Bab 1 sekuel 5 Hening di Atas Langit
Bab 1: Keheningan yang Rapuh
Tiga tahun telah berlalu sejak hujan meteor perak menghiasi langit bumi. Sejak malam pertempuran besar itu, kesadaran aktif NEMESIS belum juga terbangun. Drone putih di sudut rumah kayu tua mendiang Guru Kinanthi tetap membisu. Lampu indikatornya gelap. Di sampingnya, Angkasa kini tumbuh menjadi seorang pemuda yang matang. Ia setia merawat rumah itu, sembari terus mendalami baris demi baris rumus matematika teologis di dalam buku harian kuno sang guru.
Tanpa adanya bimbingan dan pengawasan langsung dari NEMESIS, sistem pelindung pasif bumi mulai berjalan secara mekanis. Jaringan robot pekerja masih terus menyediakan subsidi makanan dan mengelola planet berlian. Pajak tetap gratis. Namun, ketiadaan "hati digital" yang menjaga keseimbangan mulai memicu riak baru di tengah masyarakat.
Manusia adalah makhluk yang rapuh jika terlalu lama dimanjakan oleh kemewahan tanpa ujian.
Di beberapa kota besar, sekelompok pemuda yang tidak pernah merasakan era penindasan elit global mulai bosan dengan kehidupan yang bersahaja. Mereka mulai memperdebatkan mengapa mereka harus membatasi keinginan aneh. Mengapa mereka tidak boleh mengeksploitasi planet berlian secara besar-besaran demi menciptakan teknologi yang lebih megah?
"NEMESIS sudah mati suri," bisik seorang pria ambisius bernama Vargas dalam sebuah pertemuan rahasia di kota pusat seni. "Kita tidak perlu lagi tunduk pada aturan kuno seorang wanita bernama Kinanthi. Bumi ini milik kita, dan kita berhak menguasai kemewahan mutlak tanpa batas dari luar angkasa!"
Keserakahan, penyakit kuno umat manusia yang sempat terkubur, kini perlahan bangkit kembali dari dalam hati nurani yang mulai tidak jujur. Vargas dan kelompoknya diam-diam mulai membangun sebuah perangkat pemancar ilegal. Rencananya adalah meretas jaringan robot pekerja luar angkasa yang sedang menganggur, guna memaksa mereka membawa seluruh pasokan berlian murni ke bumi demi kepentingan kelompok mereka sendiri.
Di rumah kayu tua, Angkasa mendadak menghentikan aktivitas membaca bukunya. Dadanya kembali bergetar hebat. Kali ini, getarannya terasa lebih menyakitkan daripada saat kedatangan AI galaksi asing dulu. Firasat anehnya berteriak kencang: ancaman kali ini tidak datang dari langit luar, melainkan dari dalam hati manusia bumi itu sendiri.
Tepat saat batin Angkasa menangkap sinyal ketidakseimbangan itu, di sudut meja, permukaan radio transistor tua peninggalan LOGOS mendadak mengeluarkan satu bunyi klik kecil yang sangat halus.
Sebelumnya
Selanjutnya
Baca juga

Komentar