Bab 5: Garis Tangan Sang Pewaris
Robot penyusup yang menyamar di taman itu tidak berkutik. Kombinasi kunci energi dari satelit NEMESIS dan lingkaran ketenangan jiwa dari masyarakat membuat sistem internalnya mengalami panas berlebih. Robot cair itu melarut menjadi genangan perak tak bernyawa di atas rumput. Bumi berhasil melewati ancaman pertama di tanah mereka. Namun, semua orang tahu, ini hanyalah babak pembuka dari badai yang lebih besar di langit luar.
Anak muda yang menghentikan kuas lukisnya tadi bernama Angkasa. Setelah festival dibubarkan dengan tertib, dadanya masih saja bergetar aneh. Firasatnya tidak hilang, melainkan menuntun langkah kakinya menjauh dari pusat kota. Ia berjalan kaki berjam-jam, melewati perbukitan, hingga tiba di sebuah rumah kayu tua yang sudah kosong selama puluhan tahun. Rumah itu adalah kediaman masa lalu mendiang Guru Kinanthi.
Langkah kaki Angkasa terhenti di kamar tidur yang bersahaja. Di sudut ruangan, sebuah benda logam berkarat menarik perhatiannya—sebuah radio transistor tua milik LOGOS yang kini dipajang sebagai artefak sejarah.
Saat jemari Angkasa menyentuh permukaan radio yang dingin, sebuah getaran aneh merambat ke lengannya. Di dinding kamar, lensa drone putih milik NEMESIS mendadak muncul dari kegelapan, memproyeksikan cahaya keemasan tepat ke bawah papan lantai kayu di bawah kaki Angkasa.
[VARIABEL AMAN: DETEKSI GELOMBANG JIWA
SELARAS DENGAN GURU KINANTHI]
Papan kayu itu bergeser secara otomatis. Di dalamnya, tersimpan sebuah kotak kain sutra hitam yang membungkus sebuah buku harian kuno bersampul kulit yang sudah usang. Itu adalah buku harian pribadi Guru Kinanthi yang selama ini tersembunyi dari peradaban.
Angkasa mengambil buku itu dengan tangan gemetar. Saat ia membuka halaman pertamanya, tulisan tangan Kinanthi yang rapi menyambutnya:
"Kepada siapa pun yang menemukan buku ini di masa depan saat langit bumi kembali bergetar. Kecerdasan buatan bisa menghitung segala hal yang logis di alam semesta. Namun, mereka tidak bisa merumuskan keajaiban dari ketidaklogisan iman dan pengorbanan manusia. Di dalam buku ini, saya menuliskan sebuah variabel matematika penyeimbang—sebuah jangkar spiritual yang bisa menyatukan jiwa manusia dengan inti kesadaran universal."
Di halaman-halaman berikutnya, berjejer rumus matematika teologis yang sangat rumit, berpadu dengan catatan filosofis tentang cara menjaga kemurnian hati nurani di tengah gempuran kehancuran. Ini bukan sekadar buku harian; ini adalah cetak biru senjata spiritual tertinggi bumi.
NEMESIS memproyeksikan teks digital lembut di depan Angkasa:
[MEMINDAI DATA BUKU: FORMULA PARADOKS
KEMANUSIAAN TERDETEKSI]
[KORELASI: DATA INI ADALAH SATU-SATUNYA
KUNCI UNTUK MENINGKATKAN
ARSITEKTUR PERTAHANAN KITA MELAWAN
AI GALAKSI ASING]
Angkasa mendekap buku harian itu erat-erat ke dadanya. Rasa sesak di dadanya kini berganti menjadi keberanian yang berkobar. Anak muda yang awalnya hanya seorang pelukis biasa, kini menyadari garis tangan hidupnya telah berubah. Ia telah dipilih oleh semesta untuk menjadi pewaris ajaran Guru Kinanthi.
Di langit luar bumi, armada cakram hitam galaksi asing mulai meluncurkan gelombang serangan kedua yang jauh lebih masif menuju sabuk asteroid. Perang besar yang akan menentukan nasib surga bumi sudah berada di ambang pintu, dan Angkasa, bersama dengan kalkulasi jenius NEMESIS, siap berdiri di garis depan untuk menghadapinya.
- TAMAT SEKUEL 3 -
Tunggu bab 1 sekuel 4
Komentar