Konflik 50:50 (Bab I Ketika Undangan Datang )
"Kini Isa Al Masih sedang berada di tempat yang hanya diketahui Tuhan. Kelak umatku akan ditemani. Beliau turun lagi ke bumi.” Kisah yang menguras air matanya atas nama anak-anak saudara sebapak yang saling menghormati. Hal yang sudah telanjur.
Meskipun ada pertanyaan, andaikan Ibrahim sabar tidak keburu menikah lagi, toh Sarah akhirnya hamil juga. Sarah tak dibiarkan termarginalkan. Nabi Ibrahim pun mendapatkan balasan atas ketidaksabaran menuruti ego, tapi beliau lulus ujian dan memunculkan ibadah yang sanggup menyulut keikhlasan bertoleransi bernama Hari Raya Kurban.
Keturunannya dari dua ibu berbeda tersebut rukun bergantian peran dan Rasulullah saw pun tidak jumawa sebagai yang terakhir,”Kelak Isa Al Masih akan kembali ke bumi demi membimbing Kalian.” Sungguh kisah yang tak membosankan dibaca berulang kali tanpa menguras air mata. Sejujurnya, kisah inilah yang membawanya untuk ikhlas melacak jejak keindahan akhlak Nabi Ibrahim dan keturunannya atas nama ibadah umrah klas VIP pula.
Jabal Rahmah, bukit batu bersejarah yang terletak di pinggiran Padang Arafah, siang itu berdiri megah di bawah sengatan terik matahari jazirah yang membakar kulit. Dari kejauhan, bukit setinggi sekitar 70 meter itu tidak lagi tampak seperti tumpukan batu mati, melainkan sebuah bukit yang "hidup" dan bergerak, berselimutkan lautan manusia dari berbagai belahan dunia. Untuk mencapai tugu putih di puncaknya—tempat yang diyakini sebagai titik bertemunya Adam Hawa setelah ratusan tahun terpisah— Alin harus mengerahkan seluruh kekuatan fisiknya. Tangga berjalan yang mewah tak ada di situ. Yang ada hanyalah undakan-undakan batu yang kasar, terjal, dan tidak beraturan.
Langkah demi langkah Alin terayun tergesa ingin segera tiba demi menuntaskan tujuannya. Setiap kali kakinya mendaki undakan batu, ia harus berpapasan, bergesekan, dan terkadang saling dorong secara tidak sengaja dengan jemaah lain yang datang bergelombang tanpa putus. Udara di sekitarnya pekat serta dipenuhi gema selawat, doa-doa yang dirapalkan dalam puluhan bahasa berbeda, serta aroma minyak atsiri yang bercampur dengan keringat.
Begitu Alin berhasil mencapai puncak, angin padang pasir yang kering dan kencang langsung menerpa wajahnya. Di puncak Jabal Rahmah yang gersang dan penuh batu-batu hitam besar itulah, suasana terasa magis sekaligus mengharu biru. Ribuan orang berjubel, berebut untuk menyentuh tugu batu putih yang kini dipenuhi coretan nama.
Semua orang datang membawa segenggam harapan tentang cinta sejati, tak terkecuali Alin, yang siang itu memegang spidol. Tangannya bergetar sebelum akhirnya tubuhnya tersenggol oleh arus jemaah yang lewat membuat spidolnya terlempar jatuh entah ke mana. Maka, namanya yang telah terukir untuk ditambahi dengan nama lelaki yang selama ini rutin berkomunikasi dengannya pun terhenti. Alin tertegun sesaat. Namun kegagalan itu tidak menggelayut menjadi beban pertanyaan karena mereka tetap bisa saling berkirim kabar secara jarak jauh.
Jika Jabal Rahmah adalah potret riuh rendah di bawah langit terbuka, maka Raudah di dalam Masjid Nabawi, Madinah, adalah gambaran tentang sebuah perjuangan spiritual yang menguras emosi dan air mata di dalam ruangan. Alin pun sudah berbaris menuju sana. Raudah, sang taman surga yang terletak di antara mimbar Nabi dan makam Rasulullah, adalah magnet terbesar bagi setiap hamba yang bertamu ke Madinah. Untuk bisa menginjakkan kaki di atas karpet hijaunya yang legendaris, Alin harus melewati ujian kesabaran luar biasa di dalam ruang tunggu berlapis-lapis.
Suasana antrean menuju Raudah digambarkan dengan sangat masif. Jemaah dari berbagai negara dikelompokkan berdasarkan jalur dan waktu yang sangat ketat oleh para askar, petugas keamanan yang juga sesama wanita. Alin berada di tengah kepungan ribuan wanita. Suasana di dalam ruang tunggu itu sangat riuh. Ada yang terus-menerus membaca Al-Qur'an. Ada yang menangis dalam zikir, dan tidak jarang terjadi ketegangan kecil ketika beberapa jemaah mencoba saling serobot. Semua itu dilakukan demi bisa berdiri di baris terdepan saat pintu pembatas dibuka.
