4, Luka Bima)
Begitu muda penampilan fisik Alin saat itu, hingga memicu sebuah kesalahpahaman yang menggelikan sekaligus mengharukan di pelataran luar Masjid Nabawi, sesaat sebelum rombongan mereka bersiap menuju Mekkah. Anehnya, peristiwa itu tidak membuatnya bangga. Justru selain merasa bersalah telah meremehkan usia Hadijah saat membaca sejarah beliau, mengapa ia merasa harus siap menghadapi ujian berat lanjutan? Lalu, tampak lebih muda dari usia yang juga sering disampaikan orang lain, sebagai penguat mental bahwa Tuhan tak akan memberi cobaan jika ia tak kuat?
Alin menghela napas. Entah ujian apalagi, setelah sekian lama menyendiri karena satu dan lain hal. Misalnya ketika ia menjalin cinta dengan seseorang, ia setia. Cinta dengan segala liku dan pahit manisnya pun dirasakannya sebagai pendewasaan rasa. Rasa yang kemudian dideskripsikan dalam kata-kata yang bisa mengundang tawa maupun menguras air mata.
Dalam setia, beberapa kumbang memang terundurkan dan ia tak peduli manakala hati mereka luka. Itu karena ia ingin menikmati aneka rasa. Rasa sedih sesedih-sedihnya sampai seolah mengalirkan air mata darah, hingga rindu serindu-rindunya sampai tak lagi bisa membedakan suka duka. Serasa keduanya tak ada batasnya. Yang akhirnya disimpulkannya bahwa keduanya hanya nama yang harus dijalani semua manusia. Suka duka lengkap dengan frase berlawanan yang akan terasakan nikmatnya, justru karena ada perbedaan nama, misalnya: miskin kaya, tua muda.
Usianya sudah menuju 50 tahun dan beberapa kali seolah ada desir semacam isyarat bahwa segala yang dimiliki termasuk usia dan kesan awet mudanya hanyalah amanat. Sebagai isyarat untuk makhluk biologis agar ia bersiap-siap menikmati ujian rasa-rasa berikutnya. Siang itu, matahari Madinah bersinar terik, memantulkan cahaya di atas payung-payung raksasa yang mengembang. Alin sedang berdiri di dekat barisan jamaah wanita, ketika Ketua Rombongan umrah mereka, Ustadz Mansur, berjalan tergesa-gesa mendekatinya dengan wajah yang tampak agak tegang.
"Mbak Alin, tolong jangan jauh-jauh dari rombongan yang ada jamaah lelakinya, ya. Tetap merapat di dekat saya atau jamaah yang membawa mahram," ujar Ustadz Mansur dengan nada setengah berbisik namun tegas.
Alin tertegun mendengar arahan sang Ustadz,
"Lho, ada apa, Ustadz? Apakah ada aturan baru dari pihak askar atau mutawif?"
Ustaz Mansur menghela napas panjang, lalu tersenyum getir.
"Bukan aturan baru, Mbak. Tapi saya baru saja ditegur dan diinterogasi oleh petugas pemeriksa dokumen jamaah di sana. Mereka bertanya dengan nada curiga,
‘'Kenapa wanita muda itu dibiarkan berjalan sendirian tanpa muhrim di barisan luar?"
Spontan Alin menyentuh pipinya sendiri, mengerutkan dahi.
"Wanita muda? Siapa yang mereka maksud, Ustaz?"
"Ya Mbak Alin ini," jawab Ustaz Mansur tetap dalam ekspresi meyakinkan.
"Saya sudah jelaskan kepada petugas penanya itu menggunakan bahasa Arab, saya bilang, ‘'Dia boleh bepergian tanpa mahram karena usianya sudah masuk aturan aman, dia sudah umur lima puluh tahun.”
Tapi tahu apa respons petugas itu, Mbak?" lanjut Ustaz Mansur,
"Mereka bilang apa?"
"Petugasnya menggelengkan kepala. Dia menatap paspor Mbak Alin lalu menatap saya dengan pandangan tidak percaya. Dia bilang, 'Laa, laa yaa Syaikh! Jangan bercanda. Wanita ini tampilannya masih seperti usia tiga puluhan, tidak mungkin lima puluh tahun!' Mereka menyangka saya memalsukan data dokumen jemaah," jelas Ustaz Mansur.
“Tapi Ustaz,”kilahnya,”Banyak wanita berlalu lalang juga tak terlihat usianya. Dalam balutan gaun hitam, semua tampak sebaya. Semua tampak cantik dan sebaya. Segar memesona. Sampai saya keheranan mengapa peserta umrah tampak sebaya semua? Tiap hari yang kulihat selalu wanita cantik energik. Cantik- cantik pula dengan lagak dan gaya bak mahasiswi menuju kampus. Cantik dan terpelajar gitu lho kesan mereka. Jadi ingat saat kuliah nih, Ustaz,”jawab Alin tak kalah meyakinkan. Ia memang beberapa kali menemani ibunya yang mengajaknya ke toko busana bahkan toko emas berdua saja.
