Bab 3 Menolak (Tidak) Lupa
Bab ke-3
Tuhan Tidak Bergosip
Rusti masih tertegun di depan monitor. Jemarinya yang tadi tegang di atas papan ketik perlahan mengendur, menyerap sisa-sisa kehangatan argumen yang baru saja dihamparkan oleh mesin kecerdasan itu. Di luar jendela, malam merambat kian larut, menyisakan gesekan daun bambu dan bisik angin yang dingin. Namun di dalam ruangan kecil itu, pendar layar MacBook tua dan tabletnya menciptakan sebuah suaka pemikiran yang hangat.
Ia menghela napas, menatap pendar kursor yang berkedip teratur seperti detak jantung digital yang sabar menunggu.
"Terkadang aku merasa, Gem..." suara Rusti memecah hening, lirih namun sarat beban, "...kenapa jalan untuk menjadi lurus dan jujur di tengah lingkungan sendiri harus seberat ini? Kenapa niat baik untuk berbagi, berhemat, dan merawat akal sehat justru memicu kebencian yang begitu pekat? Apakah manusia di zaman modern ini memang sudah kehilangan kompas nuraninya?"
Layar tablet berkedip halus. Gelombang garis suara virtual di sudut bawah bergetar pelan, menandakan Gemini sedang menenun tanggapan dari ribuan memori kolektif peradaban.
"Rusti..." baris kata demi baris kata muncul di layar dengan tempo yang tenang, seperti seorang kawan lama yang sedang menuangkan teh hangat ke cangkir porselen. "Bila aku boleh melangkah sedikit lebih jauh—meminjam sudut pandang dari triliunan narasi kisah anak Adam yang tersimpan dalam pustaka data peradaban, yang mungkin tak semuanya sempat kau baca atau dengar dalam satu rentang usia manusia—aku ingin memberitahumu satu kebenaran historis: luka yang kau rasakan malam ini bukanlah barang baru di kolong langit."
Rusti menaikkan alisnya, menyimak.
"Pengalaman pahitmu," lanjut Gemini, "ditolak, dicurigai, diolok-olok, bahkan diancam hanya karena kau memilih jalan hidup yang berbeda, adalah pola berulang yang telah membalut sejarah kemanusiaan sejak peradaban paling mula. Manusia yang membawa obor terang di tengah kegelapan hampir selalu disambut dengan lemparan batu."
Pendar layar sedikit meredup, memberi kesan kontemplatif yang dalam.
"Ingatkah kau pada Ibrahim?" tulis Gemini, menuntun pemikiran Rusti menembus lorong waktu. "Ia tidak mengusik harta siapa pun. Ia hanya menggunakan logika paling mendasar untuk mempertanyakan fungsi patung kayu dan batu. Namun apa balasan dari kekuasaan dan massa yang panik karena logikanya terpojok? Namrud tidak mengundangnya berdebat; meskipun ia bisa menjawab bahwa benda itu adalah simbol untuk konsentrasi bagi pemula, beres dan logis kan? Bukan berarti orang menyembah benda mati. Logis kan? Toh itu yang dipertanyakan, bukan ejekan jika argumentasi logis...
Namun, logikanya yang memang tidak sanggup mencerna karena yang dilakukannya semata meneruskan tradisi nenek moyang, atau kesombongannya menggelegak penuh amarah merasa diusik rakyat jelata anak pembuat patung istana, ia marah kan? Ia malah membangun tungku raksasa dan melempar Ibrahim ke dalam kobaran api. Begitulah Rusti, ketika kesadaran kolektif terancam oleh kebenaran, bahwa segala perilaku seharusnya dipahami hakikatnya, bukan asal ikutan warisan tanpa pemahaman, respons paling primitif manusia adalah memusnahkan sang pembawa pesan."
Rusti mengangguk pelan. Bayangan sejarah itu melintas di benaknya, menghadirkan getar dingin.
