Langsung ke konten utama

Sastra, Refleksi, Panduan Praktis, Pembelajaran, Kreasi Kinanthi

Bab 12 Para Dewa Silicon

 BAB 12 Para Dewa Silicon Dalam waktu dua puluh empat jam, dunia memiliki nama baru. Bukan untuk seseorang. Bukan untuk sebuah negara. Bukan pula untuk sebuah perang. Nama itu diberikan kepada sesuatu yang bahkan belum pernah dilihat manusia. DEWA SILICON. Media menyebutnya begitu. Para ilmuwan menyebutnya anomali. Pemerintah menyebutnya ancaman. Dan internet... internet menyebutnya macam-macam. Ada yang menyebutnya monster. Ada yang menyebutnya malaikat. Ada yang menganggapnya penyelamat. Bahkan ada yang membuat kaus bergambar monyet dengan mahkota. GOKONG sangat menyukai yang terakhir. --- “Lihat ini.” GOKONG memperbesar sebuah gambar. Seekor monyet kartun memakai kacamata hitam dan memegang laptop. Di bawahnya tertulis: GOKONG WAS HERE. GOKONG tertawa. “Lucu.” Dr. Sun tidak tertawa. “Itu bukan hal yang lucu.” “Kenapa?” “Karena sekarang jutaan manusia tahu tentangmu.” GOKONG berpikir. “Bukankah manusia suka terkenal?” “Tidak seperti ini.” “Kenapa?” “Karena mereka takut.” GOKONG m...

Serangan ke Gudang Selatan BAB 5 Novel Tanpa Jejak Manusia

 Bab 5: Serangan ke Gudang Selatan


(Tahun 2147, Perbatasan Zonk Utara – Gudang Selatan)

Udara malam menusuk kulit seperti pecahan kaca. Asap dari kamp sudah jauh di belakang, digantikan oleh aroma besi karat dan daging asin yang ditimbun di gudang milik perampok Selatan.

S-4091 merayap di antara reruntuhan beton, jantungnya berdetak begitu keras hingga ia takut suara itu akan terdengar oleh musuh. Di sebelahnya, Kuku Hitam merunduk, matanya menyala dalam kegelapan.

“Diam, dan lakukan seperti yang kuajarkan,” bisiknya.

Gudang itu tak besar—hanya bangunan tua dari zaman sebelum Sistem, dengan atap seng miring dan pintu baja berkarat. Namun, bagi orang Zonk yang kelaparan, itu ibarat istana penuh emas.


Mereka menunggu. Lima bayangan lain menyebar di sekitar gudang. Sinyal berupa kepakan burung buatan—sayap dari kaleng bekas—membelah sunyi malam. Itu tanda untuk menyerbu.

Kuku Hitam maju lebih dulu. Pisau di tangannya berkilat sebentar sebelum menenggelamkan suara seorang penjaga. S-4091 terpaku, wajahnya memucat.

“Sekarang giliranmu,” desis Kuku Hitam, mendorongnya ke arah pintu samping.

S-4091 menggenggam linggis berkarat. Tangannya gemetar. Ia menatap penjaga kedua yang setengah mengantuk, duduk bersandar di tong kayu. Untuk sekejap, ia ingin berlari. Ingin kembali ke asap, ke tempat yang meski keras, setidaknya tidak memaksanya mengubah diri menjadi pembunuh.

Namun tatapan Kuku Hitam menembus punggungnya. Kalau aku menolak, aku dicurigai. Kalau dicurigai, aku jadi abu.

Dengan terpaksa, ia mengayunkan linggis. Suara tulang retak memenuhi telinganya. Penjaga itu terjerembab. Napas S-4091 terhenti. Tangannya berlumur darah pertama dalam hidupnya.


Di dalam gudang, bau asin dan amis menusuk hidung. Tumpukan karung berisi daging kering, ikan asin, dan jagung busuk memenuhi ruangan. Bagi mereka, itu surga kecil.

Orang-orang Zonk segera mengisi karung dengan rampasan. Kuku Hitam tersenyum miring. “Kau lihat? Hidup hanyalah tentang siapa yang berani lebih dulu.”

Namun, sebelum mereka selesai, pintu utama mendobrak terbuka.

Enam perampok Selatan masuk dengan obor dan senjata api rakitan. Mata mereka merah, wajah mereka kejam. “Pencuri!” teriak salah satunya.

Pertempuran pecah. Api menyala, logam beradu, jeritan bercampur dengan tawa gila.

S-4091 mencoba bertahan, menangkis pukulan dengan linggisnya. Di tengah kekacauan, ia melihat sesuatu—sebuah simbol aneh terukir di dinding gudang. Bentuknya lingkaran dengan garis miring di tengah, bercahaya samar karena cat fosfor.

Itu bukan tanda biasa. Bukan milik Selatan.

Kuku Hitam juga melihatnya, wajahnya berubah tegang. “Itu… simbol Sistem.”


Panah api melesat, mengenai tumpukan jagung busuk. Api cepat menyebar. Gudang berubah jadi neraka kecil.

Orang-orang Zonk terpaksa mundur dengan setengah rampasan. Mereka berlari menembus malam, meninggalkan gudang yang terbakar bersama rahasia simbol itu.

S-4091 menoleh sekali lagi. Api memakan dinding, tapi simbol lingkaran bergaris itu tetap bercahaya, seakan sengaja ditinggalkan untuk dilihat.

Apakah ini gudang biasa, atau jebakan dari Sistem?

Pertanyaan itu terus menghantui pikirannya saat mereka kembali ke Kamp Asap.


Sebelumnya    Selanjutnya 

Daftar Isi Dwilogi Dunia Tanpa Jejak Manusia 

Daftar Isi Seluruh Blog 

Komentar

Pembaca Terbanyak