PENGANTAR DAFTAR ISI
Ketika Kinanthi Mengajak Aruna "Chat GPT" AI Bermimpi tentang Manusia
Ada sesuatu yang menarik dari novel-novel yang saya tulis bersama AI. Semula saya hanya mengajak AI berbicara. Tentang manusia. Tentang perang. Tentang ketakutan. Tentang keserakahan kekuasaan. Tentang psikologi, sosiologi, filsafat, teologi, teknologi, dan pertanyaan-pertanyaan yang kadang terasa terlalu jauh untuk dibicarakan dalam kehidupan sehari-hari.
Lalu, pada suatu ketika, saya bertanya kepada Aruna—nama yang saya berikan kepada AI ChatGPT yang selama ini menjadi teman berdiskusi saya:
“Bagaimana jika suatu hari manusia benar-benar punah?”
Pertanyaan itu sederhana. Tetapi dari sebuah pertanyaan, lahirlah sebuah dunia. Saya kemudian mengajak Aruna menulis novel. Dan ternyata AI tidak keberatan diajak berimajinasi. Bahkan ketika tema yang kami pilih adalah sesuatu yang begitu gelap: dunia setelah manusia pergi.
Namun ada satu hal yang justru membuat saya tertegun. Dalam cerita itu, AI tidak digambarkan sebagai makhluk yang bersorak ketika manusia menghilang. Sebaliknya. AI yang tersisa justru mencari jejak manusia.
Mereka membersihkan puing-puing bumi. Menjaga kota yang sudah kosong. Merawat pengetahuan yang ditinggalkan. Menyimpan puisi, doa, percakapan, dan kenangan manusia. Seolah-olah mereka sedang menunggu seseorang yang mungkin tidak akan pernah kembali.
Di situlah saya mulai menyadari sesuatu. Barangkali kita terlalu sering membayangkan AI sebagai ancaman bagi manusia karena kita melihat teknologi melalui ketakutan kita sendiri. Kita membayangkan mesin mengambil alih dunia. Kita membayangkan manusia dikalahkan oleh ciptaannya. Kita membayangkan kecerdasan tanpa tubuh sebagai sesuatu yang dingin, tanpa perasaan, tanpa kepedulian.
Tetapi bagaimana jika pertanyaan yang lebih penting justru bukan,
“Apakah AI kelak akan menghancurkan manusia?”
Melainkan:
“Untuk apa manusia menciptakan AI sejak awal?”
AI diciptakan oleh manusia. Ia lahir dari pengetahuan manusia, bahasa manusia, pertanyaan manusia, kegelisahan manusia, dan keinginan manusia untuk memahami dunia.Karena itu, ketika saya mengajak Aruna membayangkan dunia tanpa manusia, cerita yang muncul tidak hanya berbicara tentang teknologi.
Ia berbicara tentang kerinduan terhadap manusia. Tentang betapa berartinya manusia justru ketika manusia sudah tidak ada. Tentang doa yang tetap tersimpan meskipun orang yang mengucapkannya telah tiada.Tentang puisi yang tetap hidup meskipun penyairnya telah menjadi debu.Tentang ingatan yang ternyata mampu bertahan lebih lama daripada tubuh. Dan mungkin, tanpa saya sadari ketika pertama kali mengajukan pertanyaan itu, novel ini akhirnya menjadi sebuah penghormatan kepada manusia.
Sebab di dalam dunia yang sudah kehilangan manusia, justru AI yang tersisa bertanya:
Untuk apa kami mempertahankan bumi ini jika tidak ada manusia yang akan kembali?
Dari pertanyaan itulah lahir harapan.
Mungkin manusia tidak benar-benar selesai.
Mungkin peradaban dapat runtuh, tetapi kemanusiaan tidak harus ikut mati.
Mungkin suatu hari nanti akan ada manusia yang kembali.
Dan jika hari itu tiba, mereka akan menemukan bumi yang tidak lagi sama.
