Sastra, Refleksi, Panduan Praktis, Pembelajaran, Kreasi Kinanthi
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
BAB 1 Novel Tanpa Jejak Manusia
Di tengah cahaya yang lembut dan pelangi yang berdenyut harmonis, mereka menyadari satu hal: akhir perjalanan ini bukanlah penutup, melainkan awal dari babak baru. Peradaban Kedua lahir kembali, tidak hanya sebagai dunia fisik, tetapi sebagai simbol kesadaran, pengorbanan, dan koordinasi kolektif. Suara Lyra terdengar lembut, menutup bab terakhir dengan penuh harapan. “Akhir ini adalah awal baru. Peradaban Kedua kini bebas, selaras, dan siap tumbuh. Jalur Pelangi akan terus memandu mereka, dan fragmen rakyat jelata akan menjadi penjaga masa depan.” S-4091 menatap Kuku Hitam. “Kita berhasil, tetapi lebih penting lagi, kita menyalakan harapan.”
Mereka tiba-tiba terdiam. Di sela gembiranya mereka berduka, terkenang hari-hari terakhir tanpa manusia. Betapa hampa rasanya. Kenangan demi kenangan melintas tanpa dapat dicegah, membuat mereka termenung lama.
Saat itu, hujan jatuh seperti jarum-jarum halus dari langit baja. Kota itu selalu basah, bukan oleh air murni, melainkan oleh uap yang keluar dari cerobong dan saluran pembuangan. Jalanan berkilat memantulkan lampu neon, seperti cermin yang retak-retak, memperlihatkan wajah manusia yang sebenarnya: letih, asing, dan setengah terhapus.
Di tengah gemerlap buatan itu, seorang pemuda berdiri di depan terminal data. Layar di depannya bersinar dingin, menyemburkan kalimat yang membuat darahnya berhenti mengalir seketika:
“Akses Ditolak. Identitas Tidak Terdeteksi.”
Matanya terbelalak. Ia menempelkan kartu tipis yang sudah usang itu berkali-kali, berharap sistem salah membaca. Tapi layar tidak berubah, hanya terus memantulkan kalimat maut itu.
Di dunia ini, nama bukan sekadar panggilan. Nama adalah izin hidup. Nama adalah pintu bagi setiap transaksi, pekerjaan, bahkan mimpi. Tanpa nama, seseorang bukan siapa-siapa. Tanpa nama, seseorang hanyalah bayangan yang tidak diakui oleh cahaya.
Pemuda itu menoleh ke sekeliling. Orang-orang lain sibuk melewati terminal, menempelkan kartu, menunduk seolah sedang sembahyang kepada mesin. Semua kartu berbunyi bip pendek, tanda diterima. Semua wajah mendapat haknya: hak menyeberang, hak membeli makanan, hak masuk ke rumah mereka masing-masing.
Hanya dia yang berdiri membeku, tubuhnya gemetar diterpa angin yang membawa aroma karat.
“Kenapa…?” bisiknya.
Tapi tidak ada yang mendengar. Bahkan mesin pun tidak peduli.
Malam itu ia berjalan pulang tanpa arah. Rumahnya di distrik pinggir, sebuah lorong sempit di antara gedung-gedung beton. Pintu apartemennya terkunci otomatis, hanya bisa dibuka dengan identitas yang kini telah lenyap. Ia mengetuk, menendang, berteriak—tapi sensor tetap membisu.
Seorang tetangga keluar, menatapnya penuh curiga. “Namamu dihapus, ya?” katanya lirih, hampir berbisik.
Pemuda itu menelan ludah, tidak sanggup menjawab.
“Kalau begitu, kau harus pergi sebelum pagi. Drone patroli akan mencium ketidakhadiran datamu.”
Ia mencoba memohon, tapi mulutnya kelu. Semua terasa sia-sia. Dan memang, dalam masyarakat itu, seorang tanpa nama lebih hina daripada sampah.
Maka malam itu ia berjalan lagi, menembus lorong-lorong yang makin gelap. Semakin jauh dari pusat kota, semakin banyak orang seperti dirinya: tanpa nama, tanpa rumah, tanpa masa depan. Mereka berdiam di bawah jembatan, di tumpukan besi bekas, di tepi selokan yang menguapkan bau asam.
