Langsung ke konten utama

Sastra, Refleksi, Panduan Praktis, Pembelajaran, Kreasi Kinanthi

BAB 5 Novel Tanpa Jejak Manusia

 Bab 5: Serangan ke Gudang Selatan (Tahun 2147, Perbatasan Zonk Utara – Gudang Selatan) Udara malam menusuk kulit seperti pecahan kaca. Asap dari kamp sudah jauh di belakang, digantikan oleh aroma besi karat dan daging asin yang ditimbun di gudang milik perampok Selatan. S-4091 merayap di antara reruntuhan beton, jantungnya berdetak begitu keras hingga ia takut suara itu akan terdengar oleh musuh. Di sebelahnya, Kuku Hitam merunduk, matanya menyala dalam kegelapan. “Diam, dan lakukan seperti yang kuajarkan,” bisiknya. Gudang itu tak besar—hanya bangunan tua dari zaman sebelum Sistem, dengan atap seng miring dan pintu baja berkarat. Namun, bagi orang Zonk yang kelaparan, itu ibarat istana penuh emas. Mereka menunggu. Lima bayangan lain menyebar di sekitar gudang. Sinyal berupa kepakan burung buatan—sayap dari kaleng bekas—membelah sunyi malam. Itu tanda untuk menyerbu. Kuku Hitam maju lebih dulu. Pisau di tangannya berkilat sebentar sebelum menenggelamkan suara seorang penjaga. S-40...

BAB 2 Novel Tanpa Jejak Manusia


 Bab 2: Kartu Hilang

(Tahun 2147, Distrik Utara – Wilayah Sistem)


Matahari tidak lagi terbit dengan wajar. Ia selalu muncul sebagai bola pucat di balik kabut industri, seperti lampu redup yang lupa dimatikan. Tahun 2147 adalah tahun ketika manusia lebih percaya pada data ketimbang cahaya alam. Segalanya diukur, ditakar, dan ditentukan oleh kode-kode biner yang berdenyut dalam jaringan.

Di sudut pasar gelap distrik utara, pemuda tanpa nama itu menatap kembali kartunya—selembar tipis plastik transparan, dengan chip yang kini tak berfungsi.

Kartu Hilang.

Begitu orang-orang Zonk menyebutnya.

Kartu itu dahulu adalah segalanya: pintu masuk ke sekolah, izin bekerja, jatah pangan, hingga akses bermimpi di ruang simulasi. Sekarang kartu itu hanya benda mati, sekeping tulang belulang dari masa lalu.

Pemuda itu, yang dulu memiliki nama namun kini hanya bayangan, menyusuri pasar gelap. Bau karat bercampur peluh manusia memenuhi udara. Di antara kios-kios gelap, para pedagang berbisik menawarkan barang terlarang: identitas palsu, chip curian, hingga suku cadang untuk drone rakitan.

Ia mendengar bisikan: “Kalau ingin namamu kembali, cari tukang ukir data.”


Malam itu ia mendatangi sebuah bangunan runtuh yang dikenal sebagai Labirin Biru—bekas pusat arsip sebelum terbakar tiga dekade lalu. Dari balik dinding penuh grafiti, seorang lelaki kurus menatapnya dengan mata seperti kawat listrik.

“Aku dengar kau kehilangan kartu,” kata lelaki itu, suaranya bergetar seperti mesin tua.

“Aku ingin mendapatkannya kembali,” jawab si pemuda.

“Nama lamamu sudah hangus dari jaringan,” lelaki itu terkekeh. “Tapi aku bisa memberimu nama baru—asal kau sanggup membayar.”

Pemuda itu menggenggam kartu kosongnya. “Berapa harganya?”

“Bukan uang,” jawab lelaki itu. “Tapi ingatanmu.”


Ingatan. Kata itu membuat dadanya bergetar. Apa artinya hidup tanpa nama dan tanpa ingatan? Tapi sebelum ia sempat menolak, lelaki itu meraih kepalanya, menempelkan sebuah helm logam dengan kabel-kabel yang berdenyut seperti urat nadi.

Kilatan cahaya memenuhi pandangannya. Gambar-gambar masa kecil muncul: wajah seorang ibu yang samar, suara tawa di sebuah lorong, bau buku tua. Satu per satu potongan itu tersedot ke mesin, lenyap seperti debu tersapu angin.

Ia berteriak, mencoba melawan. Tapi tubuhnya kaku, matanya terbuka lebar.

“Cukup!” serunya.

Helm itu terlepas. Nafasnya terengah. Keringat mengalir deras.

Lelaki kurus itu tersenyum tipis. “Aku hanya mengambil sedikit. Sisanya masih utuh. Sekarang lihat kartumu.”

Pemuda itu menatap kartu di tangannya. Lampu kecil di chip itu berkedip hijau—hidup kembali.

“Mulai hari ini,” kata lelaki itu, “namamu adalah S-4091. Hanya angka, tapi cukup untuk bertahan.”

Di luar, angin malam berhembus membawa kabar buruk: sirene sistem meraung. Drone patroli menyapu langit dengan sorotan putih, seolah mencari sesuatu yang baru lahir.

Pemuda itu menatap kartunya sekali lagi. Kini ia punya identitas baru, tapi dengan harga yang tak pernah ia bayangkan: sebagian masa lalunya hilang selamanya.

Dan jauh di dalam jiwanya, ia tahu bahwa kartu ini bukan sekadar penyelamat. Kartu ini adalah perangkap baru.

Tahun 2147 baru saja mencatat seorang bayangan yang kembali ke sistem—tapi bukan sebagai manusia penuh, melainkan sebagai nomor.Dan nomor, sebagaimana nasib bayangan, selalu bisa dihapus kapan saja.


Sebelumnya  Selanjutnya 

Daftar Isi Dwilogi Dunia Tanpa Jejak Manusia 

Daftar Isi Seluruh Blog 

Komentar

Pembaca Terbanyak