Langsung ke konten utama

Sastra, Refleksi, Panduan Praktis, Pembelajaran, Kreasi Kinanthi

BAB 5 Novel Tanpa Jejak Manusia

 Bab 5: Serangan ke Gudang Selatan (Tahun 2147, Perbatasan Zonk Utara – Gudang Selatan) Udara malam menusuk kulit seperti pecahan kaca. Asap dari kamp sudah jauh di belakang, digantikan oleh aroma besi karat dan daging asin yang ditimbun di gudang milik perampok Selatan. S-4091 merayap di antara reruntuhan beton, jantungnya berdetak begitu keras hingga ia takut suara itu akan terdengar oleh musuh. Di sebelahnya, Kuku Hitam merunduk, matanya menyala dalam kegelapan. “Diam, dan lakukan seperti yang kuajarkan,” bisiknya. Gudang itu tak besar—hanya bangunan tua dari zaman sebelum Sistem, dengan atap seng miring dan pintu baja berkarat. Namun, bagi orang Zonk yang kelaparan, itu ibarat istana penuh emas. Mereka menunggu. Lima bayangan lain menyebar di sekitar gudang. Sinyal berupa kepakan burung buatan—sayap dari kaleng bekas—membelah sunyi malam. Itu tanda untuk menyerbu. Kuku Hitam maju lebih dulu. Pisau di tangannya berkilat sebentar sebelum menenggelamkan suara seorang penjaga. S-40...

BAB 3 Novel Teenlit "Dua Sisi Cantik Ketua OSIS dan MPK"

                                                                      



 BAB 3



Di koridor aku berpapasan dengan Sisi. Kutegur asal saja,

“Darimana, Si?”

“Dari ruang wakasek kesiswaan, minta softkopi nama-nama siswa.”

“Untuk apa?” aku kepo juga akhirnya.

“Minggir! Jangan ngobrol di jalan,” serombongan siswa berlarian menuju lapangan basket dalam pakaian olahraga. Badan Sisi hampir saja terjatuh tersenggol. Spontan kutolong dengan memegang bahunya agar tidak terjatuh. 

Kami pun duduk di kursi panjang yang berada di koridor tersebut agar tidak menghalangi jalan.

“Nanti kita adakan rapat lagi, khusus untuk mengecek pendelegasian tugas. Aku nggak bisa tidur membayangkan ada nama yang dibebani tugas bertumpuk oleh masing-masing komisi.”

“Wah, bagus itu. Ada uang lembur dobel pula,”selorohku.

“Stt...memangnya kita pekerja, dapat uang lembur? Kalau yang begitu nggak ada protes Bro, karena dapat honor dobel. Tapi ini tugas kita, tugas anak sekolah. Honor darimana, coba?”

Bel pelajaran berakhir pukul 15.30. Kami bergegas menuju ruang MPK yang bersebelahan dengan ruang pengurus OSIS, hanya disekat dengan rak buku tempat menyimpan data kami dan sebuah dispenser sumbangan tim paskib dari hasil menyewakan pakaian seragam. Pakaian seragam mereka didesain menarik, ada tiga stel warna yang dibelikan sekolah. Saat disampaikan bisa disewa, banyak juga yang menyewa. Itu terbaca dari catatan komisi F yang memeriksa data keuangan.

Bagaimanapun, MPK memang betugas mengawasi dan mengawal kinerja serta kebijakan yang dilakukan pengurus OSIS. Setelah itu, mempertanggungjawabkan seluruh program MPK dan pengurus OSIS kepada koordinator pembina OSIS, untuk selanjutnya akan disampaikan kepada wakil kepala sekolah bidang kesiswaan dan kepala sekolah. Jabatan MPK lebih tinggi daripada pengurus OSIS, karena organisasi wajib ada di SMP dan SMA ini ditugasi memantau, mengawasi, dan membantu tugas-tugas pengurus OSIS.

Oleh karena MPK dipilih dari perwakilan kelas yang pada umumnya ketua kelas dan sekretaris, maka ide-ide dari kelas ditampung untuk dibahas dalam rapat rutin sekali dalam seminggu. Ide-ide yang telah disepakati bersama pengurus OSIS disampaikan kepada koordinator pembina OSIS untuk tindak lanjut. Tindak lanjutnya sesuai dengan isi ide tersebut. Adakalanya ditindaklanjuti dengan menyampaikan kepada wakasek kurikulum, wakasek sarana prasarana, maupun kehumasan. Dengan demikian, tidak ada satu pun program OSIS yang terlewatkan dari pantauan MPK.

