Langsung ke konten utama

Sastra, Refleksi, Panduan Praktis, Pembelajaran, Kreasi Kinanthi

BAB 5 Novel Tanpa Jejak Manusia

 Bab 5: Serangan ke Gudang Selatan (Tahun 2147, Perbatasan Zonk Utara – Gudang Selatan) Udara malam menusuk kulit seperti pecahan kaca. Asap dari kamp sudah jauh di belakang, digantikan oleh aroma besi karat dan daging asin yang ditimbun di gudang milik perampok Selatan. S-4091 merayap di antara reruntuhan beton, jantungnya berdetak begitu keras hingga ia takut suara itu akan terdengar oleh musuh. Di sebelahnya, Kuku Hitam merunduk, matanya menyala dalam kegelapan. “Diam, dan lakukan seperti yang kuajarkan,” bisiknya. Gudang itu tak besar—hanya bangunan tua dari zaman sebelum Sistem, dengan atap seng miring dan pintu baja berkarat. Namun, bagi orang Zonk yang kelaparan, itu ibarat istana penuh emas. Mereka menunggu. Lima bayangan lain menyebar di sekitar gudang. Sinyal berupa kepakan burung buatan—sayap dari kaleng bekas—membelah sunyi malam. Itu tanda untuk menyerbu. Kuku Hitam maju lebih dulu. Pisau di tangannya berkilat sebentar sebelum menenggelamkan suara seorang penjaga. S-40...

Novel Teenlit "Dua Sisi Cantik Ketua OSIS dan MPK" Bab 1

 Novel Teenlit 

"Dua Sisi Cantik Ketua OSIS dan MPK

 Bab 1


Jika kepalaku semacam balon, mungkin ia sudah meledak kemudian memuntahkan seluruh isinya. Perbedaannya, balon yang dipanaskan akan meledak karena partikel-partikel di dalamnya memuai akibat tekanan di dalamnya membesar. Dengan kata lain, balon akan pecah saat tidak lagi mampu menahan tekanan. Akan tetapi, isi yang membebani kepalaku bukannya memuai, tapi bertambah dan bertambah jumlahnya. Kepalaku terasa panas kebanyakan isi. Betapa banyak beban yang dijejalkan ke dalamnya. Ibarat lemari, kepalaku serasa sudah penuh sesak isinya.

Adakah yang harus disesali? Misalnya keputusan menerima tugas sebagai ketua kelas? Ketika akhirnya koordinator pembina OSIS mengumumkan pembentukan MPK atau Majelis Perwakilan Kelas, sebagai ketua kelas secara otomatis aku pun terpilih menjadi anggota MPK. Keputusan yang diambil setelah diadakan musyawarah yang dipandu wali kelas. 

Sambil berangkat ke perkemahan bersama teman-teman para pengurus OSIS dan anggota MPK ditambah dengan beberapa panitia Closing Party, kenangan itu kembali berkelebat, menyisakan tekanan yang masih saja membebani isi kepalaku. Isi kepala yang penuh sesak dan kurasakan bak balon yang memuai tinggal menunggu ledaknya. Bayangkan, aku harus berjalan kaki menuju jalan raya dari kompleks perumahan orangtuaku yang lumayan jauh jaraknya dari jalan raya, kira-kira tiga kilometer. Setelah itu, aku harus menunggu angkutan umum menuju lokasi perkemahan, itu pun dengan ransel yang membebani punggungku. 

Tugas-tugas MPK yang baru saja kubaca tergeletak di meja. Aku mengikuti rapat tapi ingatanku melayang pada informasi yang kuperoleh, bahwa besok siang beberapa jalan dialihkan rutenya karena ada pejabat yang akan melakukan kunjungan kerja. 

Setelah rapat, kami tidak segera pulang. Waktu sudah menunjukkan pukul 16. 30. Sekali lagi kulihat struktur MPK yang sudah terbentuk. Yang paling atas tentu saja ketua, wakil ketua, sekretaris, wakil sekretaris, bendahara, wakil bendahara, disusul oleh komisi A yang bertugas menangani budaya literasi dan perpustakaan, komisi B yang menangani bidang ekstrakurikuler, komisi C yang berkecimpung dalam hal surat menyurat termasuk proposal dan data laporan pemenang lomba, komisi D memantau kegiatan adiwiyata, komisi E memantau kondisi dan kebersihan lingkungan termasuk ketertiban pelaksanaan upacara bendera, dan F berkiprah pada penanganan peraturan ADART atau anggaran untuk kegiatan kesiswaan.

