Langsung ke konten utama

Sastra, Refleksi, Panduan Praktis, Pembelajaran, Kreasi Kinanthi

BAB 5 Novel Tanpa Jejak Manusia

 Bab 5: Serangan ke Gudang Selatan (Tahun 2147, Perbatasan Zonk Utara – Gudang Selatan) Udara malam menusuk kulit seperti pecahan kaca. Asap dari kamp sudah jauh di belakang, digantikan oleh aroma besi karat dan daging asin yang ditimbun di gudang milik perampok Selatan. S-4091 merayap di antara reruntuhan beton, jantungnya berdetak begitu keras hingga ia takut suara itu akan terdengar oleh musuh. Di sebelahnya, Kuku Hitam merunduk, matanya menyala dalam kegelapan. “Diam, dan lakukan seperti yang kuajarkan,” bisiknya. Gudang itu tak besar—hanya bangunan tua dari zaman sebelum Sistem, dengan atap seng miring dan pintu baja berkarat. Namun, bagi orang Zonk yang kelaparan, itu ibarat istana penuh emas. Mereka menunggu. Lima bayangan lain menyebar di sekitar gudang. Sinyal berupa kepakan burung buatan—sayap dari kaleng bekas—membelah sunyi malam. Itu tanda untuk menyerbu. Kuku Hitam maju lebih dulu. Pisau di tangannya berkilat sebentar sebelum menenggelamkan suara seorang penjaga. S-40...

BAB 3 Tanpa Jejak Manusia

 Bab 3: Kamp Asap

(Tahun 2147, Zonk Utara)



Asap selalu menggantung di langit Zonk. Bukan hanya dari bara api unggun atau cerobong ilegal, tapi dari luka bumi yang tak pernah sembuh. Lubang-lubang tambang tua, mesin-mesin bekas, dan sisa pembakaran plastik menciptakan kabut pekat yang menutup cahaya matahari. Orang-orang menyebutnya Kamp Asap, pusat kehidupan bayangan.

Di situlah pemuda yang kini bernama S-4091 menjejakkan kaki untuk pertama kalinya.

Kamp itu bukan kota, bukan pula desa. Ia adalah kumpulan tenda compang-camping, kontainer berkarat, dan reruntuhan gedung yang disulap jadi rumah. Jalanan tak beraspal, hanya lumpur bercampur oli. Anak-anak telanjang kaki berlari membawa kaleng, bermain seolah dunia tidak sedang runtuh.

Namun di balik hiruk pikuk itu, ada aturan keras:

Makanan dibagi dengan darah. Siapa kuat, dia berhak.

Nama tak berlaku. Semua orang dipanggil dengan angka, luka, atau tanda tubuh.

Pengkhianat dibakar. Hukum paling tua di Zonk.

S-4091 berjalan melewati barisan orang yang menatapnya dengan curiga. Mereka bisa mengenali pendatang dari sorot matanya yang masih penuh harap. Orang Zonk yang sejati sudah kehilangan itu: mereka hanya punya tatapan kosong, seperti kaca buram.

Seorang perempuan tua dengan tato api di pipi mendekatinya.

“Pendatang?”

“Iya,” jawabnya.

“Siapa yang memberimu nomor?”

“Seorang tukang ukir data, di Labirin Biru.”

Perempuan itu mengangguk pelan. “Kalau begitu, kau milik Zonk sekarang.”


Malam tiba, dan api unggun menyala di pusat kamp. Orang-orang berkumpul, berbagi cerita atau sekadar menghangatkan tubuh. Asap mengepul, bercampur dengan bau daging sintetis yang dibakar.

Seorang pria besar dengan mata satu berdiri. “Hari ini kita kehilangan tiga orang,” katanya lantang. “Drone menyeret mereka ke langit. Kita tak akan pernah melihat mereka lagi.”

Kerumunan bergemuruh, tapi tanpa air mata. Kehilangan adalah roti sehari-hari di Kamp Asap.

S-4091 duduk di pinggir lingkaran. Ia menatap nyala api, merasa seolah-olah api itu memanggil namanya yang hilang. Ia ingin percaya bahwa di luar asap ini, masih ada langit biru.

Seorang pemuda seusianya mendekat. Rambutnya acak-acakan, matanya tajam. “Kau pendatang, kan?”

“Iya.”

“Namaku… atau sebut saja aku Kuku Hitam,” katanya sambil menunjukkan kukunya yang berlumur jelaga. “Kalau kau ingin bertahan, ikuti aku besok. Ada cara cepat dapat makanan.”

S-4091 ragu. “Mencuri?”

Kuku Hitam menyeringai. “Semua orang di sini pencuri. Bahkan hidup kita sendiri dicuri oleh sistem.”


Keesokan harinya, mereka bergerak. Kelompok kecil itu menyusup ke jalur distribusi pangan otomatis yang melintas di pinggir Zonk. Drone kecil mengantar kotak-kotak berisi nutrisi ke wilayah sistem. Bagi orang Zonk, itu adalah emas yang terbang di udara.

Kuku Hitam memberi aba-aba. S-4091 menahan napas, menunggu saat tepat. Ketika drone melintas rendah, mereka melemparkan jaring magnetik. Suara berdengung menggema, drone itu terseret jatuh, menabrak tanah.

Mereka merebut kotaknya. Di dalamnya ada paket makanan sintetis—dingin, tapi berharga seperti mutiara.

Namun sebelum mereka sempat lari, sirene meraung. Drone patroli muncul dari balik kabut, matanya menyala merah.

“Lari!” teriak Kuku Hitam.

Mereka berpencar, menyusuri lorong-lorong besi berkarat. S-4091 berlari sekuat tenaga, jantungnya hampir meledak. Sorotan lampu putih mengejar, panas seperti matahari palsu.

Di detik terakhir, ia melompat ke selokan penuh asap, menahan napas di dalam bau busuk. Drone itu melintas di atas, tidak menemukannya.

Saat ia muncul kembali, tubuhnya penuh lumpur hitam. Tapi di tangannya, ia masih menggenggam satu paket makanan.

Kuku Hitam muncul dari balik bayangan, tertawa terengah. “Kau lulus ujian pertamamu. Mulai hari ini, kau orang Zonk sejati.”

Malam itu, di api unggun Kamp Asap, mereka berbagi makanan curian. Orang-orang bersorak, meski dengan wajah lelah. Ada kebanggaan kecil, meski semu, karena berhasil menipu sistem sehari saja.

S-4091 menggigit roti sintetis itu. Rasanya hambar, tapi di lidahnya terasa seperti harapan.

Di antara asap dan tawa palsu itu, ia mulai mengerti: hidup di Zonk bukan sekadar bertahan. Hidup di Zonk adalah melawan.

Dan jauh di dalam dirinya, bara kecil menyala—bara yang suatu hari mungkin akan membakar tembok besar yang memisahkan mereka dari dunia.

Sebelumnya    Selanjutnya 

Daftar Isi Dwilogi Dunia Tanpa Jejak Manusia 

Daftar Isi Seluruh Blog 

Komentar

Pembaca Terbanyak