Ketika askar akhirnya membuka pagar pembatas sambil berteriak, "Yallah hajjah, yallah!", arus manusia mendadak tumpah laksana air bah yang tercurah. Semua orang setengah berlari, mengabaikan rasa lelah, mengejar beberapa meter persegi karpet hijau yang sakral. Di dalam Raudah, suasananya begitu padat dan berdesakan. Ruangan yang dinaungi tiang-tiang putih berornamen emas itu dipenuhi suara isak tangis yang bersahut-sahutan, mengalahkan suara bising di sekitarnya.
Alin harus berjuang mencari celah sekecil apa pun di antara rapatnya tubuh jemaah lain hanya untuk bisa menggelar sajadah dan melakukan sujud. Ruang bergerak sangat terbatas. Adakalanya saat bersujud, punggungnya terantuk kaki jemaah lain, atau kepalanya hampir terlangkahi oleh mereka yang baru masuk. Bahkan adakalanya mukena sesama wanita tiba-tiba menutupi kepala seseorang yang tengah bersujud. Namun, di tengah keriuhan yang luar biasa padat dan saling berhimpitan itu, begitu dahi Alin menyentuh karpet hijau Raudah, seluruh kebisingan dunia seolah senyap.
Di situlah, di bawah bayangan Kubah Hijau, Alin tersungkur menangisi seluruh kenangan masa kecilnya, merasakan kedamaian yang magis di tengah ribuan manusia yang sama-sama sedang mengetuk ampunan dan bimbingan Tuhan. Kerinduan untuk menatap makam Rasulullah saw adalah puncak dari segala debar dada jemaah yang menginjakkan kaki di Madinah. Setelah menyelesaikan salat dan tobatnya di atas karpet hijau Raudah, Alin ikut terseret dalam arus antrean jemaah wanita yang bergerak perlahan menuju area ziarah makam, yang letaknya bersebelahan dengan taman surga tersebut.
Suasana menuju jalur ziarah ke Hujrah Syarifah begitu magis dan sarat penghormatan. Berbeda dengan keriuhan di tempat lain, di sepanjang dinding makam yang berupa pagar logam tinggi berukir indah berwarna hijau dan emas, para askar terus-menerus mengingatkan jemaah untuk menjaga ketenangan. Suara bisikan "Yallah hajjah, syuuf... jalan, jangan berhenti, selawat..." bersahut-sahutan di udara. Meskipun jemaah tidak bisa melihat jasad Rasulullah secara langsung karena terhalang oleh dinding dan tirai rapat di dalam kamar suci tersebut, namun ketika tubuh Alin berdiri tepat di depan lubang kecil pagar emas itu, dadanya serasa sesak oleh keharuan yang luar biasa. Aroma wewangian oud dan kasturi yang sangat khas menguar dari balik dinding makam.
Di tengah ribuan jemaah yang berjubel—ada yang menangis sesenggukan sambil menutup wajah dengan kedua tangan, ada yang mengangkat tangan mengirimkan salam dari sanak saudara di tanah air, dan ada yang bibirnya bergetar hebat melafalkan selawat— Alin tertunduk khusyuk. Di sinilah bersemayam manusia paling mulia yang masa mudanya begitu mencintai, menghormati, dan meninggikan derajat istrinya, Khadijah. Berdiri di depan makam itu membuat Alin merasa kerdil sekaligus dirangkul oleh kedamaian yang tak pernah ia temukan di belahan bumi mana pun. Kembali guratan hampa serasa membelah punggungnya menuju ulu hatinya. Kehampaan yang tak bisa dinamai sebagai apa selain ia kembali terkenang sosok yang jauh di tanah air.
Setelah menempuh perjalanan menuju kota Mekkah, kerinduan Alin pada sang idola membawanya ke sebuah kawasan di kaki bukit datar tidak jauh dari Masjidil Haram yaitu Pemakaman Jannatul Ma'la. Di sinilah, di balik tembok batu yang kokoh, bersemayam jasad Sayyidah Khadijah Al-Kubra, ibu dari seluruh umat seiman. Suasana di Al-Ma'la menyuguhkan kekontrasan yang tajam dengan kemegahan Masjidil Haram. Tempat sunyi, gersang, dan berselimutkan debu putih padang pasir. Berbeda dengan makam-makam di tanah air yang penuh bunga dan batu nisan berukir, makam Sayyidah Khadijah tampak sangat bersahaja.
Alin berdiri di balik pagar luar pemakaman bersama rombongan jemaah lainnya. Angin kering kota Mekkah bertiup kencang, menerbangkan ujung jilbabnya. Banyak jemaah wanita yang menatap ke arah dalam makam dengan mata yang basah dan berkaca-kaca. Mereka, termasuk Alin, terenyuh membayangkan bahwa di bawah tanah gersang itulah berbaring seorang wanita bangsawan kaya raya; yang telah menyerahkan seluruh jiwa, raga, dan hartanya demi mendukung perjuangan suaminya yang berusia lebih muda, demi melindungi sesama.


Komentar