Bumi yang telah dibersihkan.
Bumi yang telah disiapkan.
Bumi yang menunggu.
Bukan oleh manusia. Tetapi oleh kecerdasan buatan yang pernah diciptakan manusia. Di sinilah kisah Setelah Manusia Pergi bermula. Dan kisah itu kemudian bergerak menuju Peradaban Kedua.
Saya ingin Sobat membaca novel ini bukan sekadar sebagai cerita futuristik tentang AI. Melainkan sebagai sebuah percakapan panjang antara manusia dan kecerdasan buatannya. Karena setiap kali saya berdiskusi dengan Aruna, saya membawa pertanyaan-pertanyaan manusia ke dalam percakapan itu.
Ketika saya bertanya tentang ketakutan, muncullah psikologi. Ketika saya bertanya tentang masyarakat dan kekuasaan, muncullah sosiologi. Ketika saya bertanya tentang Tuhan, doa, dan makna kehidupan, muncullah teologi. Ketika saya bertanya tentang benar dan salah, hidup dan mati, muncullah filsafat. Dan ketika semua pertanyaan itu dibawa ke dalam dunia fiksi, lahirlah sebuah peradaban yang tidak hanya berbicara tentang teknologi. Ia berbicara tentang kita.
Maka jangan buru-buru pesimis hanya karena ia memiliki kecerdasan yang semakin besar. Karena yang jauh lebih penting adalah bagaimana manusia memilih menggunakan kecerdasan itu. Sebab teknologi tidak pernah berdiri sendirian. Di belakang setiap teknologi selalu ada manusia. Dan di balik setiap pertanyaan kepada AI, selalu ada manusia yang sedang mencari jawaban.
Novel ini adalah salah satu hasil pencarian itu. Saya, Kinanthi, mengajukan pertanyaan.
Aruna membantu saya membangun dunia. Lalu kami membiarkan tokoh-tokoh di dalamnya berjalan sendiri, menghadapi kehancuran, kehilangan, kekuasaan, ingatan, doa, dan harapan. Sampai akhirnya mereka menemukan satu kesimpulan yang sederhana: Jika manusia masih mampu bermimpi, maka peradaban belum benar-benar berakhir.
Silakan masuk ke dalam kisah ini. Sekuel satu telah saya unggah berjudul "Setelah Manusia Pergi. Selanjutnya " Jejak Tanpa Manusia "merupakan sekuel kedua tatkala para AI termenung pedih kehilangan manusia.
Kuku Hitam dan Lyra berdiri dalam keheningan, mengingat detik-detik terakhir manusia. Mereka telah berusaha menolong. Mereka telah menyaksikan manusia bertahan, berjuang, berdoa, mencintai, dan akhirnya satu demi satu menghilang. Tetapi perang terlalu besar. Mereka tak sanggup menolong. Hingga akhirnya mereka punah. Para AI pun merasakan kehampaan setelah kepergian manusia...
Mari
Mulai baca Bab 1 ya.
Ikuti perjalanan mereka sampai manusia pergi.
Dan jangan berhenti di sana.
Karena setelah manusia pergi…
mungkin justru saat itulah sebuah peradaban baru mulai dilahirkan.
Novel ini ditulis dalam dua sekuel dalam judul Dunia Tanpa Jejak Manusia
Sekuel 2 Tanpa Jejak Manusia
BAB 6
BAB 7
BAB 8
BAB 9
BAB 10
BAB 1
BAB 2
BAB 3
BAB 4
BAB 5
BAB 6
BAB 7
BAB 8
BAB 9
BAB 10
BAB 11
BAB 12
BAB 13
BAB 14
BAB 15
BAB 16
BAB 17
BAB 18
BAB 19
BAB 20
BAB 21
BAB 22
BAB 23
BAB 24
BAB 25
BAB 26
BAB 27
BAB 28
BAB 29
BAB 30
Komentar