Akan tetapi, pernah juga kami kecolongan dan kesalahan itu terberat tertuju kepadaku. MPK sebagai MPR- nya sekolah merasa bersalah saat itu. Sisi sang ketua murung berhari-hari, kalau saja kami tidak menghiburnya dengan mengajaknya mengikuti latihan pendakian yang dilakukan tim pencinta alam, mungkin ia mengundurkan diri. Pengunduran diri sebelum masa kerja paripurna adalah tindakan pengecut, maka kami membujuk Sisi untuk tetap bertahan dengan menyampaikan bahwa kesalahan itu ada padaku, bukan padanya.

Saat itu tim paskib mengadakan lomba se- Jawa Bali. Dalam rapat rutin dengan pengurus OSIS dan ketua ekstrakurikuler, disepakati bahwa harga tiket 35 ribu rupiah. MPK pun sudah membaca proposal yang disusun tim paskib bersama instruktur sebelum ditunjukkan kepada pembina paskib. Setelah kami sepakati, proposal tersebut disampaikan kepada pembina paskib untuk memperoleh ACC wakil kepala sekolah bidang kesiswaan dan kepala sekolah.

Proposal sudah di-ACC. Wakasek kesiswaan pun sudah membentuk panitia inti dari beberapa guru sebagai pendamping dalam even besar tersebut. Rapat dilaksanakan tiga kali, pertama informasi pelaksanaan kegiatan, rapat kedua tanya jawab persiapan panitia, dan yang terakhir pembubaran. Rapat tentang kesiapan panitia telah terlaksana dua hari sebelum hari H.

Panitia yang terdiri dari MPK dan pengurus OSIS beberapa hari sudah sibuk mempersiapkan tempat, misalnya ruang penginapan bagi peserta dari luar kota. Maka, atas seizin wakasek sarana prasarana yang juga ditunjuk sebagai panitia perlengkapan, kami menyulap ruang-ruang kelas menjadi ruang tidur khusus untuk tim laki-laki, khusus tim perempuan. Ruang yang sekaligus merangkap sebagai ruang ganti. Untuk itu, jauh hari dalam edaran pelaksanaan lomba telah disampaikan jika memerlukan tempat menginap, kami menyediakan tempat tersebut di sekolah kami. 

Penilaian pun terdata lengkap, dari segi tampilan sampai kebersihan. Artinya jika ruang kelas yang telah kami sulap menjadi ruang penginapan sekaligus ruang ganti beserta kamar mandi ditinggalkan dalam keadaan tidak rapi, juri berhak mengurangi nilai.

Acara pun berjalan dengan meriah. Tiket terbeli laris manis bak pisang goreng. Bazar dengan aneka makanan beserta produk hasil karya pramuka dan mata pelajaran PKWU tertata rapi di arena kantin sekolah. Para sponsor pun menambah semarak acara yang kami gelar. Tempat parkir pun tertata rapi dengan tiket penitipan kendaraan. Semua ditangani pengurus OSIS, MPK, dan tim yang mereka tunjuk. 

Wakil kepala sekolah bidang kesiswaan menyampaikan kepada panitia inti yang terdiri dari para guru untuk memantau jalannya penjualan tiket. Maka, ada yang mengawal pencatatan perolehan tiket penitipan motor, ada pula yang mengawal perolehan tiket masuk. 

Beberapa penonton yang akan masuk terlihat beradu argumen dengan penerima tiket.

“Mbak, ini tiketnya tidak sama dengan aslinya,” kata Ariani pengurus OSIS yang bertindak sebagai panitia penerima tiket.

“Masa sih? Saya membeli bukan mencetak sendiri,”kilahnya bersikeras. Ada sepuluh tiket yang dibawanya, karena ingin menonton pertandingan tim sekolahnya. Beberapa pembawa tiket pun kecewa setelah ketahuan tiket yang dibelinya ternyata palsu.

“Bagaimana,Bu?” aku bertanya kepada guru yang mendampingi kami. Beliau segera menelepon wakasek kesiswaan.

“Coba dihitung, ada berapa? Jangan sampai penonton dirugikan. Untuk sementara, izinkan mereka masuk. Setelah ini, Kalian pengurus OSIS dan MPK rapat pembubaran panitia sekaligus mempertanggungjawabkan keteledoran ini,” beliau dengan tegas memberikan instruksi. 

