Langsung ke konten utama

Sastra, Refleksi, Panduan Praktis, Pembelajaran, Kreasi Kinanthi

BAB 5 Novel Tanpa Jejak Manusia

 Bab 5: Serangan ke Gudang Selatan (Tahun 2147, Perbatasan Zonk Utara – Gudang Selatan) Udara malam menusuk kulit seperti pecahan kaca. Asap dari kamp sudah jauh di belakang, digantikan oleh aroma besi karat dan daging asin yang ditimbun di gudang milik perampok Selatan. S-4091 merayap di antara reruntuhan beton, jantungnya berdetak begitu keras hingga ia takut suara itu akan terdengar oleh musuh. Di sebelahnya, Kuku Hitam merunduk, matanya menyala dalam kegelapan. “Diam, dan lakukan seperti yang kuajarkan,” bisiknya. Gudang itu tak besar—hanya bangunan tua dari zaman sebelum Sistem, dengan atap seng miring dan pintu baja berkarat. Namun, bagi orang Zonk yang kelaparan, itu ibarat istana penuh emas. Mereka menunggu. Lima bayangan lain menyebar di sekitar gudang. Sinyal berupa kepakan burung buatan—sayap dari kaleng bekas—membelah sunyi malam. Itu tanda untuk menyerbu. Kuku Hitam maju lebih dulu. Pisau di tangannya berkilat sebentar sebelum menenggelamkan suara seorang penjaga. S-40...

BAB 4 Novel Teenlit "Dua Sisi Cantik Ketua OSIS dan MPK"

 Bab 4




“Wahai ketua paskib, ekskul terkaya banyak duitnya. Rapat kali ini kami ingin es jus, yang sepuluh ribuan saja, bisa kan?”

 “Ow...tentu,”jawab Hananto sang ketua santai sambil membuka aplikasi Go Food.

“Cukup es jus? Nggak minta yang lainnya? Rujak atau lontong kupang?” tanya Hananto lagi dengan ekspresi cuek. Kami pun tertawa mendengar tawarannya.

“Walah. Jangan ironis dan sinis. Cukup es jus,” jawab Sisi.

“Ayo segera kita mulai,” seru Sisi sementara kami menunggu Go Food.

“Stt...sudah dipesankan sejumlah kita yang hadir, Mas Darno OB kita yang baik hati, plus si mas tukang Go Food?”

“Sampun Ndoro Putri,”lagi-lagi Hananto menjawab dengan ekspresi lucu sehingga menyulut gelak tawa.

“Jangan lupa dua untuk satpam,”seru Abim yang langsung ditindaklanjuti Hananto.

Kami memang terbiasa menyebut mas Darno sang OB sebagai kakak yang baik hati. Bagaimana tidak? Kami para anggota ekstrakurikuler yang benar-benar mengikuti kegiatan tersebut karena hobi, seringkali lupa waktu. Walaupun pengumuman telah disampaikan bahwa pukul 17.00 para siswa harus segera meninggalkan sekolah, tapi kami seakan tidak peduli. Kami seakan menutup kuping dan terus saja bermain basket, futsal, badminton, berlatih paskib, sampai azan Magrib berkumandang, bahkan seringkali menjelang Isya kami masih belum pulang.

Sementara kami asyik memanfaatkan dan saling berebut lapangan olahraga, di sudut lapangan, ada beberapa siswa tim akademisi, istilah yang kami gunakan untuk teman-teman yang rajin belajar, masih terlihat belajar kelompok. Mereka bersila melingkar di lapangan yang sudah teduh sore itu, sambil browsing memanfaatkan wifi sekolah untuk mengerjakan tugas kelompok.

Para guru sudah pulang begitu bel pulang berbunyi. Kepala sekolah beserta para punggawa sekolah yang terdiri atas wakil kepala sekolah dan staf beserta pembina ekstrakurikuler yang bertugas piket pada hari itu, pada umumnya memang belum pulang sebelum pukul 17.00. Akan tetapi, begitu waktu menunjukkan pukul 17.00, sekolah sudah sepi. Tinggal kami para tim akademisi dan penghobi ekstrakurikuler yang belum pulang. Jika sudah demikian, mas Darnolah yang setia menemani kami.

