BAB 9 Novel Tanpa Jejak Manusia
Bab 9: Anak yang Dipanggil
(Tahun 2147, Zonk Utara – Dekat Batas Kabut)
Ia gemetar, menoleh ke Kuku Hitam, tapi wajah lelaki itu hanya membeku, matanya menatap dalam ke arah simbol bercahaya di tanah.
“Kalau suara itu nyata,” kata Kuku Hitam perlahan, “maka anak itu tidak mati. Dia sudah… berpindah.”
Kabar lenyapnya anak menyebar cepat di Kamp Asap. Tangisan ibunya menghantui malam. Orang-orang berdesakan, berbisik bahwa Sistem kini menculik, bukan hanya mengamati.
Perempuan tua bertato api akhirnya berdiri di tengah kerumunan. “Ini tanda buruk. Dulu Sistem hanya menonton dari jauh. Kini mereka masuk ke tubuh dan suara. Kita harus pindah sebelum satu per satu dari kita hilang.”
Namun Kuku Hitam menentang. “Kalau kita kabur, kita hanya menunda. Mereka akan tetap menemukan kita. Aku bilang: kita kejar anak itu. Kita tembus kabut.”
Kerumunan terbelah. Ada yang memaki, ada yang setuju.
S-4091 diam, tapi hatinya terbelah dua: takut kehilangan semua orang, namun juga tak tahan membiarkan seorang anak kecil sendirian di balik kabut itu.
Malamnya, ia terbangun oleh bisikan lembut. Suara anak itu lagi, tapi lebih jelas.
"Aku di sini. Jangan takut. Mereka memberiku cahaya. Aku bisa melihat dunia yang lebih besar…"
S-4091 duduk tegak, keringat dingin membasahi leher. Ia merasa suara itu bukan mimpi—tapi transmisi, seolah pikirannya dijadikan antena.
Ia keluar tenda, dan menemukan ibunda anak itu duduk memeluk sandal kecil yang tertinggal. Matanya bengkak.
Air mata perempuan itu jatuh lagi, tapi kali ini bercampur secercah harapan.
Kuku Hitam tersenyum tipis. “Kalau begitu, kita punya pilihan. Kita bisa tetap jadi penonton yang menunggu giliran dicuri kabut. Atau kita jadi pencari, masuk ke sana, mencari tahu apa arti ‘dipanggil’ itu.”
S-4091 menelan ludah. Pilihan itu terasa seperti pintu yang tak bisa ditutup kembali.
Sebelumnya Selanjutnya
Daftar Isi Dwilogi Dunia Tanpa Jejak Manusia

Komentar