Sastra, Refleksi, Panduan Praktis, Pembelajaran, Kreasi Kinanthi
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
BAB 8 Novel Tanpa Jejak Manusia
(Tahun 2147, Zonk Utara – Perbatasan Kabut)
Sejak malam ia menyentuh simbol, dunia tak lagi sama bagi S-4091. Setiap langkah di tanah penuh debu terasa seperti langkah seekor tikus di dalam labirin. Ia mulai memperhatikan pola: bagaimana makanan selalu datang setelah penderitaan puncak, bagaimana musuh muncul tepat saat keputusasaan melanda, bagaimana hukum api di Kamp Asap menciptakan kepatuhan buta.
Semua itu bukan kebetulan. Itu rekayasa.
Kuku Hitam duduk bersandar di tembok runtuh, mengasah pisaunya. “Aku pernah mendengar bisikan serupa,” katanya tanpa menoleh. “Bukan dari tanah, tapi dari mimpi. Aku melihat garis-garis cahaya yang bergerak di langit, membentuk dinding tak terlihat. Sejak itu aku tahu: kita semua terjebak.”
“Dinding tak terlihat?” tanya S-4091.
“Ya. Mereka menyebutnya Batas Kabut. Kalau kau berjalan terlalu jauh ke utara, kau akan menemui kabut tebal. Orang-orang bilang itu kabut alami, tapi aku pernah lihat batu yang dilempar ke dalam kabut itu… berhenti di udara. Menghilang, seakan ditelan kaca raksasa.”
S-4091 merinding. Jadi benar, dunia mereka mungkin hanyalah arena tertutup.
Malam berikutnya, mereka berdua nekat menuju utara. Di balik hutan mati, mereka sampai di sebuah lembah yang sunyi. Dan di sana, kabut berdiri seperti dinding putih menjulang, tak bergeming oleh angin.
Kuku Hitam melempar batu. Seperti yang ia katakan, batu itu melayang sebentar lalu lenyap tanpa suara. Tak jatuh, tak memantul. Hilang.
“Apa yang ada di baliknya?” bisik S-4091.
“Entahlah,” jawab Kuku Hitam. “Mungkin ruang kosong. Mungkin ruangan putih seperti yang kau lihat. Atau mungkin… mata yang sedang mengawasi.”
Saat mereka kembali ke kamp, orang-orang sedang ribut. Ada seorang anak kecil, putra salah satu keluarga, hilang. Jejak kakinya mengarah ke utara, ke Batas Kabut.
S-4091 dan Kuku Hitam ikut mencari. Di dekat dinding kabut, mereka menemukan sandal kecil anak itu. Tak ada tubuh, tak ada darah. Hanya simbol lingkaran bergaris, terukir segar di tanah di sebelah sandal.
Cahaya hijau merembes lagi. Dan kali ini, bukan suara netral yang terdengar. Tapi suara anak itu sendiri, bergetar dari dalam kepala S-4091:
"Aku tidak hilang. Aku dipanggil."
S-4091 terpaku, jantungnya seolah berhenti. Kalau anak itu bisa “dipanggil” masuk ke balik kabut, berarti ada jalan lain keluar dari labirin ini.
Namun pertanyaan yang lebih menakutkan muncul:
Apakah keluar berarti bebas… atau hanya memasuki tahap percobaan berikutnya?
Sebelumnya Selanjutnya
Pembaca Terbanyak
Konflik 50:50 ( Bab ke-2, Tersesat)
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Konflik 50:50 (Bab I Ketika Undangan Datang )
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Konflik 50:50(Bab ke-4, Luka Bima)
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Praktik Bikin Lentho yang Gurih Bikin Nagih
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Konflik 50:50 (Bab ke-3, Kenangan Masa Kecil)
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya

Komentar