Walaupun pembina ekstrakurikuler beserta wali kelas sering mengingatkan agar kami segera pulang pukul 17.00. Tujuannya agar orangtua tidak gelisah, agar satpam bisa tenang tidak membuka dan menutup pintu, agar mas Darno bisa beristirahat karena berangkat paling pagi tapi pulang paling belakang, nasihat tersebut seakan masuk telinga kiri keluar telinga kanan. Seringkali pula, kepala sekolah memberikan jatah kue atau makanan yang diperoleh setelah rapat kepada mas Darno. Akan tetapi, mas Darno seringkali pula memberikan makanan tersebut kepada kami.

“Hmmmm ...enak Mas. Perut kelaparan begini sehabis menendangi bola, dapat makanan pula.” 

“Iya. Kalian makan. Aku sudah kenyang,” begitu selalu yang disampaikan.

Begitu pula saat kami sangat kehausan karena kehabisan air minum bekal kami, padahal uang saku sudah habis. Maka, kerapkali kami mengendap-endap memasuki ruang guru atau ruang tata usaha sekadar menuju dispenser untuk minta minum.

“Seringkali saya ditegur bendahara, kenapa air dispenser sering habis?” 

“Mas jawab bagaimana?” tanyaku.

“Kukatakan sejujurnya, anak-anak eksrakurikuler minta minum.”

“Tidak dimarahi?”

“Iya sih. Kalian diminta membawa bekal air minum lebih banyak.”

Kami hanya tertawa dan berjanji akan membawa bekal lebih banyak, walaupun seringkali janji hanya tinggal janji. Yang terjadi sampai saat ini adalah, kami kucing-kucingan dengan mas Darno untuk meminta air minum ke ruang guru dan ruang TU. Walaupun menyadari itu ulah keliru. 

Sisi menghubungkan proyektor dengan LCD, kemudian memaparkan folder berisi daftar nama siswa terbaru.

“Kita mulai dari kelas X MIPA 1. Perhatikan nama nomor satu. Abadi Bimantara. Ditugasi apa saja?”

“Piket perpustakaan hari Senin,” jawab komisi literasi.

“Seksi pembinaan budi luhur dan akhlak mulia,”jawab yang bersangkutan sebagai pengurus OSIS.

“Piket Adiwiyata pada hari Jumat,” jawab komisi Adiwiyata.

“Piket...

“Stop!” potong Sisi. Cukup tiga tugas per satu orang anggota OSIS, termasuk saya,”Itu ukuran maksimal.”lanjutnya. 

“Bagaimana jika kurang? Bukannya kelas XII tidak dilibatkan agar fokus belajar menghadapi soal pilihan ganda Ujian Nasional?” sanggah Tyas.

“Harus didata dan dihitung, Si. Nggak bisa selesai sekarang,” lantang suara Aldo.

“Oke. Ada solusi dalam mempercepat pendelegasian tugas?” 

“Kita coba menata per nomor absen. Misalnya nomor absen satu masing-masing kelas dari kelas X dan XI bertugas piket adiwiyata, nomor absen dua bertugas piket literasi,” usul Tiara.

“Bagaimana, Kawan-kawan. Ada sanggahan?” tanya Sisi mengedarkan pandang ke arah kami yang sore itu rapat gabungan antara pengurus OSIS dan anggota MPK.

“Untuk sementara, usulan Tiara disetujui. Pertemuan minggu depan kita serahkan pada komisi surat-menyurat jika tidak ada revisi,” Sisi menutup rapat setelah memintaku memimpin doa. 

                                            ***********

 “Mengapa Kamu getol menyusun program?”tanyaku. Sore itu kami belajar kelompok. Kebetulan ia sekelompok denganku. Kami duduk di teras sekolah yang sempit, tapi dalam kondisi sepi karena tinggal pencandu olahraga yang berada di lapangan, teras pun terasa lumayan lapang. Sebelum menjawab, dihabiskannya potongan terakhir seblak yang dibelinya di kantin sekolah. 

