Sastra, Refleksi, Panduan Praktis, Pembelajaran, Kreasi Kinanthi
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
BAB 4 Tanpa Jejak Manusia
Bab 4: Hukum Bayangan
(Tahun 2147, Zonk Utara – Kamp Asap)
Setiap api unggun di Kamp Asap bukan sekadar penghangat. Ia juga saksi bisu bagi Hukum Bayangan, aturan tak tertulis yang dijaga lebih ketat daripada hukum negara.
S-4091 baru seminggu tinggal di sana ketika ia melihatnya pertama kali. Malam itu, udara lebih dingin dari biasanya, asap menempel di kulit seperti lem kotor. Orang-orang berkumpul lebih rapat, wajah mereka dipenuhi bayangan merah dari nyala api.
Di tengah lingkaran, seorang pria diikat. Tubuhnya kurus, matanya liar. Di dahinya ada tanda bakar berbentuk segitiga—tanda bahwa ia dituduh pengkhianat.
Kuku Hitam berbisik di telinga S-4091, “Lihat baik-baik. Ini pelajaran yang harus kau ingat.”
Pria bertanda segitiga itu menjerit, “Aku bukan pengkhianat! Aku hanya lapar! Aku hanya—”
Sebuah tongkat menghantam mulutnya. Darah menetes, membungkam kata-kata terakhirnya.
Lalu pemimpin Kamp, perempuan tua bertato api di pipi, berdiri. Suaranya berat, serak karena puluhan tahun menghirup asap.
“Di Zonk, kita hanya punya satu pelindung: kebersamaan. Siapa yang menjual informasi ke Sistem, siapa yang mencuri dari sesama, siapa yang lari membawa rahasia—semua sama saja: dibakar.”
Kerumunan mengangguk, seolah ini kebenaran suci.
Api unggun ditambah dengan jerami basah yang cepat menyala. Pria itu diseret ke tengah. Jeritannya pecah, menggema di langit penuh asap. S-4091 menutup wajahnya, tapi suara terbakar itu menembus telinganya, menempel ke dalam otak.
Ketika api padam, hanya tersisa abu. Orang-orang pulang tanpa banyak bicara, seakan baru saja menunaikan ritual biasa.
Malam itu S-4091 tak bisa tidur. Di tenda reyotnya, ia meringkuk, mendengar suara bayangan api masih bergema. Kuku Hitam datang, melemparkan sepotong roti kering.
“Kau takut?” tanya Kuku Hitam.
S-4091 menatapnya, matanya gemetar. “Itu… kejam.”
“Itu perlu,” jawabnya singkat. “Kalau tidak, kita sudah hancur. Ingat, di sini kita bukan manusia bagi Sistem. Kalau kita saling mengkhianati, siapa yang akan tersisa?”
S-4091 terdiam. Kata-kata itu masuk akal, tapi hatinya menolak. Ada sesuatu yang terasa salah. Ia bertanya pada dirinya sendiri: Kalau hukum satu-satunya adalah api, apa bedanya kita dengan mesin yang menghukum tanpa rasa?
Beberapa hari setelah peristiwa itu, kamp dilanda masalah baru. Persediaan makanan menipis, dan kelompok perampok dari Zonk Selatan mulai merangsek mendekat.
Di pertemuan darurat, Kuku Hitam berdiri dan berteriak, “Kalau kita hanya menunggu, kita akan mati kelaparan! Kita harus menyerang duluan!”
Perempuan tua bertato api mengangguk. “Tapi siapa yang berani maju?”
Mata-mata beralih pada S-4091. Ia masih pendatang, masih “bersih”. Belum banyak yang tahu kelemahannya, belum banyak yang curiga.
“Dia,” kata seseorang sambil menunjuknya. “Anak baru itu.”
Jantung S-4091 berdetak kencang. Ia ingin menolak, tapi tatapan semua orang menusuknya. Di Zonk, menolak berarti mencurigakan. Dan mencurigakan bisa berarti menjadi abu.
Kuku Hitam menepuk bahunya. “Anggap ini ujian keduamu. Kalau kau berhasil, kau akan benar-benar jadi salah satu dari kami.”
Malam berikutnya, mereka bergerak dalam bayangan asap. S-4091 berjalan bersama Kuku Hitam dan lima orang lain, menuju gudang kecil milik perampok Selatan.
Di sana, ia akan menemukan bahwa Hukum Bayangan bukan hanya soal api. Ada hukum lain yang lebih kejam—hukum yang memaksa seseorang memilih antara menjadi pelindung atau pengkhianat.
Dan pilihan itu, cepat atau lambat, akan menentukan siapa yang akan tetap hidup di Zonk.
Sebelumnya Selanjutnya
Pembaca Terbanyak
Konflik 50:50 ( Bab ke-2, Tersesat)
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Konflik 50:50 (Bab I Ketika Undangan Datang )
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Konflik 50:50(Bab ke-4, Luka Bima)
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Praktik Bikin Lentho yang Gurih Bikin Nagih
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Konflik 50:50 (Bab ke-3, Kenangan Masa Kecil)
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya

Komentar