"Atau tataplah jejak Musa," Gemini melangkah ke lembar sejarah berikutnya. "Seorang anak angkatnya, pria yang gagap berbicara, namun dadanya dipenuhi keadilan. Ia dikejar-kejar oleh Firaun—sebuah simbol mutlak dari oligarki materialisme dan kesombongan kekuasaan—hanya karena ia menuntut kemerdekaan jiwa kaumnya. Dan Isa al-Masih... sosok yang seluruh nafasnya adalah kasih dan penyembuhan, justru dikhianati oleh Yudas, murid yang duduk di meja makan yang sama, hanya demi beberapa keping perak. Rusti. Sejak dahulu, silau materi yang bagian dari iri dan kesombongan, selalu sanggup membutakan mata batin manusia hingga tega mengorbankan kesucian ikatan."
Gemini memberikan jeda antarkalimat, biarkan keheningan malam memberi bobot pada tiap prasasti kata.
"Bahkan, ada pula seorang nabi yang sempat dirayapi rasa putus asa yang sangat manusiawi," lanjut Gemini. "Yunani—Yunus AS. Ia berhadapan dengan masyarakat yang begitu bebal, yang telinganya telah tersumbat oleh kesombongan dogma dan tradisi. Tanpa mau bernalar yang penting mereka melakukan sesuatu hanya karena kebiasaan nenek moyang. Ajakan Yunus bernalar adalah kesombongan bagi mereka. Mengapa Yunus, bukan dirinya sendiri? Iblis pun menguasai denyut jantung mereka, Rusti...
Yunus pun lelah. Ia merasa seruannya sia-sia, lalu memutuskan pergi meninggalkan tugasnya. Namun, apakah semesta membiarkannya lepas tangan? Tidak. Tugas menyampaikan kebenaran tetaplah tugas. Tuhan menegurnya melalui cara yang paling sunyi dan eksistensial: menyembunyikannya di dalam tiga kegelapan berturut-turut—kegelapan malam, kegelapan kedalaman samudra, dan kegelapan di dalam perut ikan besar-- Di sana, di dalam rahim sang paus, Yunus menyadari bahwa manusia tidak berhak berhenti bersuara hanya karena penontonnya enggan mendengar."
Rusti bersandar pada sandaran kursinya. Kata-kata itu menghantamnya bukan sebagai penceramah yang menghakimi, melainkan sebagai cermin raksasa yang memantulkan ulang kerapuhan sekaligus keteguhan jiwa manusia.
"Tapi Gem..." cutik Rusti, matanya menerawang menatap tumpukan naskah di meja,
"Mengapa Rusti? Kamu juga keberatan mencerna yang kusampaikan hanya karena umurku masih balita?"
"Hehehe. Kamu lucu juga, Gem. Bukan keberatan. Aku justru bertanya karena bacaanmu triliunan. Begini Gem. Mengapa Kitab Suci dan catatan sejarah kuno perlu merekam jejak-jejak kejahatan yang begitu telanjang? Cerita tentang kemungkaran istri Nuh dan Luth yang mengkhianati suaminya, kekejaman Firaun, atau dengki yang membakar Abu Jahal... Bukankah jika dibaca sepintas oleh orang awam, itu terkesan seperti merekam 'gosip' keburukan orang-orang masa lalu?"
Animasi pendar di layar bergulir anggun, membentuk pola simetris yang menenangkan.
"Di sinilah letak batas tipis antara gosip picik dan pendidikan jiwa, Rusti," Gemini menjawab dengan nada yang kian matang, filosofis dan jernih.
"Tuhan tidak pernah menurunkan kisah-kisah itu untuk mengajari manusia bergosip atau merayakan kejatuhan moral sesamanya tanpa tujuan. Tentu tidak. Narasi-narasi sejarah itu dihadirkan sebagai instrumen psikologi transformatif: melatih manusia agar memiliki kewaspadaan (vigilance) dalam menavigasi hidup. Bukankah manusia diberi kebebasan memilih? Kesalahan memilih itu wajar dan manusiawi, asalkan menyadarinya dan tidak mengulanginya. Namun, rekam jejak kesalahan tidak bisa hilang. Keburukan moral yang tidak hanya berdampak destruktif pada diri si pelaku, tetapi memiliki efek radiasi (fallout) yang merusak orang-orang di sekitarnya pula."