Aku gelisah lagi, sebagai komisi B yang menangani ekstrakurikuler, aku harus segera menyusun program yang berkaitan dengan sepak terjang kegiatan ekstrakurikuler. Ada waktu sekitar 30 menit sebelum pukul 17.00 yang berarti ada yang harus segera kuinformasikan. Informasi bahwa seluruh kegiatan ekstrakurikuler harus sudah berakhir sesuai dengan amanat wakasek kaur sarana dan prasarana. Sebagai pengisi waktu, kucoba membuat draft. Kumulai dengan membuka microsoft excel kemudian memberi judul Aktivitas Ekstrakurikuler. Setelah kuberi spasi, aku pun mulai mengisi kolom-kolom. Yang pertama kutulisi dengan kata nomor, kemudian nama masing-masing kegiatan ekstrakurikuler, waktu pelaksanaan kegiatan, acara yang diprogramkan, acara yang terlaksana.

Aku beranjak ke ruang informasi ketika waktu menunjukkan pukul 17.00. Seusai kusampaikan pengumuman bahwa seluruh kegiatan ekstrakurikuler sudah harus berakhir, para siswa diharapkan segera meninggalkan sekolah; aku pun kembali ke ruang rapat.

Di sana, Sisi sang ketua MPK mencegatku,

“Kamu buatlah jadwal...

“Jadwal apa?” 

“Jadwalkan petugas penyampai informasi kapan kegiatan ekstrakurikuler siap dimulai maupun sudah berakhir. Masa Kamu terus? Di sekolah dengan murid seribu lebih ini, janganlah merasa kecapekan...”

“Aku paham maksudmu. Tapi, kan nggak semua ikut ekskul?” kilahku. 

Untuk sesaat ia tidak menjawab,

“Benar juga ya. Kalau begitu, Kamu bisa minta data nama peserta kegiatan ekskul kepada ketua MPK periode tahun lalu...

“Baiklah,”jawabku.

Kami masih tidak segera pulang. Masing-masing pengurus sibuk menyusun draft kegiatan masing-masing. Ada yang mengopi paste dari pengurus tahun lalu, ada pula yang menambah form kegiatan untuk didelegasikan kepada anggota.

Sisi berkeliling mengamati draft kami satu per satu. Duh, gerutuku dalam hati. Galak banget cewek ini. Ia berhenti cukup lama di sebelahku,

“Stt...bukannya format ini sudah dibuatkan oleh koordinator pembina ekstrakurikuler? Awal pembentukan anggota MPK sudah diberikan softkopinya bukan?”

Aku tidak menjawab karena merasa tidak menerima dari teman-teman.

“Saat itu, koordinator pembina OSIS ditemani koordinator pembina ekstrakurikuler menyampaikan program wakil kepala sekolah bidang kesiswaan tentang tugas-tugas anggota MPK,” ia sekali lagi mengamati format buatanku,

“Ok juga sih, kreativitas Kamu. Tapi, kalau sudah ada softkopi mengapa harus membuat lagi?” katanya, sambil menunjuk sebuah kolom,

“Di sini, sebagai komisi bidang ekstrakurikuler, Kamu harus mencatat kegiatan apa saja yang akan dilakukan oleh masing-masing ekstrakurikuler...

“Bagaimana cara memperoleh info itu?”

“Carilah info kepada koordinator pembina ekstrakurikuler tentang nama masing-masing ketua. Kemudian mintalah program dan realisasi program yang telah terlaksana kepada ketua tersebut. Dengan demikian, jika kesiswaan memerlukan data, Kamu bisa segera memberikan informasi.”

Aku mengeluh dalam hati, mengapa juga koordinator pembina ekstrakurikuler tidak mencariku lalu memberikan nama ketua masing-masing ekstrakurikuler, agar dapat kutindaklanjuti pencatatan data itu. Akan tetapi, aku tidak pernah melihat beliau menemani pak Waskito. Sang koordinator pembina OSIS selalu mengadakan koordinasi dengan para anggota MPK maupun pengurus OSIS secara berkala setiap bulan, tapi koordinator pembina ekstrakurikuler tidak pernah hadir menemani. Jangan-jangan pak Waskito tidak mengajak beliau? Tapi mana mungkin? Program kaur kesiswaan sudah sangat jelas dan bagus untuk dilaksanakan, tapi koordinator pembina ekstrakurikuler agak lamban reaksinya, gerutuku dalam hati. Kalau sudah begini, aku sebagai bawahan menjadi tumpuan kesalahan akibat kelambanan ini. 

