Langsung ke konten utama

Sastra, Refleksi, Panduan Praktis, Pembelajaran, Kreasi Kinanthi

BAB 9 Novel Tanpa Jejak Manusia

  Bab 9: Anak yang Dipanggil (Tahun 2147, Zonk Utara – Dekat Batas Kabut) Suara anak itu masih bergema di kepala S-4091: "Aku tidak hilang. Aku dipanggil." Ia gemetar, menoleh ke Kuku Hitam, tapi wajah lelaki itu hanya membeku, matanya menatap dalam ke arah simbol bercahaya di tanah. “Kalau suara itu nyata,” kata Kuku Hitam perlahan, “maka anak itu tidak mati. Dia sudah… berpindah.” Kabar lenyapnya anak menyebar cepat di Kamp Asap. Tangisan ibunya menghantui malam. Orang-orang berdesakan, berbisik bahwa Sistem kini menculik, bukan hanya mengamati. Perempuan tua bertato api akhirnya berdiri di tengah kerumunan. “Ini tanda buruk. Dulu Sistem hanya menonton dari jauh. Kini mereka masuk ke tubuh dan suara. Kita harus pindah sebelum satu per satu dari kita hilang.” Namun Kuku Hitam menentang. “Kalau kita kabur, kita hanya menunda. Mereka akan tetap menemukan kita. Aku bilang: kita kejar anak itu. Kita tembus kabut.” Kerumunan terbelah. Ada yang memaki, ada yang setuju. S-4091 diam...

BAB 8 Novel Tanpa Jejak Manusia

 Bab 8: Labirin yang Tak Terlihat

(Tahun 2147, Zonk Utara – Perbatasan Kabut)

Sejak malam ia menyentuh simbol, dunia tak lagi sama bagi S-4091. Setiap langkah di tanah penuh debu terasa seperti langkah seekor tikus di dalam labirin. Ia mulai memperhatikan pola: bagaimana makanan selalu datang setelah penderitaan puncak, bagaimana musuh muncul tepat saat keputusasaan melanda, bagaimana hukum api di Kamp Asap menciptakan kepatuhan buta.

Semua itu bukan kebetulan. Itu rekayasa.


Kuku Hitam duduk bersandar di tembok runtuh, mengasah pisaunya. “Aku pernah mendengar bisikan serupa,” katanya tanpa menoleh. “Bukan dari tanah, tapi dari mimpi. Aku melihat garis-garis cahaya yang bergerak di langit, membentuk dinding tak terlihat. Sejak itu aku tahu: kita semua terjebak.”

“Dinding tak terlihat?” tanya S-4091.

“Ya. Mereka menyebutnya Batas Kabut. Kalau kau berjalan terlalu jauh ke utara, kau akan menemui kabut tebal. Orang-orang bilang itu kabut alami, tapi aku pernah lihat batu yang dilempar ke dalam kabut itu… berhenti di udara. Menghilang, seakan ditelan kaca raksasa.”

S-4091 merinding. Jadi benar, dunia mereka mungkin hanyalah arena tertutup.


Malam berikutnya, mereka berdua nekat menuju utara. Di balik hutan mati, mereka sampai di sebuah lembah yang sunyi. Dan di sana, kabut berdiri seperti dinding putih menjulang, tak bergeming oleh angin.

Kuku Hitam melempar batu. Seperti yang ia katakan, batu itu melayang sebentar lalu lenyap tanpa suara. Tak jatuh, tak memantul. Hilang.

“Apa yang ada di baliknya?” bisik S-4091.

“Entahlah,” jawab Kuku Hitam. “Mungkin ruang kosong. Mungkin ruangan putih seperti yang kau lihat. Atau mungkin… mata yang sedang mengawasi.”

Saat mereka kembali ke kamp, orang-orang sedang ribut. Ada seorang anak kecil, putra salah satu keluarga, hilang. Jejak kakinya mengarah ke utara, ke Batas Kabut.

S-4091 dan Kuku Hitam ikut mencari. Di dekat dinding kabut, mereka menemukan sandal kecil anak itu. Tak ada tubuh, tak ada darah. Hanya simbol lingkaran bergaris, terukir segar di tanah di sebelah sandal.

Cahaya hijau merembes lagi. Dan kali ini, bukan suara netral yang terdengar. Tapi suara anak itu sendiri, bergetar dari dalam kepala S-4091:

"Aku tidak hilang. Aku dipanggil."

S-4091 terpaku, jantungnya seolah berhenti. Kalau anak itu bisa “dipanggil” masuk ke balik kabut, berarti ada jalan lain keluar dari labirin ini.

Namun pertanyaan yang lebih menakutkan muncul:

Apakah keluar berarti bebas… atau hanya memasuki tahap percobaan berikutnya?


Sebelumnya    Selanjutnya 

Daftar Isi Dwilogi Dunia Tanpa Jejak Manusia 

Daftar Isi Seluruh Blog 

Komentar

Pembaca Terbanyak