Konflik 50:50 (Bab 10: Pelarian)

 



Konflik 50:50



    Bab 10 (Pelarian 

     

Matanya kemudian tertuju pada bangku barisan tengah. Di sana Dania sedang sibuk mencatat penjelasan pembimbing dengan wajah polosnya. Dania adalah gadis sebaya, tidak menuntut kemapanan, dan tidak dikelilingi oleh saingan-saingan sarjana yang tangguh. Di sana, Bima merasa posisinya akan aman. 

Sore itu, keputusan fatal mulai diambil. Bima memilih melangkah mundur dari Alin, bukan karena ia tidak cinta, melainkan karena ia terlalu pengecut untuk menghadapi kenyataan bahwa cinta sejati menuntut kesetaraan dan keberanian, bukan sekadar ego yang ingin selalu disembah.

Inner critic dan dogma patriarki dalam diri Bima mendistorsi niat baik Alin. Ini menjadi jembatan psikologis yang logis mengapa Bima akhirnya nekat mulai melancarkan aksinya mendekati Dania sebagai bentuk pelarian ego? Bima mulai menjalankan strategi pelariannya. Ini semacam "zona nyaman" palsu seseorang yang memilih orang lain bukan karena cinta, melainkan karena rasa takut akan kegagalan.

Lantai tempat kursus yang biasanya terasa dingin, sore itu seolah membakar telapak kaki Bima. Ia berjalan melewati meja administrasi tanpa menoleh sedikit pun ke arah Alin. Pikirannya sudah bulat. ia harus mencari tempatnya bisa menjadi "Raja" tanpa perlu merasa kecil. Dan tempat itu ada di bangku barisan tengah, di samping Dania. Bukankah Dania memiliki kecantikan menawan dan label sekolahnya pun favorit? Remaja tidak satu sekolah dengannya itu pun seolah senang berdekatan dengannya. 

Dania adalah kontras yang sempurna bagi Alin. Jika Alin adalah samudra dalam dan penuh rahasia, Dania adalah telaga bening yang tenang dan mudah ditebak. Ia adalah teman kursus sebaya yang selalu tertawa pada lelucon Bima yang paling garing sekalipun. Di dekat Dania, Bima tidak perlu merasa rendah diri karena belum memiliki ijazah sarjana atau pekerjaan mapan.

"Dania, boleh aku duduk di sini?" tanya Bima sambil menarik kursi, memberikan senyuman yang sudah ia latih di depan cermin toilet tadi.

Dania mendongak, matanya berbinar. "Tentu, Bim! Tumben pindah ke tengah? Biasanya kamu betah di pojokan belakang bak detektif."

"Lagi ingin suasana baru saja," jawab Bima pendek.

Bima mulai melancarkan pesonanya. Ia membantu Dania merapikan catatan biologinya, memberikan penjelasan-penjelasan yang sebenarnya sudah diketahui Dania, namun gadis itu tetap mendengarkan dengan sok takjub. Sebagian demi wajah Bima yang tampan pula. Di sinilah ego patriarki Bima mendapatkan asupannya. Ia merasa superior, merasa dibutuhkan, dan merasa memegang kendali. Di depan Dania, Bima bisa menjadi sosok "pemberi ilmu," sebuah posisi kekuasaan yang tidak bisa ia dapatkan saat berhadapan dengan Alin yang lebih dewasa darinya.

Dari sudut matanya, Bima bisa merasakan kehadiran Alin di ambang pintu kelas. Alin berdiri di sana sebentar, membawa tumpukan modul baru. Mata mereka sempat bertemu selama satu detik, sebuah detik yang terasa seperti satu jam bagi Bima. Namun, tidak mendekat atau menyapa, sehingga Bima sengaja tertawa lebih keras pada ucapan Dania.

Ia ingin Alin melihatnya. Ia ingin mengirimkan pesan tanpa suara. Lihat, aku tidak butuh perhatianmu. Aku bisa mendapatkan pengakuan dari wanita lain tanpa harus merasa kerdil di bawah bayang-bayangmu. Akulah pemberi bayang-bayang itu. Dania rela lebur hanya menjadi bayang-bayangku dan apa kataku, ia pasti mau karena takut kehilangan aku. 

Meskipun untuk itu aku harus rela antar jemput les serta memberi sontekan PR untuknya. Mengapa tidak? Aku lelaki dan ia rela menjadi boneka bagi kehebatanku. Maka, aku harus berjuang mandiri demi ketergantungannya kepadaku. Ia harus mutlak bergantung kepadaku. Jika tidak, apa kata dunia?