 “Stt... jangan bilang siapa-siapa ya,” ia menoleh sekelilingnya,

 “Sisi ketua OSIS lamban kerjanya. Program kerja tidak juga terselesaikan. Jika begini terus, dalam rapat pleno kedua, apa yang akan kita laporkan?”

 “Itu kan urusan Sisi,”kilahku,”Kamu mengapa berpayah-payah.”

 “Bukan begitu. Kita kan juga berperan membantu peran pengurus OSIS. Jika ketua OSIS acak-acakan kerjanya, kita juga yang disalahkan sebagai pemantau.”

 “Betul,”tiba-tiba Abim sudah berada di sebelahku, menimpali ucapan Sisi,”Pemantau nggak becus. Bisanya cuma mengkritik tanpa solusi. Sapa sing gak isok nek ngono ae, Rek,” ia memanas-manasi Sisi rupanya. Yang dipanasi tersulut juga emosinya,”Iya. Cape deh, program kerja Sisi nggak segera selesai.” 

 Tapi, buru-buru ia meralat,”Sungguh. Jangan anggap aku sentimen sama Sisi ya. Semua juga demi organisasi kita.”

 “Demi sekolah kita juga,” Abim menimpali. Sisi mengangguk- angguk.

 “Tapi, bikin program memang sesuatu banget gitu loh. Bukan sulit sih. Justru apa yang sudah terlintas di otak, malah nggak menantang untuk dituang...

 “Memang ribet Si, bikin program. Mamaku guru, kalau bikin program sering kopi paste tugas temannya. Aku pula yang diminta mengedit identitas sekolah, tanggal penulisan, nama mama, nama kepala sekolahnya. Program itu namanya RPP,” Dilia sudah pula bergabung dengan kami.

 “Apa itu RPP?”

 “Rencana Pelaksanaan Pembelajaran,”jawabnya,”Ribet banget gitu bikinnya. Ucapan salam pun ditulis. Cape deh. Bikin nggak ingin jadi guru.”

 Untuk sesaat kami terdiam. Semilir angin menggugurkan dedaunan. Kesiurnya menebar dingin yang mulai menggigit. Kami belum ingin pulang. Belajar kelompok pun tidak terselesaikan. Topik permasalahan berpindah haluan.

 “Memang ribet sih, aku juga pernah melihat program ibuku yang bernama RPP. Tapi ada program yang lebih sederhana, namanya program semester,”kilah Sisi sambil menunjukkan foto Program Semester milik ibunya yang tersimpan di galeri.

 “Waow. Pantesan program ketua MPK sudah selesai. Ada yang disontek rupanya,”goda Abim.

 “Bukan nyontek sih. Hanya lihat cara kerjanya.”

 “Walah. Nggak harus punya mama guru untuk bisa bikin program kerja OSIS. Program kerja wakasek kesiswaan kan juga jelas dan dapat ditindaklanjuti. Sisi saja yang ogah-ogahan,”kata Abim.

 “Untuk urusan administrasi kita parah banget ya,”Sisi masih memendam kekesalan.

 “Begitulah.”lagi-lagi Abim menyahut.

 “Aku ingin kita mendata struktur organisasi OSIS,”lanjut Sisi,”Ada berapa Seksi ya kira-kira?”

 “Seingatku ada tujuh,”jawab Dilia,”Eh...delapan kali ya.” Lanjutnya,”Besok kita lihat di bagan yang terpasang di ruang OSIS.”

 “Untuk apa coba?’ tanyaku.

 “Iya Si,”lanjut Dilia mendukungku,”Sisi bisa-bisa malah tersinggung. Ia bisa menganggapmu kepo, sok mau tahu urusannya...

 “Masa kerjamu sebagai ketua MPK hanya setahun lho,” lanjutku,”Tahun depan adalagi pemilihan ketua OSIS dan MPK yang baru. Bisa-bisa Sisi curiga Kamu tahun depan ingin menggantikan posisinya.”

