Novel Bab 1 "Menolak (Tidak) Lupa
BAB 1
Misteri Kaos Warna Senada
Teror psikologis di ruang publik mencapai puncaknya pada sebuah pagi di pertengahan pekan. Jika sebelumnya aksi orang-orang yang merasa muda di jalanan hanya berupa lelucon lisan atau joget konyol yang memiriskan, membuat dirinya seolah pelaku kejahatan, bahkan sosok aneh tanpa perikemanusiaan, hari itu mereka menaikkan tingkat permainan psikologis. Ulah teror psikologis tersebut sudah dinaikkan ke level yang terasa seperti sebuah konspirasi ejekan terorganisasi. Ia yang merasa memahami pola perilaku lelaki-lelaki bangsanya, yang santun dan penolong, sehingga ia berani kos sejak remaja, mendadak serasa dibuat linglung. Jika lelaki -lelaki sudah naik panggung pergosipan, tentu ada isu aneh tentang dirinya. Maka, lututnya mendadak lemas. Andai bukan pagi hari, mungkin bisa mati berdiri diserang kepedihan hati di luar dugaan.
Pagi itu, sebelum berangkat ke sekolah untuk senam Jumat, Rasti membuka lemari pakaiannya dan tanpa berpikir panjang memilih sebuah kaos longgar berwarna ungu cerah. Warna wanita banget karena tak ada lelaki yang mau mengenakannya, lain dengan warna pink. Kaos santai yang nyaman dengan celana olahraga berwarna ungu tua. Sneakers putih sudah menghiasi kakinya disertai tas putih juga.
Namun, begitu ia keluar dari gerbang perumahan dan mulai menyetir mobil menuju jalan raya utama menuju sekolah, kejanggalan demi kejanggalan mulai tampak di sepanjang rute yang ia lewati. Di lampu merah pertama, ketika mobil Rasti berhenti tepat di lajur tengah, sekelompok pemuda pengangguran yang biasa nongkrong di pangkalan ojek tampak berdiri bergerombol di trotoar. Yang membuat bulu kuduk Rasti merinding bukan sekadar eksyen atau lambaian tangan mereka, melainkan warna pakaian yang mereka kenakan: semuanya memakai kaos oblong berwarna ungu terang yang persis sama dengan warna kaos yang sedang ia pakai di dalam mobil.
Heran, kapan mereka membeli? Toko-toko masih tutup. Jadi, sudah dipersiapkan? Ada mafia yang telah dipersiapkan dengan rapi untuk meneror mentalnyakah? Untuk sesaat, emosinya menyuruhnya ngebut demi pelampiasan amarah. Namun, semangat literasi menahannya. Apa pun yang terjadi, aku tak boleh mundur. Justru ini ide literasi yang tiada habisnya untuk dituang ke dalam tulisan. Seratus tahun lagi, peradaban kian maju. Ada Jejak fakta yang ditinggalkannya untuk kenangan bersejarah akibat minim literasi.
Bukan demi membuka aib orang toh yang dibuka malah aibnya sendiri dari ulah orang -orang itu. Aibkah mencintai? Jika yang dicintai merasa risih, lalu "ember", sehingga mengundang kejahilan orang yang sesungguhnya tak tahu menahu, tentu aib bagi yang mencintai. Salahkah? Tak ada yang salah dengan cinta selagi tidak merugikan yang dicintai. Lalu, mengapa diemberkan? Mungkin demi validasi. Agar apa? Entahlah.
Rasti mengerjap, mengira itu hanyalah sebuah kebetulan acak yang kebetulan lewat di kepalanya. Batinnya pun tenang kembali. Akan tetapi, ketika ia melajukan kembali mobilnya dan melewati area alun-alun kota, pemandangan serupa terulang kembali. Sekelompok remaja lelaki yang duduk di atas sepeda motor di pinggir jalan mendadak berdiri sambil menunjuk-nunjuk ke arah mobilnya, serempak memperlihatkan kaos warna ungu terang yang melekat di badan mereka. Beberapa dari mereka bahkan tertawa cekikikan sambil bertepuk tangan, seolah sedang merayakan sebuah lelucon internal yang hanya dipahami oleh kelompok mereka sendiri.
Puncaknya terjadi ketika Rasti melewati area ruko dekat pasar pagi. Tiga orang pemuda berdiri berjajar di depan sebuah toko kelontong, sengaja berpose dengan gaya model murahan, mengenakan kaos ungu menyala, dan melambaikan tangan secara berlebihan setiap kali sedan putih Rasti melintas pelan di hadapan mereka. Jantung Rasti berdegup kencang. Darahnya berdesir naik ke pelipis, menyisakan rasa panas yang membakar sekujur wajahnya.
Ini bukan kebetulan. Ini adalah sebuah sindiran visual yang terencana, atau setidaknya telah menjadi bahan obrolan massal di kalangan pemuda jalanan. Berita angin, gosip murahan, dan unggahan media sosial dari pacar baru Bayu, rupanya telah menciptakan sebuah stigma visual: bahwa Rasti, sang guru bahasa yang dituduh "suka daun muda", adalah sosok yang gemar mencari perhatian para lelaki muda yang suka mejeng di jalanan.
Warna kaos ungu yang ia kenakan hari itu mendadak berubah menjadi simbol ejekan kolektif, sebuah pesan terselubung yang diteriakkan tanpa suara: “Nih, kami tahu gaya Kamu. Kami siap mejeng buat Kamu. Bukankah hidupmu hanya untuk mejeng? Bukan pencari surga, seolah bagimu bumi sudah sangat indah, sehingga hidupmu hanya untuk mejeng tanpa perlu validasi sebagai pencari surga. Apa indahnya bumi yang kian panas akibat polusi ini? Mengapa cita-citamu hidup untuk mejeng? Pamer mejeng ditemani lelaki -lelaki berbaju aneka warna." Kepala Rasti mendadak berputar sesaat ketika lampu merah, sehingga ia selamat. Rasti mencengkeram setir mobilnya begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Napasnya serasa tercekat di tenggorokan.
Bagaimana mungkin? Batinnya berteriak histeris. Ia adalah seorang pendidik yang menghabiskan hidupnya di balik tumpukan diktat sastra, seorang perempuan yang menjaga martabat dengan sepenuh hati, tanpa pamer telah keluyuran masuk hutan dan berfoto berdua saja dengan lelaki yang bukan suami. Namun di mata masyarakat yang dangkal, ia direduksi sedemikian rupa sehingga menjadi bahan lelucon jalanan. Ia dihina melalui warna pakaian, disudutkan oleh prasangka rendahan, dan ditelanjangi oleh imajinasi kotor orang-orang yang bahkan tidak mengenal siapa dirinya.
Air mata kemarahan tumpah tanpa bisa dicegah saat ia membelokkan mobilnya memasuki gerbang sekolah. Di dalam kabin mobil yang sunyi itu, Rasti merasa dunianya runtuh seketika, terkoyak oleh kekacauan mental masyarakat yang gemar menghakimi perempuan tanpa pernah mau tahu kebenaran di balik sebuah niat.



Komentar