 Bima pun mulai mengerjakan tugas untuk Dania agar Dania bisa santai saja sebagai wanita cantik tanpa kelelahan berpikir toh hanya bayang-bayang, ngapain mikir? Rugi dong. Mending selonjoran saja. Itu lebih nyaman daripada Bima dipaksa sejajar atau memaksa diri melebihi Alin di bidang linguistik. Bima sesaat merasa bahagia, hatinya melayang bersama bintang-bintang menuju galaksi IC 1101, menembus rasi Serpens, meninggalkan gravitasi bumi yang fana, di antara seratus triliun cahaya.

Ini adalah bentuk balas dendam kecil yang kekanak-kanakan. Bima menggunakan Dania sebagai perisai sekaligus senjata untuk melukai Alin. Ia tidak sadar bahwa dengan melakukan hal itu, ia sedang mengkhianati nuraninya sendiri. Ia tidak benar-benar menginginkan Dania; ia hanya menginginkan rasa aman yang bisa diberikan oleh Dania. 

Dania pun malah merasa kebetulan Bima mau antar jemput les. Bima pun mau mengerjakan semua tugas sekolahnya demi ia rela jadi bayang-bayang toh Bima lumayan tampan. Jika ditolak belum tentu ada lelaki tampan seaneh Bima jalan pikirannya. Huh... Dasar udik! gerutu Dania penuh kemenangan karena berhasil mengalihkan perhatian Bima dari Alin. 

Sementara itu, Alin yang menyaksikan pemandangan itu dari kejauhan merasa dadanya sesak. Ketertarikan yang baru saja ia pupuk dengan hati-hati kini terasa seperti layu sebelum berkembang. Ia melihat Bima yang begitu akrab dengan gadis sebayanya pun mulai membenarkan keraguannya sendiri.

"Benar kan," batin Alin sambil membalikkan badan dan berjalan cepat menuju kantor. "Dia memang hanya anak-anak yang mencari teman bermain setara agar dahaga patriarkisnya terpenuhi. Aku saja yang terlalu jauh bermimpi toh meskipun tinggal di Surabaya kota metropolis, Bima tetap udik karena memelihara patriarkis yang sama sekali tidak metropolis. 

Sangat udikkah, Bima? Pada era internet begini, mana ada orang berpola pikir udik? Bukankah metropolitan Surabaya mewadahi Gerbangkertosusila? Padahal belum tentu anak Jatim di luar Gerbangkertosusila sekolot dan sepatriarkis Bima. Lalu apa gunanya ia berlama-lama di perpustakaan? Baca koleksi tulisanku lalu kian minder? Apakah ia tidak membaca Multiple Intelligences karya Howard Gardner yang ada di perpustakaan? Aku harus memberikan agar dibaca, tapi semangat Alin sudah luruh mengingat usianya yang sudah lima puluh. 

Bima berhasil. Ia berhasil membuat Alin menjauh. Namun, saat kelas berakhir dan ia berjalan pulang bersama Dania di bawah rintik hujan, ada kekosongan yang kian menganga di hatinya. Ia mendapatkan kekuasaan, ia mendapatkan pemujaan dari Dania, tapi ia kehilangan satu hal yang paling ia inginkan. Rasa hormat dan koneksi intelektual yang hanya bisa ia temukan pada Alin. Sensasi dari adrenalin yang muncul hanya saat membayangkan Alin karena ia selalu dalam posisi siaga. Bukankah tak mudah membuat Alin hanya jadi bayang-bayang? Kecerdasan linguistiknya bikin Bima membencinya sekaligus mencintainya. 

Malam itu, Bima tidur dengan rasa kemenangan yang hambar. Ia telah memilih jalan yang aman, jalan yang tidak akan melukai egonya, namun jalan itu justru anyep dan membawanya makin jauh dari jati diri lelaki sejati yang egaliter. Ia telah memilih untuk menjadi "Firaun" di telaga kecil Dania, daripada menjadi mitra yang hebat di samudra luas Alin. Insekuritas bisa membuat seseorang menjadi manipulatif. Bima memanfaatkan Dania untuk memulihkan harga dirinya yang terluka oleh Alin. 

Dunia terasa seperti ruangan sempit yang dinding-dindingnya perlahan bergerak menghimpit Alin. Di meja kerjanya, setumpuk modul kursus terasa seperti beban yang tak sanggup lagi ia pikul. Namun, beban yang lebih berat sebenarnya ada di dalam dadanya. Setiap kali ia melihat Bima tertawa bersama Dania di koridor, Alin merasa seperti sedang menonton pemakaman harapannya sendiri secara berulang-ulang.

Logika sarjananya mulai mengkhianatinya. "Lihatlah, Alin," bisiknya pada diri sendiri sambil menatap pantulan wajahnya yang kuyu di cermin toilet. "Dia hanya remaja kelas tiga SMA. Dia butuh gadis yang sepantaran, bukan wanita yang penuh beban sejarah seperti kamu. Kamu hanya akan menjadi 'kakak' baginya, selamanya."