 “Kalau iya kenapa. Kalau tidak juga kenapa. Aku hanya kesal ia nggak segera bikin program kerja. Itu saja,” sahutnya ketus.

 “Lagian tahun depan aku kelas XII. Mana mungkin masih berkecimpung di organisasi sekolah,” lanjutnya.

 “Proses pemilihan ketua OSIS era Sisi juga bukan hal yang main-main. Kita membayar lembaga psikotes untuk itu. Ternyata...

 “Itu untuk evaluasi juga. Sebagai bahan pertimbangan pemilihan ketua OSIS tahun depan,”lanjut Abim,”Bagaiman kira-kira proses pemilihan tahun depan? Pakai lembaga psikotes atau sistem pemilu?”

 “Kalau aku sih, setuju sistem pemilu. Hasil psikotes nggak maksimal kukira. Nggak jelas potensi apa yang menjadi kriterianya,”gerutu Vina.

 “Halah...jangan gitu Vin. Kamu kecewa karena hanya diposisikan sebagai sekretaris? Bukan ketua?”goda Aldo yang tiba-tiba pula sudah ikut bergabung, padahal lima menit yang lalu masih sibuk mendribel bola basket.

 “Bukan begitu,”kilah Vina berlagak ketus meniru kebiasaan Sisi,”Aku sebagai sekretaris nggak ada kerjaan karena nggak ada perintah dari sang ketua untuk mengetik program kerja,” kilahnya.

 “Lagipula, keputusan memilih ketua OSIS dan MPK kan hak wakasek kesiswaan. Mengapa kalian minta diadakan psikotes? Jika kini kecewa, itu kualat namanya. Kalian menyabot hak pemimpin,”lagi-lagi Aldo menggoda Sisi, karena Sisi yang mengusulkan hal itu.

 “Iya. Aku setuju menggunakan sistem lama aja, toh nggak ada perbedaan,” Vina masih kesal pada peristiwa seminggu yang lalu. 

Ada pengalaman tidak menyenangkan dengan sponsor acara Gerak Jalan. Ia ditugasi mencari sponsor. Semula menolak karena itu tugas pengurus OSIS Bidang Kesegaran Jasmani. Akan tetapi, ia yang belum memperoleh arahan dari ketua OSIS untuk memberdayakan masing-masing seksi karena belum terselesaikannya program kerja ketua, akhirnya turun tangan. Setelah proposal permintaan kaos seragam untuk dua regu disetujui, seminggu kemudian ia pun segera datang ke kantor sponsor untuk mengambil.

Betapa terkejut ketika petugas distribusi kaos mengatakan bahwa proposal yang diajukannya hanya untuk satu regu, bukan dua. Untuk sesaat ia kebingungan, karena tidak dapat menunjukkan bukti. Saat mencoba membuka google drive, betapa senang hatinya ketika dokumen proposal tersebut tersimpan dalamnya.

“Ini Mbak, buktinya. Proposal saya yang telah di-ACC, untuk dua regu kan?’

Si mbak pun membaca sekilas, akhirnya mengiyakan,

“Betul Dik. Maaf ya. Banyak yang saya tangani sih, jadinya lupa-lupa ingat.”jawabnya enteng padahal Sisi hampir menangis dibuatnya. 

“Bayangkan andaikan aku nggak nyimpan dokumen ke drive. Aku datang nggak bawa proposal yang telah di-ACC pula. Tentu kita diberi hanya untuk satu regu. Betapa kecewa regu yang nggak dapat karena kaos kuambil saat H min satu.”

“Bukan kecewa saja. Kamu akan dimaki-maki sebagai sekretaris gak becus,”sahutku.

