Konflik 50:50 (Bab 9 Gagal Paham)

 


                                                                           Bab 9  Gagal Paham

Perasaan merasa "kecil" itu merayap dari ujung kaki hingga ke dadanya, membuatnya merasa sesak. Di mata Bima, kehadiran empat lelaki ini bukan sekadar rekan kerja baru bagi Alin, melainkan ancaman eksistensial. Tradisi patriarki yang mengakar di kepalanya—yang mengatakan bahwa lelaki harus selalu menjadi yang terkuat dan paling dominan agar bisa dicintai—kini menjadi bumerang yang mematikan.

Ia melihat Alin melirik ke arahnya dan tersenyum tulus, namun Bima justru memalingkan wajah. Ia merasa senyum Alin hanyalah bentuk belas kasihan seorang wanita dewasa kepada "lelaki kecil" yang malang. Ego Bima yang terluka mulai membangun benteng pertahanan. Ia tidak ingin bersaing jika ia merasa akan kalah. Ia lebih baik mundur daripada harus menelan malu karena tidak bisa menjadi "Raja" di depan wanita yang ia sukai.

Bima masuk ke ruang kelas dengan langkah berat. Ia tidak lagi duduk di barisan depan agar bisa melihat Alin. Ia memilih sudut paling gelap di barisan paling belakang. Di sana, ia memendam kemarahan pada dirinya sendiri, pada usianya yang belum matang, dan pada nasib yang mempertemukannya dengan Alin di saat ia sedang tidak memiliki apa-apa untuk dibanggakan.

Benih-benih ego ala sifat Firaun yang ingin disembah namun pengecut dalam menghadapi persaingan mulai menguasai jiwanya. Bima mulai berpikir, jika ia tidak bisa menjadi yang utama bagi Alin karena ada lelaki lain yang lebih hebat, maka ia akan mencari pelarian lain agar ia bisa tetap merasa berkuasa. Namanya Dania, teman kursusnya yang sebaya dari sekolah berbeda, mulai melintas di pikirannya sebagai "cadangan" untuk menyelamatkan harga dirinya yang compang-camping penuh luka. 

Sore itu, Alin tidak tahu bahwa setiap tawa yang ia bagikan dengan rekan kerja barunya adalah paku terakhir di peti mati harapan Bima. Bima sedang bersiap untuk melarikan diri, meninggalkan Alin yang sebenarnya sedang menunggu kejujuran hatinya, demi sebuah pelarian yang ia pikir akan menyelamatkan maskulinitasnya.Betapa rapuhnya harga diri yang dibangun di atas dasar patriarki. Bima lebih memilih mundur dan mencari "objek" lain yang lebih mudah dikuasai ,Dania, daripada harus berjuang secara egaliter bersaing dengan lelaki lain, padahal Alin yang siap menunggunya mendewasa.

Kesalahpahaman terbesar dalam sebuah hubungan sering kali tidak lahir dari kata-kata yang diucapkan, melainkan dari keheningan yang salah diartikan. Bagi Bima, keheningan di antara dirinya dan Alin sejak sore itu telah berubah menjadi sekat beton yang tebal. Setiap kali Alin mencoba menyapa atau sekadar melemparkan pandangan hangat di koridor tempat kursus, Bima selalu punya cara untuk menghindar, entah dengan mendadak menunduk menatap layar ponselnya yang mati, atau berbelok arah menuju kantin dengan langkah yang dibuat-buru-buru.

Bima sedang membangun dinding pertahanan. Di kepalanya yang dipenuhi doktrin maskulinitas rapuh, sikap Alin yang ramah kepada empat pembimbing baru itu adalah bukti sahih bahwa dirinya tidak lagi dibutuhkan. Ia merasa harga dirinya dipertaruhkan. Jika ia terus mendekat, ia takut hanya akan menjadi pelengkap atau penonton dari romansa Alin dengan salah satu pria itu.

Suatu sore, hujan deras mengguyur kota, menciptakan melodi monoton yang membuat suasana les kian sunyi. Alin berdiri di dekat loker, memegang sebuah buku novel sastra yang sengaja ia bawa dari rumah. Sebuah pancingan yang ia siapkan berhari-hari agar bisa mengobrol lebih lama dengan Bima yang beberapa kali memasuki perpustakaan di tempat les. 

Saat Bima berjalan melewati loker, Alin memberanikan diri memanggilnya. "Bima, tunggu sebentar." Bima menghentikan langkah. Punggungnya menegang. Ia berbalik perlahan, menampilkan wajah datar yang dingin. Sebuah topeng yang ia pasang demi menutupi hatinya yang berdegup kencang karena insekuritas. "Iya, Kak? Ada apa?"