Rasa malu karena pernah berharap pada Bima mulai berubah menjadi rasa takut yang akut. Di usianya yang sudah matang, suara-suara sumbang dari lingkungan sekitar mulai terdengar seperti lonceng kematian. Pertanyaan "kapan nikah?" saat arisan atau bertemu teman yang patuhi tradisi purba nenek moyang dalam bertegur sapa, seolah-olah memberi label "barang tidak laku" karena dijual mahal pada dirinya. Kata sombong pun seolah dibebankan ke pundaknya dengan hentakan keras membuatnya seolah mati lemas. Ketakutan akan gelar perawan tua—sebuah hantu patriarki yang sangat ditakuti wanita di lingkungannya—mulai mengaburkan akal sehatnya.

Di saat kerentanan itu mencapai puncaknya, Tino datang. Tino adalah sosok yang "aman" secara status. Ia sudah bekerja, meskipun lebih muda dari Alin, dan ia datang dengan lamaran yang lugas. Tidak ada kerumitan emosional, tidak ada ketidakpastian seperti yang ia rasakan saat menatap mata Bima. Namun, tidak ada juga percikan jiwa. Tino menawarkan stabilitas, sementara hati Alin masih tertinggal di trotoar tempat Bima menolongnya dari batu kali.

Sore itu, di sebuah kafe remang-remang, Tino meletakkan sebuah kotak kecil di atas meja. "Alin, kita sudah sama-sama dewasa. Untuk apa menunggu lagi? Aku ingin serius."

Alin menatap kotak itu tanpa rasa bahagia. Pikirannya melayang pada Bima yang tadi siang sengaja mengabaikan sapaannya demi bercanda dengan Dania. Kecewa, cemburu, dan rasa tidak berharga bercampur menjadi satu dorongan destruktif. Jika Bima bisa memilih Dania yang sebaya dan meninggalkan aku, kenapa aku harus terus menunggunya? Aku harus membuktikan bahwa aku juga bisa melangkah maju.

"Iya. Aku mau," jawab Alin pelan, hampir tak terdengar.

Kata-kata itu bukan keluar dari cinta, melainkan dari rasa putus asa. Ia menerima Tino bukan karena ia menginginkannya, tapi karena ia ingin melarikan diri dari rasa sakit akibat pengabaian Bima dan tekanan sosial yang menghimpitnya. Ia memilih menikah "asal saja" demi sebuah status, tanpa menyadari bahwa ia baru saja membangun penjara baru bagi dirinya sendiri. 

Bahkan saat ada selentingan info, sesungguhnya Tino pun baru terluka ditinggalkan isterinya, padahal semula mengaku jejaka, tak membuat Alin merasa tertipu. Yang diingini hanyalah segera menikah agar lepas dari gelar perawan tua. Titik. Itu saja. Tanpa disadari bahwa keputusan itu bisa melukai hati pria karena merasa tidak dicintai seutuhnya. Lalu lelaki yang semula ingin lurus pun berbelok penuh liku dari selingkuh sampai menyulap data semata alihkan luka jiwa. 

Saat ia pulang ke rumah dan menatap langit malam, Alin menangis dalam diam. Ia merasa telah mengkhianati dirinya sendiri. Ia yang memimpikan hubungan egaliter dan penuh integritas, kini justru menyerah pada pernikahan transaksional demi status sosial. Di tempat lain, Bima tidak tahu bahwa langkah pelariannya pada Dania telah memicu reaksi berantai yang akan memisahkan mereka oleh jarak ribuan mil dan waktu bertahun-tahun kemudian. 

Lampu hijau dari teman-teman Bima kini telah berubah menjadi lampu merah yang mematikan bagi masa depan Alin. Ada sisi tragis dari seorang wanita terpelajar namun tetap kalah oleh tekanan struktur patriarki (gelar perawan tua) dan rasa kecewa pada lelaki yang diharapkan bisa menjadi pelindungnya.

 Ini adalah titik Alin resmi menjadi tokoh yang "sayapnya telah patah" Betapa hambar dan dinginnya pernikahan yang diawali tanpa cinta. Bagaimana kelak realitas pahit dari sebuah pernikahan yang dibangun di atas pondasi pelarian dan ketakutan akan stigma sosial? Alin merasakan kengerian tapi tak berdaya. Apakah wanita lain pun mengalami atau hanya aku, si sapioseksual, yang kutu buku dan penulis di wilayah yang belum totalitas berliterasi ini? keluhnya di depan cermin. Lagipula ia tak memiliki data akurat tentang penyebaran literasi. Yang dirasakannya hanyalah, badai ini menyerangnya. Itu isyarat nurani untuk serius memajukan literasi, sesuai minatnya, bukan malah menghindari lalu mengeluh tanpa solusi. 

            Sebelumnya                                                      Daftar Isi 

Komentar

Postingan Populer