Seorang lelaki serombongan spontan menyanggah,
“Kok bisa? Di sepanjang jalan aku malah sering berpapasan dengan orang buang ingus.” Ia terdiam sebentar lalu terkekeh,
“Aku memang jahil. Dulu saat masih kos suka buang ingus dengan suara kukeraskan saat jam makan.”
Alin terkesiap, senyum haru sekaligus takjub terukir di bibirnya. Matanya kembali berkaca-kaca menatap kemegahan menara Masjid Nabawi di hadapannya. Dialog dan kejadian di siang terik itu menjadi pelengkap dari tobatnya di Raudah semalam. Tuhan tidak hanya sedang menyembuhkan lukanya, tetapi sedang menunjukkan bukti nyata di depan matanya sendiri: bahwa kekhawatiran masa kecilnya tentang penuaan fisik hanyalah sebuah ilusi.
Sekembalinya ke tanah air, ketika takdir mempertemukannya dengan Bima yang berusia jauh lebih muda, Alin tidak lagi melihat jarak angka itu sebagai sebuah penghalang. Perjalanan umrah dan pencerahan di tanah suci telah meruntuhkan seluruh tembok dogmanya. Ia tahu Bima adalah pemuda belia, namun secara psikologis dan hukum agama, Bima jauh lebih aman daripada harus terjebak dengan suami orang atau pria tak seiman. Sayangnya, keindahan visi yang dipahami Alin lewat petunjuk itu harus kandas, bukan karena hukum agama, melainkan karena ketakutan Bima yang takluk di bawah telapak kaki tradisi patriarki masyarakatnya? Entahlah.
…
Sore itu, langit di atas Surabaya tidak sedang ingin beramah-tamah. Warnanya kelabu pekat, menyerupai luka lebam yang baru saja dihantam kenyataan. Bima berdiri mematung di trotoar depan sekolah, membiarkan deru knalpot dan kepulan asap bus kota menyapu wajahnya yang kaku. Di tangannya, sebuah gantungan kunci berbentuk bintang—hadiah yang ia siapkan untuk merayakan satu tahun kebersamaan—terasa seberat bongkahan batu kali.
Ia baru saja dipukul mundur dari medan perang yang ia sebut cinta. Tanpa deklarasi, tanpa mediasi. Hanya sebuah kalimat singkat yang meluncur dari bibir gadis sebayanya, yang selama setahun ini menjadi pusat gravitasinya,
“Kita berhenti di sini, Bima. Kamu terlalu baik, tapi aku butuh ruang yang tidak ada Kamunya.”Kata-kata itu bukan sekadar pamit, melainkan sebuah eksekusi.
Sebagai remaja laki-laki yang tumbuh besar di rumah yang hanya diisi oleh suara-suara berat maskulinitas, Bima tidak pernah memiliki kamus untuk memahami perasaan wanita. Ayahnya adalah sosok kaku yang percaya bahwa air mata laki-laki adalah aib, dan ia tidak memiliki saudara perempuan yang bisa memberitahunya bahwa hati wanita bukan sebuah teka-teki yang bisa dipecahkan dengan rumus matematika.
Baginya, wanita adalah makhluk asing yang indah sekaligus menakutkan. Dan ketika ia kehilangan pegangan satu-satunya pada dunia asing itu, Bima merasa seperti astronaut yang tali pengamannya putus di tengah ruang hampa.
Ia berjalan gontai menuju tempat kursus, satu-satunya tempat yang tersisa untuk melarikan diri dari kesunyian rumah. Langkah kakinya terasa berat, seolah setiap inci aspal yang ia injak mencoba menahannya untuk tidak maju. Pikirannya kalut. Ada rasa insekuritas yang mulai merayap pelan, membisikkan bahwa ia tidak cukup tampan, tidak cukup menarik, dan tidak cukup kuat untuk dipertahankan.
Gerbang tempat kursus itu terbuka lebar, namun bagi Bima, itu tampak seperti mulut raksasa yang siap menelan sisa-sisa harga dirinya. Ia masuk ke dalam lobi dengan kepala tertunduk, berusaha menghindari kontak mata dengan siapa pun. Ia tidak ingin orang melihat matanya yang memerah. Ia tidak ingin dikasihani.
Namun, di tengah hiruk-pikuk siswa yang bersiap masuk kelas, sosok kehadiran asing memecah keheningan batinnya. Di sudut ruangan, dekat meja administrasi, berdiri seorang wanita. Ia bukan siswa, itu pasti. Ia mengenakan blus sederhana namun potongannya mengikuti lekuk tubuhnya dengan sopan, seksi dalam artian yang elegan, bukan provokatif. Rambutnya diikat rapi ke belakang, menyisakan beberapa helai yang membingkai wajah cerdasnya. Itulah Alin, pembimbing baru yang namanya sudah mulai menjadi buah bibir di kalangan teman-teman Bima, karena Alin memang baru muncul tiap hari sebulan lalu sehingga dikira pembimbing baru.



Komentar