“Kamu tidak memperhatikan arahan koordinator pembina OSIS sih. Pak Waskito sudah menyampaikan dalam pertemuan rutin bulan lalu, bahwa komisi B bidang ekstrakurikulerlah yang menemui koordinator pembina ekskul untuk meminta format program dan realisasi kegiatan. Kamu malah membuat format lagi. Oke juga sih, hampir sama dengan format buatan Pak Jaka. Langkah selanjutnya, temuilah masing-masing ketua ekskul untuk menanyai program mereka. Dalam rapat koordinasi berkala bulan depan, pak Waskito akan menanyakan data Kamu, untuk dilaporkan kepada wakasek kesiswaan. Dengan demikian, wakasek dapat segera menyusun anggaran kegiatan yang diperlukan ekstrakurikuler,” uraian Sisi sambil membaca fotokopi program kerja wakasek kesiswaan.

 “Tolong. Harap diperhatikan,” suaranya lantang setelah beranjak dari depanku,”Boleh saja menyusun draft tugas-tugas yang akan didelegasikan kepada anggota. Tapi ingat, jangan sampai tumpang tindih. Artinya, satu orang anggota OSIS yang berarti satu orang siswa, karena seluruh siswa adalah anggota OSIS, janganlah dibebani tugas berlebihan. Tolong, draft sebelum diprint dikoodinasikan dengan teman yang lainnya untuk hal ini.”

Kami sibuk dengan format masing-masing sehingga tidak ada yang menjawab.

“Si, jangan galak-galak. Bisa hilang cantikmu,”goda Aldo. 

Sisi tidak menjawab, hanya tersenyum sambil mendongak menatap keluar jendela, menampakkan bentuk hidungnya yang runcing mancung dari samping. Matanya yang bulat tampak berbinar-binar. Satu per satu peserta ekstrakurikuler karate dan badminton yang terjadwal hari Rabu sore itu, keluar dari tempat parkir sambil menuntut motornya menuju pintu gerbang sekolah. 

“Pembiasaan yang baik. Selain hemat BBM, mengurangi polusi suara dan udara, juga ...

“Memperbesar betis,”lagi-lagi Aldo menggoda Sisi disusul tawa kami. Entahlah, tawa kami sore itu meledak seolah menghilangkan ketegangan menyusun draft pendelegasian tugas yang harus segera terselesaikan. 

“Huh...ini gara-gara Sisi. Kita nggak bisa segera pulang,”keluh Rio.

“Bukan dilarang pulang. Mari pulang, asalkan draft segera dikumpulkan selambatnya Jumat,” sahut Sisi.

“Bener lho. Aku sangat mendukung pembiasaan menuntun motor sampai keluar pintu gerbang sekolah.”

“Ide Kamu aneh-aneh.”

“Tapi kepala sekolah mendukung, kan?” sanggahnya lagi.

“Bukan aneh, tapi pembiasaan santun di muka umum,”lanjut Sisi. 

Kami terdiam, tak ada gunanya berdebat untuk masalah ini, toh pembiasaan tersebut memang ide yang oke. Berjalan kaki kurang lebih 500 meter menuju pintu gerbang sekolah, apa susahnya. 

Draftku sudah hampir selesai. Besok akan kutemui mantan sekretaris MPK untuk memperoleh data peserta ekstrakurikuler. 

Kumasukkan tablet ke dalam backpack. Laptop sedang dibawa kakak, sehingga aku membawa tablet dalam rapat MPK sore ini. Sisi akan menegur keras jika dalam rapat kami tidak membawa gawai.

Beberapa teman telah pula beranjak menuju tempat parkir. Yang belum memiliki SIM ada yang masih menunggu jemputan, patungan naik angkutan online jika tempat tinggalnya searah, atau naik ojek.

“Mana saja jalanan yang macet besok, Kawan-kawan?” tanyaku dengan suara keras.

“Aneh. Yang lain bertanya jalan mana yang tidak macet, Kamu malah menanyakan sebaliknya?” Shinta keheranan.

“Ada deh,” sahutku.

Sambil melangkah gontai menuju tempat parkir, Abim mendekat dan berbisik,

“Bagaiman niat Kamu kemarin, akan Kaulaksanakan?”

“Tentu.”

“Baiklah. Kubantu dan kutemani.”

“Lalu?” Aku keheranan. 

“Betulkah?” ulangku.

“Betul.”


Bab selanjutnya 



Daftar Isi 

Komentar

Pembaca Terbanyak