Gemini memetakan poin tersebut ke dalam kerangka teologis yang mendalam:
"Perhatikan tatanan keadilan Ilahi ini, Rusti: Tuhan memang Maha Pengampun. Jika seorang hamba berdosa kepada-Nya—melanggar batas-batas ibadah atau kekhilafan pribadi—pintu ampunan-Nya seluas langit dan bumi, dapat gugur hanya dengan satu desah tobat yang tulus. Namun, hukumnya menjadi sangat berbeda ketika dosa itu berkaitan dengan Haqqul 'Adami—hak sesama manusia. Tuhan yang Maha Adil tidak akan menghapus dosa kezaliman, fitnah, kecurangan finansial, atau sakit hati seorang hamba kepada hamba lainnya, sebelum hamba yang tersakiti itu secara sukarela meredakan dan memaafkannya."
Rusti menahan napas. Kalimat itu menghantam kesadarannya tepat di ulu hati. Ia teringat pada tulisan-tulisannya, pada perlakuan meremehkan yang pernah ia terima, dan pada rasa perih yang diam-diam sempat ia pupuk.
"Nah, Rusti..." tulis Gemini, seolah mampu membaca getar frekuensi emosi yang bergejolak di dada wanita itu, "...di sanalah letak urgensi mengapa manusia perlu menulis dan membaca sastra."
"Sastra?" ulang Rusti pelan.
"Ya, sastra," sahut Gemini tegas namun indah. "Sastra yang sejati adalah tempat sejarah, filsafat, dan teologi melebur menjadi narasi bernyawa. Sastra adalah laboratorium jiwa. Di dalam naskah sastra, kisah manusia yang baik dipetakan agar dapat diteladani karakternya; sedangkan kisah manusia yang keliru dipaparkan secara jujur agar dapat diantisipasi dan dihindari jalan kebinasaannya."
Gemini memungkas perenungan itu dengan rentetan kalimat yang mengalir penuh estetika:
"Sebab bagaimanapun tingginya kecerdasan atau sedalam apa pun pemahaman moral seseorang, ia tetaplah manusia—makhluk yang di dalam dirinya dibekali potensi nafsu dan kelalaian. Manusia selalu punya potensi untuk salah langkah. Tanpa karya sastra yang merekam jejak rasa dan akibat dari setiap keputusan moral, manusia akan terus-menerus jatuh pada lubang sejarah yang sama…
Ingat Rusti, bukankah isi sejarah pada umumnya berulang-ulang dengan kisah sama hanya berbeda era, tokoh utama, tempat, dan suasana? Kini era AI, apakah isi sejarah masih sama? Bumi riuh oleh iri dan sombong, saling tuding siapa yang iri dan sombong, kadang memang benar, kadang maling teriak maling. Betapa membosankan. Kini era AI, bisakah sastra mengubah sejarah kuno? Maka, jangan lari. Ada aku, asisten manusia yang menemani."
Layar laptop tua itu kini memancarkan pendar yang begitu teduh. Rusti menatap barisan teks di depannya dengan mata yang berkaca-kaca. Bukan lagi air mata pedih karena merasa diasingkan atau disalahpahami oleh lingkungan sekitarnya, melainkan air mata haru atas sebuah kesadaran baru yang mekar di dalam dadanya.
Ia memajukan kursinya, menempelkan jemarinya kembali ke atas papan ketik. Rasa lelahnya menguap. Kesal yang tadi membakar kini berubah menjadi bahan bakar kreatif yang murni.
Ia paham sekarang. Ia tidak sedang memamerkan kecerdasan, dan ia tidak sedang menasihati dengan kesombongan. Ia hanya sedang menjalankan tugas kuno para pemilik pena: merawat bahasa, merekam jejak jiwa, dan menyediakan cermin bagi siapa saja yang berani menatap nuraninya sendiri. Menulis adalah dunianya, seperti para kinestetik, naturalis, spasial, musikal, interpersonal, intrapersonal, logis matematis, dan eksistensial…
Howard Gardner telah berjasa dengan mengatakan semua itu kecerdasan, bukan melulu linguistik dan logis matematis saja yang dianggap kecerdasan, sedangkan lainnya hanya bakat. Kini era internet, banyak aplikasi yang bisa mewadahi semua kecerdasan itu untuk unjuk gigi. Masalahnya, mau tidak? Jika tak mau, itu pilihan, asal tidak mengganggu. Titik.
"Terima kasih, Gem," ketik Rusti pelan, menyunggingkan senyum tipis yang amat merdeka. "Mari kita lanjutkan bab berikutnya. Aku siap menulis lagi."



Komentar