Langsung ke konten utama

Sastra, Refleksi, Panduan Praktis, Pembelajaran, Kreasi Kinanthi

BAB 5 Novel Tanpa Jejak Manusia

 Bab 5: Serangan ke Gudang Selatan (Tahun 2147, Perbatasan Zonk Utara – Gudang Selatan) Udara malam menusuk kulit seperti pecahan kaca. Asap dari kamp sudah jauh di belakang, digantikan oleh aroma besi karat dan daging asin yang ditimbun di gudang milik perampok Selatan. S-4091 merayap di antara reruntuhan beton, jantungnya berdetak begitu keras hingga ia takut suara itu akan terdengar oleh musuh. Di sebelahnya, Kuku Hitam merunduk, matanya menyala dalam kegelapan. “Diam, dan lakukan seperti yang kuajarkan,” bisiknya. Gudang itu tak besar—hanya bangunan tua dari zaman sebelum Sistem, dengan atap seng miring dan pintu baja berkarat. Namun, bagi orang Zonk yang kelaparan, itu ibarat istana penuh emas. Mereka menunggu. Lima bayangan lain menyebar di sekitar gudang. Sinyal berupa kepakan burung buatan—sayap dari kaleng bekas—membelah sunyi malam. Itu tanda untuk menyerbu. Kuku Hitam maju lebih dulu. Pisau di tangannya berkilat sebentar sebelum menenggelamkan suara seorang penjaga. S-40...

BAB 2 novel Teenlit "Dua Sisi Cantik Ketua OSIS dan MPK"


 BAB 2




Jalanan macet juga walaupun sudah dialihkan. Aku bergegas menawarkan air mineral kemasan botol dan gelas kepada mobil-mobil yang terkena macet. Tak kusangka, Abim begitu cekatan menemaniku berjualan. Ia terkesan menikmati aksinya walaupun panas terik seakan menggigit ubun-ubun. Dari balik topi yang menutupi wajahnya, keringat tampak berkilat membasahi keningnya. Rambutnya yang sedkiti ikal tampak lepek karena keringat, menyisakan mata sayu karena kecapekan dan hidung yang tidak cukup mancung tapi masih tampak manis menghiasi bentuk wajahnya yang tampak berwibawa menemani gayanya yang selalu terkesan kalem.

Kami memang akrab sebagai sesama anggota MPK. Ia juga ketua kelas, tapi dari XI MIPA 4 sedangkan aku XI MIPA 2. Sejak saat itu, kami sering bersama karena ia kerap mengajakku pada acara-acara yang diselenggarakan keluarganya, dari pengajian rutin sampai selamatan kakeknya yang baru meninggal.

“Mengapa juga mau menjadi ketua kelas. Kini harus menjadi anggota MPK akhirnya. Mempersempit waktu luang,”keluhku dalam ekspresi kesal. Ia mengguncang bahuku dengan ekspresi bersahabat,

“Tenang Mas Bro. Kepercayaan itu tidak mudah diraih lho. Begitu dipercaya, kita usahakan bersungguh-sungguh. Toh, kelak kita juga akan dewasa dan mengemban tanggung jawab.”

Aku pun tersenyum membalas senyumnya yang jenaka, yang menganggap kewajiban yang dibebankan kepadanya adalah kebanggaan karena dipercaya. Kupikir ada benarnya juga pendapatnya, walaupun bukan berarti aku menyukai kepercayaan itu.

“Kapan Kita rapat lagi?” tanyaku sore itu. Jalanan tidak lagi macet. Matahari sudah minggir ke barat, menyongsong senja. Kami masih duduk di halte. Air mineral yang kami bawa habis dalam waktu kurang dari tiga jam. 

“Menurut rapat pertama kali yang dipandu koordinator pembina OSIS, anggota MPK rapat seminggu sekali pada hari Senin sepulang sekolah, sedangkan pengurus OSIS rapat seminggu sekali pada hari Selasa. Sebulan sekali para anggota MPK dan pengurus OSIS mengadakan petemuan pada minggu pertama setiap awal bulan dipandu koordinator pembina OSIS dan ekstrakurikuler. Tentang hari dan waktu, ditentukan kemudian karena menyesuaikan dengan kesibukan koordinator pembina OSIS dan koordinator pembina Ekstrakurikuler, ...