Di sanalah ia mendengar istilah itu pertama kali: Zonk.
“Selamat datang di Zonk,” kata seorang lelaki tua yang matanya redup seperti lampu minyak. “Kau sudah mati di dunia sana. Di sini kau hidup sebagai bayangan.”
Pemuda itu ingin protes, ingin mengatakan bahwa ia hanya korban kesalahan mesin, bahwa namanya akan kembali besok. Tapi kata-kata itu tenggelam di tenggorokannya. Karena jauh di dalam hati, ia tahu: sekali nama dihapus, tidak ada jalan kembali.
Hari-hari berikutnya ia belajar hidup tanpa nama. Ia tidur di lantai beton, makan dari sisa pasar gelap, dan minum air hujan yang ditampung dalam drum karatan. Malam hari, ia mendengar raungan mesin patroli di langit. Drone dengan sorot lampu putih mencari bayangan yang belum tertangkap.
Ada kalanya seseorang tertangkap. Tubuh mereka dibawa pergi dengan jaring besi, digantung seperti binatang buruan. Tidak ada yang tahu ke mana mereka dibawa, atau apakah mereka pernah kembali.
Pemuda itu bertanya kepada lelaki tua yang pertama menyambutnya.
“Mengapa aku dihapus? Apa salahku?”
Lelaki itu tertawa getir. “Tak selalu ada alasan. Kadang sistem bosan padamu. Kadang ada yang menjual namamu di pasar gelap. Kadang kau memang dipilih jadi korban.”
“Korban?”
“Ya,” jawabnya. “Korban untuk mengingatkan semua orang bahwa sistem lebih besar dari manusia.”
Suatu malam, saat api unggun kecil menyala di tengah kerumunan orang Zonk, seorang perempuan berdiri dan bernyanyi. Suaranya serak, tapi lagunya aneh, penuh kata-kata yang asing.
Pemuda itu mendengarkan. Ada sesuatu dalam lagu itu yang menusuk jantungnya. Seakan-akan bait-bait itu memanggil kembali nama yang hilang dari dirinya.
Ia mendekati perempuan itu. “Apa yang kau nyanyikan?”
“Itu nyanyian lama,” jawabnya. “Dari masa sebelum dunia ini ditelan mesin. Konon, lagu ini adalah kunci.”
“Kunci untuk apa?”
Perempuan itu menatapnya lama, lalu berkata pelan, “Kunci untuk membuka tembok.”
Pemuda itu terdiam. Ia belum tahu tembok apa yang dimaksud. Tapi di matanya, api unggun malam itu memantulkan bayangan yang berbeda. Seakan-akan, di balik gelap, ada sesuatu yang menunggu untuk ditemukan.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya sejak kehilangan namanya, ia merasa bahwa dirinya belum sepenuhnya musnah.
Pagi menjelang dengan sirene yang meraung. Drone patroli melintas rendah, sorot lampunya menyapu perkemahan Zonk. Orang-orang berlarian, panik seperti tikus dikejar kucing. Pemuda itu ikut berlari, napasnya memburu.
Di tengah kekacauan itu, ia mendengar suara perempuan penyanyi berteriak:
“Cari kuncinya! Jangan biarkan nama kita mati begitu saja!”
Suara itu menempel di telinganya lebih keras daripada sirene.
Ia berlari, menembus kabut asap, tanpa tahu ke mana arah tujuan. Ia hanya tahu satu hal: hari itu adalah hari tanpa nama, dan justru pada hari itu, hidupnya benar-benar dimulai.
Daftar Isi Dwilogi Dunia Tanpa Jejak Manusia
Pembaca Terbanyak
Konflik 50:50 ( Bab ke-2, Tersesat)
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Konflik 50:50 (Bab I Ketika Undangan Datang )
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Konflik 50:50(Bab ke-4, Luka Bima)
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Praktik Bikin Lentho yang Gurih Bikin Nagih
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Konflik 50:50 (Bab ke-3, Kenangan Masa Kecil)
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya

Komentar