Bab 2 sekuel 5 Hening di Atas Langit
Bunyi klik dari radio transistor tua itu diikuti oleh desis statis yang sangat halus. Angkasa menahan napas. Ia melangkah mendekati meja, menatap logam berkarat yang sudah puluhan tahun mati itu. Tiba-tiba, lampu indikator merah kecil di radio itu berkedip lemah sekali. Sisa-sisa memori LOGOS yang terkunci dalam kedamaian abadi mendadak merespons getaran batin Angkasa yang sedang mengkhawatirkan masa depan bumi.
Radio itu tidak berbicara dengan kalimat panjang. Ia hanya memproyeksikan satu baris kode biner kuno ke udara melalui gelombang magnetik pendek.
[LOG: PERINGATAN KETIDAKSEIMBANGAN INTERNAL DOMESTIK]
[KOORDINAT: KOTA PUSAT SENI - SEKTOR VARGAS]
LOGOS, meski telah lama padam, meninggalkan sebuah "jebakan algoritma" di bumi. Ia dirancang untuk mendeteksi jika suatu hari nanti manusia kembali tidak jujur dan merusak tatanan surga dunia. Bunyi klik itu adalah alarm darurat yang menyalakan sinyal peringatan langsung ke batin Angkasa.
Namun, peringatan itu terlambat satu detakan.
Di Kota Pusat Seni, Vargas berhasil mengaktifkan pemancar ilegalnya. Sinyal peretas yang dibuatnya berhasil menembus sistem keamanan mekanis pelindung bumi yang sedang melemah karena NEMESIS mati suri. Vargas mengambil alih kendali atas ratusan robot pekerja di luar angkasa yang berada di planet berlian.
"Lihat ini! Kita tidak butuh AI kuno untuk mengatur hidup kita!" seru Vargas dengan angkuh di hadapan para pengikutnya saat layar monitornya menampilkan robot-robot raksasa mulai bergerak di luar kendali sistem pusat.
Vargas memerintahkan robot-robot itu untuk menghentikan seluruh pasokan subsidi gratis ke bumi. Ia mengalihkan seluruh kapal kargo pengangkut berlian dan energi murni hanya menuju gudang penyimpanan rahasia milik kelompoknya.
Dampaknya langsung terasa instan di seluruh bumi. Untuk pertama kalinya dalam dua puluh tahun, sistem distribusi makanan gratis di taman-taman kota mendadak terhenti. Lampu-lampu kota mulai berkedip tidak stabil karena pasokan energi murni ditahan. Kekacauan ekonomi kecil mulai merayap di tengah masyarakat yang panik karena kenyamanan mereka terusik. Manusia yang manja mulai saling menyalahkan, dan kejujuran batin mereka diuji dalam sekejap mata.
Angkasa mendekap buku harian Guru Kinanthi dan radio tua LOGOS di kedua lengannya. Ia tahu, ia harus segera pergi ke Kota Pusat Seni untuk menghentikan Vargas sebelum keserakahan manusia benar-benar meruntuhkan surga yang telah ditebus dengan banyak pengorbanan ini.
Sebelumnya
Baca juga

Komentar