Panggilan "Kak" itu terasa begitu formal dan berjarak, membuat senyum di bibir Alin agak getir. Namun, Alin mencoba mengabaikannya. "Ini, aku punya novel baru. Kemarin kamu bilang suka cerita sejarah, kan? Mungkin kamu mau pinjam."

Di mata orang yang berpikir jernih, tindakan Alin adalah sinyal perhatian yang sangat terang. Itu adalah bentuk pengorbanan kecil seorang wanita yang menurunkan sedikit gengsinya demi mendekati lelaki yang ia pedulikan. Namun, radar batin Bima yang sedang kacau membaca sinyal itu dengan cara yang sama sekali berbeda. Beberapa teman sebaya mereka menyikapi dengan tak acuh. Ada yang suka Bima tidak merasa hancur. Bagaimana dengan sebaya Alin? Alin belum berani membuat simpulan tanpa bukti, tapi kuduknya mendadak merinding. 

Dia mengasihaniku, bisik ego patriarkis di dalam dada Bima. Dia menganggapku anak kecil yang perlu dihibur dengan buku bacaan karena melihatku murung beberapa hari ini. Dia melakukan ini hanya karena dia merasa bersalah setelah asyik tertawa dengan para pembimbing baru itu.

Rasa superioritas laki-laki yang terluka membuat Bima merasa tersinggung. Ia tidak ingin diberi belas kasihan. Ia ingin dikagumi, ingin ditakuti, atau setidaknya dianggap sebagai rival yang sepadan bagi pria-pria dewasa di luar sana. Menolak secara kasar tentu bukan gayanya yang sopan, maka ia memilih penolakan yang lebih halus namun mematikan.

"Terima kasih, Kak, tapi sepertinya saya tidak ada waktu untuk membaca," jawab Bima, menatap Alin tanpa ekspresi. "Tugas sekolah kelas tiga sedang menumpuk, dan saya harus fokus ujian agar bisa segera kuliah."

Kalimat itu diucapkan dengan penekanan pada kata "kuliah", seolah-olah Bima ingin menegaskan bahwa ia pun akan segera menjadi orang dewasa yang mapan, tidak perlu terus-menerus dianggap sebagai anak sekolahan yang butuh tuntunan. 

Alin tertegun. Tangan yang memegang novel itu perlahan turun ke samping tubuhnya. Ia bisa merasakan penolakan yang dingin dari nada bicara Bima. Logika wanitanya mulai menarik kesimpulan yang salah: Ah, dia memang masih anak-anak. Mungkin kejadian kemarin saat dia menolongku dari batu hanyalah kebetulan belaka. Dia tidak benar-benar tertarik padaku. Sifatnya yang cuek ini membuktikan bahwa dia tidak punya kedewasaan untuk menjaga perasaan wanita.

Sinyal yang salah tangkap itu kini berakar di kedua belah pihak. Bima mengira Alin merendahkannya, sementara Alin mengira Bima mengabaikannya. Bima berbalik dan melanjutkan langkahnya, meninggalkan Alin yang berdiri mematung di koridor yang mulai menggelap. Di dalam sakunya, tangan Bima mengepal erat. Ada kepuasan aneh yang ia rasakan setelah mengecewaan Alin. Sebuah bentuk kekuasaan semu karena berhasil mengendalikan situasi dan membuat wanita dewasa seperti Alin terlihat kecewa. 

Itulah ego Firaun yang mulai bekerja; lebih baik menyakiti daripada disakiti, lebih baik berkuasa dengan cara menjauh daripada harus terlihat lemah karena bertahan. Yang lebih ekstrim lagi, lebih baik mempermalukan daripada dipermalukan, gumamnya sambil memamerkan rayuan-rayuan hebat untuk Dania, seolah menunjukkan kepada dunia, bahwa ia telah bisa melupakan Alin dan Diska. 

Namun, kepuasan itu langsung menguap begitu ia sampai di kelas. Rasa sepi dan minder kembali menyergapnya. Bima menyadari bahwa dengan menjauh dari Alin, ia justru semakin terisolasi di dalam labirin insekuritasnya sendiri. Ia butuh pelarian lain, sebuah tempat egonya bisa dipulihkan tanpa perlu merasa terancam oleh ketinggian standar kedewasaan..

 Sebelumnya.           Daftar Isi 

Komentar

Postingan Populer