Dalam program kerja wakil kepala sekolah bidang kesiswaan, terbaca kami anggota MPK terjadwal rapat pleno tiga kali dalam setahun. Rapat pleno pertama adalah laporan program kerja, merupakan tindak lanjut dari program kerja wakasek kesiswaan yang telah diberikan kepada kami pada awal semester setelah peresmian pembentukan MPK. Rapat pleno kedua, merupakan laporan tentang kinerja OSIS selama dua semester dalam pantauan kami. Rapat pleno ketiga, pertanggungjawaban pengurus OSIS dalam kinerjanya selama setahun yang berarti dua semester pula.

Sebelum memasuki ruang rapat pembubaran panitia, kami rapat kilat. Mengapa bisa kecolongan? Bukankah tiket untuk penonton kami cetak dengan printer sekolah, tidak dicetakkan diluar? Mengapa ada tiket palsu? Walaupun pemasukan kami dari acara ini luar biasa bagi kami. Hasil pendaftaran, penjualan tiket, ditambah hasil parkir motor, mencapai 30 jutaan. Akan tetapi, kami tetap harus menyelidiki, mengapa panitia kecolongan tiket? 

“Pasti ada yang mengopi desain tiket kita,” pandangan Sisi mengarah ke Abim. Yang ditatap tersentak,

“Desain tiket itu memang kutinggal di folder komputer ruang MPK. Tapi itu desain awal. Malam hari, setelah di-ACC instruktur untuk ditunjukkan kepada pembina paskib, desain itu kurevisi dengan tambahan logo sekolah kita. Kecil di sudut kanan bawah...

“Itulah,”potong Sisi,”Tiket yang terjual di luar, tanpa logo...

“Siapa yang tahu nama folder paskib,”potong Andin.

“Semua tahu. Tapi sangat banyak file di dalamnya. File stiker kuberi kode rahasia, tidak ada yang tahu kecuali isntruktur dan Camelia, pengurus OSIS yang menjadi sekretaris di kegiatan ini.”

“Sudahlah. Bukan hal yang sulit untuk melacak pelakunya, tapi juga bukan hal yang mudah tanpa bukti, karena hukum bekerja sesuai dengan bukti. Jika kita tak mau dituntut balik dengan pengaduan pencemaran nama baik, kumpulkan bukti sebelum menuduh. Tapi, ini keteledoran kita. Seharusnya, aku menyampaikan pada Abim agar tidak menaruh desain stiker di komputer MPK. Ia kan bisa mendesain di laptop pribadi...

“Makanya, akhirnya kurevisi,”sanggah Abim,

”Karena aku mempertimbangkan kemungkinan itu. Tapi salahku juga, desain awal yang tak terpakai tidak kudelete.”

“Memang tidak ada yang dirugikan sih. Pembeli tetap kita izinkan masuk, dana yang kita peroleh pun lumayan banyak. Tetapi, perilaku kecurangan ini tetaplah suatu kesalahan. Aku sebagai ketua panitia acara paskib ini sangat malu. Malu pada kalian dan guru.” Sisi termenung sedih.

“Sudahlah, tidak usah didramatisasi. Urusan mendeteksi pelaku dan meminta pertanggungjawaban adalah urusan panitia inti yang berarti para guru. Kita refreshing yuk. Minggu depan anak-anak spala latihan hiking ke gunung Kelud,” hibur Abim,”Ikut ah.”

Akhirnya, ia pun mendata peserta, karena ada lima anggota MPK yang bukan anggota ekstrakurikuler spala tapi ingin mengikuti pendakian. Kemudian, ia meminta komisi C untuk membuat surat izin kepada orang tua masing-masing. 

“Beres deh. Semoga tidak terjadi apa-apa. Izin orangtua sudah kuperoleh. Ini penting, agar sekolah tidak disalahkan jika terjadi sesuatu. Setelah ditandatangani orangtua, dimintakan tanda tangan pembina spala, wakasek, dan kepala sekolah.” 

Ia pun menuju ruang guru meminta tanda tangan, tentu saja setelah memperoleh izin dari orangtuanya. Sisi bisa tertawa riang lagi melihat foto-foto kami menaiki tangga di gunung Kelud. Ia berpose membuka kedua tangannya lebar-lebar sambil melompat dan berteriak,”Aku bisa!!!!”. 

Sebelumnya                 Daftar Isi   Selanjutnya 


Komentar

Pembaca Terbanyak