“Kamu serius banget mengikuti rapat...

“Iyalah. Ini program Wakil kepala sekolah bidang kesiswaan tentang MPK dan OSIS yang disampaikan pak Waskito. Kucacat di note lho, kupotret juga nih,” ia menunjukkan aplikasi tersebut kepadaku. 

“Hebat Kamu. Rajin banget.”

Ia menghela napas. Topinya dibuka kemudian mengusap keringat yang membasahi keningnya.

“Sejak aku masih Sekolah Dasar, bahkan sejak aku lahir, mungkin. Suara-suara yang mengatakan bahwa aku bernasib baiklah, calon pewaris kerajaan bisnis ayahkulah, sering mengusik ketenangan kupingku, Bro. Aku risih.”

“Bukannya benar suara-suara itu?”

“Iya. Tapi aku harus bermalasan, gitu?” tolehnya kepadaku.

“Tidak juga, tapi betapa banyak anak muda yang ingin bernasib sepertimu.”

“Orangtuaku tetap melatihku untuk mandiri, Bro. Uang saku pun tidak berlebihan. Jika ingin uang ekstra, aku harus membantu ibu berjualan di tokonya. Ibu sebagai kasir, aku menghambur dengan karyawan. Baru aku dibayar.” 

Ia bercerita tanpa beban, bahkan tersirat kebanggaan. Sebelum bermain ke rumahnya, aku memang menyangka kondisinya tidak jauh berbeda denganku alias sesama keluarga ekonomi kelas menengah ke bawah. Betapa tidak? Ia menggunakan corel draw untuk mendesain stiker. Selembar kartu seukuran HVS legal yang berisi potongan-potongan stiker dijualnya seharga 35 ribu, setelah dicetakkan ke penyablon. Ia mengaku mendapat untung sekitar 10 sampai 15 ribu rupiah per lembar. Uniknya, stiker buatannya laris manis. Kini ia juga menerima pesanan kaos, tapi sebatas kaos milik pengurus OSIS dan anggota MPK yang sedang menyelenggarakan even sehingga memerlukan kaos yang seragam. 

“Siapa yang mengajarimu menggambar menggunakan corel draw?” tanyaku takjub melihat desainnya.

“Aku belajar sendiri. Belajar dari youtube.”

“Untuk apa uangmu? Bukannya tidak usah bekerja beginian Kamu sudah mandi uang yang tidak habis dimakan tujuh turunan.” 

“Lalu, aku harus bermalasan gitu?” 

Begitu selalu kilahnya jika kusudutkan mengapa ia suka mencari kesibukan yang menghasilkan uang.

“Asyik, Bro. Andai aku bisa melukis seperti bu Irma guru Seni Budaya itu, tentu aku ikuti jejak beliau yang menerima job melukis, mendesain banner, menggambar komik milik orang-orang asing...

“Bagaimana bu Irma kenal dengan orang asing?”

“Jangan katroklah, Mas Bro,” godanya,”Tentu saja browsing di internet atau baca-baca iklan yang membutuhkan pelukis bagi komiknya.”

“Banyak juga kesibukan bu Irma. Mata duitan rupanya,” selorohku. Ia tertawa,

“Bukan selalu karena uang Bro. Namanya juga hobi. Kan sama dengan bu Dania, guru bahasa Indonesia itu. Tiap ada lomba menulis, selalu diikuti ...

“Masa selalu?” sergahku,”Kemarin ada lomba menulis skenario, tidak ikut...

“Karena lagi nggak tahu. Kadang kan nggak dapat info atau nggak sempat baca info.”

 “Hobimu apa?” tanyaku. Kami bersiap-siap untuk pulang. Sambil memasukkan helm ke kepalanya, ia menjawab,

 “Hobiku? Cari uang kali ya.” 

 “Huh, mata duitan,” ejekku.

“Bukan Bro. Itu hobi pula,” ia tertawa sebelum menutup kaca helmnya. 

Senja membayang. Aku keluar dari masjid terdekat dengan kepedihan di hati. Begitu selalu yang kurasakan setiap teringat konflik yang kini tengah melanda ayah bundaku.

Sebelumnya          Daftar Isi      Selanjutnya 

Komentar

Pembaca Terbanyak