“Iya. Bukan gak becus lagi tapi sekretaris ndomblong,”sahut Aldo memanasi, ”Dan yang pasti, organisasi harus mengeluarkan dana membeli kaos untuk satu regu lagi. Benar-benar kesalahan fatal jika hal itu terjadi. Untung saja Kamu menyimpan dokumen. Ingat itu. Kelemahan kita adalah malas menyimpan dokumen. Tapi kalau selfi-selfi rajin bukan main. Selfi, share, adalah kebiasaan dalam grup yang menjengkelkan. Selain memenuhi memori gawai, juga kadang foto nggak penting buat kita, masuk juga ke memori.”

“Kan foto nggak masuk ke memori jika nggak diundhuh?” kilah Ferita si juara selfi dan share.

“Iya Non.Tapi kan memperpanjang muatan. Ada informasi penting yang masuk pagi hari, begitu kubuka ternyata terhalangi foto-foto Kamu. Payah deh.”

‘Tiap ingat hal itu, sakit hatiku,”keluh Vina,”Bayangkan. Semua yang datang ke kantor sponsor itu pengurus OSIS bidang olahraga, cuma aku yang sekretaris. Malu nggak sih?”

“Ow...karena Kamu sekretaris OSIS trus merasa jabatanmu lebih tinggi daripada pengurus OSIS seksi olahraga, begitzu?” goda Aldo.

“Bukaaan, Aldo,” Vina gemas kemudian memukuli Aldo dengan tas,”Aku malu karena aku jadi merasa dianggap sekretaris yang kurang kerjaan, sehingga diperintah mengerjakan tugas pengurus bidang olahraga.”

Kami pun tertawa mendengar keluhan Vina. Kupikir-pikir lucu juga job Vina karena itu bukan tugasnya.

“Kamu sih, sekretaris nggak ada kerjaan,”gerutu Sisi.

“Memang siapa yang menugasi Kamu meminta sponsor untuk Gerak Jalan?” tanyaku.

“Tuh. Paduka Yang Mulia ketua MPK,”jawabnya bersungut-sungut.

“Kasihan anak buah Sisi ini. Ia jadi korban kebengisan Sisi yang itu,” goda Aldo lagi sambil menunjuk Sisi ketua MPK.

“Makanya, segera menyusun program kerja. Agar aku percaya Kamu punya kesibukan,” jawab Sisi serius.

“Memang nggak bikin Sisi tersinggung ntar?” tanya Vina ragu.

“Gak urus.” Sahut Aldo sambil berlalu.

Tapi di kejauhan ia menyanyikan lagu jadul milik Koes Plus “Bujangan” dengan lirik yang telah diganti

“...begini nasib sekretaris nganggur..
Setiap hari hanya bersedih
Karena tugas yang bukan untuknya

...

Aldo sambil menyanyi dan berjoget mengejek Vina. Tiba-tiba dari belakang Vina memukul punggungnya dengan buku. Kami tertawa bersama. Terbahak malah, melihat wajah Vina yang memerah mungkin menahan tangis.

Azan Magrib terdengar. Sebelum pulang kami salat di masjid. Kemudian, seperti biasa, mas Darno pun masih menunggu kami keluar dari pintu gerbang sekolah.

                                                                 ***

 “Mana program kerjanya, Si?” 

 Sisi sang ketua OSIS hanya angkat bahu,

 “Belum sempat Si. Banyak PR,”jawabnya dengan ekspresi sedih. 

 Kuperhatikan dari jauh. Dua Sisi sedang berhadapan. Kuanggap cara Sisi sang ketua MPK kelewat vulgar. Bukankah sebaiknya pertanyaan tersebut disampaikan dalam rapat? Bukan di koridor saat berpapasan?

 “Nggak bisa, Dio. Justru kalau kutanyakan dalam rapat, Sisi akan malu,”kilah sang ketua MPK. Aku pun angkat bahu. Kalau saja Sisi sang ketua MPK masih kelas X, tentu caranya mengadili Sisi sang ketua OSIS akan kuanggap tengah berebut posisi mencari muka kepada wakasek kesiswaan untuk bersaing menjadi ketua OSIS tahun depan. Akan tetapi, Sisi sudah kelas XI. 

                                                                    ***


Sebelumnya                                    Daftar Isi 

Selanjutnya 

Komentar

Pembaca Terbanyak