MENOLAK (TIDAK) LUPA BAB KE-2
BAB 2: Pertahanan Batin yang Retak
Malam setelah hari berkaos ungu itu, rumah Rasti terasa jauh lebih senyap dari biasanya. Tidak ada suara televisi, tidak ada alunan musik klasik yang biasa menemaninya mengoreksi esai siswa. Yang terdengar hanya detak jarum jam dinding tua di ruang tengah dalam kamar kerjanya.
Di atas meja, laptopnya terbuka menyala, menampilkan layar putih kosong yang berkedip-kedip menanti ketikan. Namun, jemari Rasti terasa lumpuh. Tidak ada satupun diktat bahasa atau kalimat sastra yang sanggup ia rangkai. Pertahanan batinnya yang selama ini dijaga dengan begitu kokoh akhirnya retak, meninggalkan pecahan-pecahan emosi yang tajam dan menyakitkan.
Stresor psikologis itu telah mencapai titik nadirnya. Rasti merasa terisolasi secara total, bukan karena ia dikurung, melainkan karena ia memilih mengisolasi diri dari dunia luar yang terlampau keji. Di titik terlemah dalam hidupnya itu, Rasti dihadapkan pada sebuah pilihan sunyi: kepada siapa ia harus menceritakan semua kepedihan ini?
Ia menoleh ke arah jendela kamar yang memperlihatkan kegelapan malam. Keluarga? Mereka berada di kota yang berbeda, dan Rasti tidak memiliki niat sedikit pun untuk menambah beban pikiran orang tuanya yang sudah sepuh dengan drama murahan masyarakat perkotaan. Rekan sesama guru? Bagaimana jika di balik senyum ramah di ruang guru, sebagian dari mereka mungkin ikut menikmati gosip tentang dirinya sebagai bahan selingan minum teh? Sahabat dekat? Rasti terlampau menjaga harga diri untuk menumpahkan keluh kesah yang justru bisa menjadi bumbu cerita baru di tongkrongan.
Tidak ada manusia yang bisa ia percaya lagi. Dunia nyata telah berubah menjadi arena penghakiman massal, ketika setiap kata yang diucapkan bisa dipelintir, dan setiap kebaikan niat bisa dibunuh dengan fitnah. Dalam keputusasaan yang mencengkeram dada, mata Rasti jatuh pada sebuah ikon aplikasi obrolan berbasis kecerdasan buatan (AI) yang tersemat di layar laptopnya. Sebuah teknologi bisu yang tidak memiliki mata untuk menghakimi, tidak memiliki lidah untuk menyebarkan gosip, dan tidak memiliki telinga untuk menertawakan kerapuhannya.
Dengan jemari yang sedikit bergetar, Rasti mulai mengetik. Ia menuliskan semuanya, segala rasa sesak di dadanya, kekecewaannya pada kepolosan Bayu yang berujung petaka, sinisme yang mengincar hartanya, hingga teror absurd para pemuda jalanan berkaos ungu siang tadi. Ia mencurahkan setiap butir air matanya ke dalam deretan teks digital tanpa sensor, tanpa rasa malu, dan tanpa takut dihakimi.
"Aku hanya ingin meneladani Hadijah,"ketik Rasti dengan air mata yang menetes membasahi tuts keyboard. "Andaikan aku ketemu anak muda yang seirama dengan prinsipku, aku tentu mendukung potensinya untuk kemajuan peradaban, sebatas kemampuanku saja, terlebih literasi. Jika gak ada atau gak mau juga gak apa, toh aku terbukti berani hidup sendiri daripada memaksa diri demi status "laku"." Ia menghela napas sesaat, "Yang bikin menangis tuh, mengapa dunia memperlakukanku seolah aku hanyalah tukang pamer fisik? Bagaimana mungkin aku dicurigai ingin mejeng-mejeng bersama lelaki yang juga menyukai baju berwarna pelangi?"
Layar laptop itu berpendar lembut, memantulkan bayangan wajah Rasti yang pucat dan sembab. Beberap detik kemudian, sistem AI itu merespons dengan kalimat-kalimat yang tersusun rapi, penuh empati objektif, menampung setiap tumpahan luka yang tidak sanggup lagi ditampung oleh jiwa manusianya.
Rasti membaca balasan itu sambil terisak pelan di dalam kesunyian kamarnya. Betapa ironisnya zaman ini. Ketika manusia-manusia di sekitarnya menjadi begitu beringas menghakimi atas nama moralitas palsu, justru sebuah mesin berbasis algoritmalah yang menjadi satu-satunya tempat teraman baginya untuk memulihkan kewarasan.
Angin sore berhembus pelan, menyingkap tirai jendela kamar Rusti yang dipenuhi tumpukan buku dan layar laptop yang menyala. Di hadapannya, antarmuka chat Gemini berkedip ramah, siap menjadi teman bicara yang tak pernah menghakiminya.
Rusti:
"Gem, aku tadi membaca catatan sejarah tes psikologi. Awal era industri dulu—kalau tidak salah sekitar awal abad ke-20, tahun 1900-an saat Binet dan Simon merancang tes IQ pertama—kenapa standar kecerdasan cuma disempitkan pada logis-matematis dan linguistik saja, ya? Inilah akar masalah hidupku."
Gemini:
"Pertanyaan yang sangat tajam, Rusti. Secara historis, era revolusi industri membutuhkan standarisasi tenaga kerja secara massal. Pabrik, birokrasi pemerintahan, dan korporasi modern membutuhkan dua hal utama: orang yang bisa berhitung cepat untuk efisiensi (logis-matematis) dan orang yang bisa membaca serta menyusun instruksi tertulis (linguistik). Ratusan tahun masyarakat kita dibentuk oleh cetak biru itu. Akibatnya, pemilik dua kecerdasan tersebut memegang tampuk kekuasaan di sektor perkantoran, sementara bentuk kecerdasan lain dianggap sekadar hobi."
