Puisi Balada Siti Zulaikha
Puisi
Balada Siti Zulaikha
(1)
Siti Zulaikha si cantik serba berkelimpahan
Waktunya hanya untuk tidur, makan, tidur lagi, dan makan lagi.
Suaminya pun berpangkat tinggi, seorang perdana menteri.
Makan, tidur, makan, dan tidur lagi.
Para dayang selalu menemani bahkan saat mandi
Namun Siti Zulaikha merasa hampa sebagai manusia
Ia pun mencari jati diri
Ia tak mau hanya makan, tidur, makan, dan tidur lagi
Sambil berkaca berbangga diri sebagai tuan putri
Yang hidupnya hanya goleran, berdandan, dan bersantai.
Zulaikha pun terpikat
Yusuf muda sang budak penuh semangat
Kendati duka lara disiksa saudara dan dipisahkan dengan orang tua tercinta, masih tersisa.
Derita sebagai budak tak membuat patah semangat menatap masa depan
Zulaikha pun terpikat
Yusuf muda sangat rupawan
Semangat kemudaan Yusuf pun membuatnya lupa
Kebanggaan pamer sebagai isteri perdana menteri
Kenikmatan hidup serba mewah sebagai tuan putri
Yang disegani di seluruh negeri
Bahkan
Keseharian tanpa kesibukan hanya tiduran
Membuatnya seolah bosan begitu Yusuf datang
Yang terasakan hanya ingin bersamanya
Menikmati energi kehidupan dengan segala suka dukanya
Yang membuatnya merasa menjadi manusia seutuhnya
Yusuf ternyata sangat sopan
Ia sadari risiko kenekatan tanpa pikiran
Zulaikha pun gemas
Baju Yusuf ditariknya
Sobek di belakang
Kekecewaan Zulaikha pun kian memuncak
Arogansi tuan putri kembali memenuhi hati
Difitnahnya si budak dengan tuduhan ingin menjahili.
***
(2)
Bukan semata nafsu belaka jika Zulaikha paksa Yusuf bersamanya
Jauh sebelum menikahi perdana menteri ia pernah bermimpi
Wajah tampan rupawan dalam impian ternyata ada pada Yusuf seorang
Pria budak belian yang dibawa pulang suaminya untuk temaninya
Zulaikha malu bukan kepalangUlah menggoda Yusuf ketahuan
Ia pun disidang dan mengelak tuduhan
Perdana Menteri pun kebingungan
Dipanggilah seorang ahli untuk menentukan
“Baju robek di belakang, Tuan. Pertanda Yusuf sesungguhnya si korban.”
Demi reputasi keluarga perdana menteri
Yusuf rela ditahan di penjara
Berbulan-bulan sebagai tahanan
Yusuf pun menafsirkan mimpi baginda
Baginda senang, Yusuf pun dibebaskan.
(3)
Derita Zulaikha masih melanda
Ia dicibir para wanita
Ia menjadi bahan tertawaan dan ejekan
Jatuh cinta pada budak belian tak beruang
Zulaikha pun panas hatinya
Diundangnya semua wanita sosialita pada zamannya
Buah dan pisau menjadi hidangan pembuka
Yusuf pun diminta menjadi pelayan jamuan pesta
Para wanita julid itu pun terpana
Ekspresi terpesona membuat lupa pisau di tangan
Berlagak tak acuh malah mengiris jemarinya
Sedangkan buah di tangan diabaikannya
Zulaikha pun tersenyum penuh kemenangan
Yusuf memang budak belian
Tapi sangat tampan, sopan, dan bertalenta
Mereka pun terpesona seperti Zulaikha
(4)
Yusuf dibebaskan dari penjara
Perdana menteri pun wafat pula
Raja meminta menggantikannya
Hidup menjanda
Zulaikha pun miskin dan menderita
Tak disangka keduanya pun bersua
Sesungguhnya Yusuf pun jatuh cinta pada Zulaikha yang jelita
Tetap jelita meskipun hidupnya telah sederhana
Takdir membuat keduanya bersama dalam keabadian cinta.
(Inspirasi: Surat Yusuf)
QUOTE :
Sesungguhnya cinta tak mengenal tradisi,
yang terlintas hanyalah Kau dan aku menyatu dalam chemistry,
tak ada pula yang akan disakiti, lalu untuk apalagi menyiksa diri,
jika penyatuan merupakan kehendak Ilahi



Komentar