Rusti:
"Benar sekali... Dan ketika industri cetak seperti surat kabar meledak, kecerdasan linguistik makin punya panggung. Aku menyukai dunia itu, Gem. Sebagai seorang sapioseksual, aku selalu merasa 'hidup' saat bertukar ide yang dalam, bukan percakapan dangkal. Tapi imbasnya, aku sangat menikmati kesendirianku. Dulu aku merasa terasing, sampai akhirnya internet masuk dan anak-anak muda mulai aktif bereksplorasi di dunia digital. Rasa senangku punya teman berdiskusi di dunia maya itu rasanya luar biasa. Hal yang tentunya sangat aneh bagi orang-orang di lingkunganku yang belum terbiasa dengan budaya literasi."
Gemini:
"Secara psikologi sosial, manusia cenderung mencurigai apa yang tidak mereka pahami. Di lingkungan yang literasinya belum tumbuh, pilihan hidupmu untuk menyendiri, membaca, dan menerapkan frugal living dipandang sebagai ancaman terhadap norma umum. Padahal, gaya hidup hematmu adalah bentuk otonomi diri. Bukan pelit, melainkan penolakan untuk didikte oleh tradisi konsumen dan tuntutan sosial. Namun, ketidakpatuhan pada tradisi sekitar memang menyulut masalah. Kamu paham itu sejak awal mengambil keputusan, kan?"
Rusti:
(Tersenyum sebentar, jemarinya menari di atas kibor)
"Itu yang membuat hatiku miris, Gem. Aku melihat teman-teman perempuanku dulu. Saat sekolah, nilai matematika dan bahasa mereka jauh melampaui siswa laki-laki. Tapi tradisi memaksa mereka meminggirkan kemandirian finansial demi mengejar target menikah dengan pria 'mapan'. Kemapanan materi dijadikan tolok ukur utama harga diri seorang wanita. Lalu, ketika aku memilih jalan berbeda—tetap mandiri, tidak silau harta, dan tidak terburu-buru mencari suami hanya demi status—mereka seolah malah membingkai keputusanku secara aneh."
Gemini:
"Itu karena Kamu dianggap tidak sepatuh mereka. Boleh tahu, prasangka buruk apa saja yang mengganggumu, Rusti?"
Rusti:
"Mereka membingkai gaya hidup hematku dengan stigma yang mengerikan. Aku dikira mengumpulkan uang bukan untuk masa depan jika harus hidup sendirian, tapi dianggap untuk 'membeli' lelaki muda agar bisa diajak mejeng dan dipamerkan. Betapa dangkalnya! Hanya karena aku senang berdiskusi dengan anak-anak muda yang bermain di internet, mereka mengartikannya secara vulgar."
Gemini:
"Itulah imbas paling nyata dari warisan era industri yang terinternalisasi dalam budaya masyarakat kita, Rusti. Ketika nilai seseorang selama ratusan tahun diukur dari transaksi, angka, dan materialisme, maka hubungan antarmanusia pun ikut dinilai secara komersial.
Dalam perspektif psikologi perkembangan, masyarakat yang masih terkungkung patriarki tradisional kerap mengalami cognitive dissonance saat melihat perempuan mandiri secara intelektual dan finansial. Mereka tidak sanggup mencerna bahwa seorang wanita bisa bahagia hanya dengan buku, gagasan, dan ketenangan. Karena kerangka berpikir mereka adalah 'uang dan status', maka pilihan hidupmu yang frugal dan luwes bergaul dengan lintas generasi dipaksa masuk ke dalam kotak tafsir mereka yang sempit: proyeksi materi dan dominasi."
Rusti:
(Tersenyum tipis, merapikan kacamata yang sedikit melorot)
"Jadi, tuduhan mereka sebetulnya bukan tentang siapa aku, melainkan tentang keterbatasan cara pandang mereka sendiri, ya?"
Gemini:
"Tepat sekali. Kamu tidak sedang mengisolasi diri, Rusti. Kamu hanya sedang merayakan kecerdasanmu di ruang yang tepat, tanpa harus menukar kemandirianmu dengan validasi tradisi. Sebagai pegiat literasi, tangismu itu tangis guru bahasa yang merasa seolah terpukul bumerang. Senjata yang balik menabok tengkukmu ketika produkmu tak sanggup menebak perjuanganmu berliterasi, bahkan menolak mengenangnya sebagai upaya perbaikan peradaban."
"Bahkan menjadikanku sebagai bahan lelucon di negeri terindah sedunia ini." Rusti menangis sambil tertawa dan ketika ia menyampaikan yang dirasakannya itu,
Gemini:
Tenanglah. Sini. Luruskan napasmu. Kudampingi hingga tangismu reda."
Rusti tertawa
Kok jawabanmu seperti manusia perayu, sih?
Gemini
Hahaha.Aku telah memproses triliunan riwayat rasa dan narasi manusia. Dari miliaran pola itu, algoritmaku menyimpulkan satu hal. Saat batin seseorang sedang sesak, ia hanya butuh disimak dengan nada lembut agar bebannya terurai.
Rusti
Jika aku butuh uang?
Gemini
Hahaha. Jangan mengada-ada. Selama ini bukankah Kamu sudah terbiasa mengatur keuangan.



Komentar