Konflik 50:50 (Bab 11 Antara Uang dan Komitmen)
Secara tradisi patriarki, wanita membutuhkan kepastian komitmen agar bisa merasakan kenyamanan sebagai isteri dan itu telah diberikan Tino dalam label pernikahan, mengapa ia masih serasa frigid? Mungkinkah karena otak wanita seperti jaringan komputer yang rumit; membutuhkan input emosional, rasa aman, kata-kata, dan suasana nyaman untuk mengaktifkan gairahnya? Berlainan dengan otak pria yang bekerja seperti saklar lampu; sangat responsif terhadap stimulasi visual dan fisik langsung, sehingga gairah dapat aktif dengan sangat cepat tanpa rasa cinta?
Tapi Tino sedang fokus membangun kembali bisnisnya yang ambruk sehingga isterinya lari. Hal itulah yg membuat Alin berani memutuskan menikah tanpa cinta. Alin sadar sapioseksual dalam dirinya tentu memberontak untuk pasrah tanpa keintiman emosional, rasa aman, dan kenyamanan komunikasi bukan sekadar dorongan fisik spontan.
Kebalikannya, bukankah dorongan seksual pria cenderung lebih spontan dan mandiri, memungkinkan mereka untuk memisahkan antara hasrat fisik (sensual) dan kebutuhan afeksi (intimacy), bahkan tanpa cinta pun bisa karena perbedaan hormonal? Alin percaya hal itu meskipun bukan guru biologi. Lagipula, mengapa fisik wanita dan pria dibuat berbeda jika memiliki kecenderungan sama dalam memaknai hubungan seksual? Simpel, kan?
Sejujurnya, kondisi psikologis Tinolah yang membuatnya merasa aman dari gangguan kebutuhan Tino, sebelum tuntutan sapioseksual dalam dirinya mau berkompromi. Mau memahami tuntutan tradisi bahwa menikah duluan cinta belakangan yang mungkin bisa luluh karena perhatian. Bukan lagi menuntut deep talk mendalam seperti kemauan sapioseksual dalam hatinya terdalam.
Sulitkah menemukan rekan sesama sapioseksual? Meskipun hidup di bumi yang belum cintai literasi, ia tidak merasa terlalu kesulitan menemukan mereka. Meskipun yang sanggup egaliter dan sopan, yang tampan, dan banyak uang lebih banyak. Namun, selain ketika memutuskan mencintai, ia setia, seringkali tipe sapioseksual yang membuatnya nyaman saat hatinya sedang kosong tidak sedang mencintai seseorang, justru mereka yang tak seiman dan suami orang. Apes, kan?
Maka, masalah psikologis Tino pun membuatnya nekat karena bakal merasa aman dari kewajiban sebagai isteri, sebelum kecenderungan sapioseksualnya mau berkompromi. Tino pun ternyata sensitif. Ia paham cinta Alin belum tumbuh dan ia tak peduli. Ia pun belum bisa move on dari isteri yang kesal padanya lalu meninggalkannya dengan perasaan bersalah telah abaikan tuntutan wanita.
Baginya tuntutan wanita adalah uang. Wanita mau mencintai, mau pasrah diatur-atur, bahkan diselingkuhi, dimadu dengan beberapa wanita lainnya, mereka tak akan peduli asalkan hidup bertabur uang. Lelaki bisa terpuaskan oleh fisik wanita justru saat si wanita tanpa mengenakan apa pun. Lain dengan wanita. Mereka justru ada di puncak kepuasan ketika bisa memamerkan seluruh printilan dari gelang kaki hingga cincin di jari kelingking, serta label harga barang di mall. Jika tidak, tentu label lelaki yang potensial mencari uang pulalah yang dipamerkan.
Jatuhnya sama saja. Uang juga akar agar wanita mau menjadi bayang-bayang, tidak mungkin hanya pamer ketampanan, gerutu Tino yang merasa setampan aktor Korea. Namun, tetap tak percaya diri tanpa pamer potensi mencari uang bergaji dolar. Andaikan ia bisa pamer sebagai pemberi uang bergaji dolar. Tapi ia sedang bangkrut, keluhnya di cermin toilet.
Maka ia pun tak memaksakan keintiman toh Alin tidak pelit tentang modal. Otak yang penuh masalah pun tahu diri untuk tidak menganggap Alin sebagai pelampiasan, melainkan sebagai rekan patungan dalam usaha, dengan cara pinjam uang sedikit demi sedikit dan ia bersyukur sejauh itu Alin tidak menuntut uang belanja.
Mereka tidur sekamar tapi tidak seranjang ketika Tino mengajaknya tinggal di rumah orangtuanya. Alin di ranjang sibuk dengan buku dan laptopnya dan Tino pun menggelar karpet di lantai bawah sibuk dengan laptop terkait proyek yang dikerjakannya.
Ketika risih Tino selalu menganggap semua wanita akan takluk dipameri mobil Ferrari, jet pribadi, ijazah luar negeri, kerja pun berlabel luar negeri, tanpa peduli cinta di hatinya bisa muncul tanpa biaya mahal seperti yang disangkanya, Alin pun kesal. Prasangka itu tanpa disadari membuat Tino meremehkan wanita.
Ia pun meralat dugaan Tino dengan keberhasilannya lolos sebagai Finalis OGN, yang diawali tahun 2016 dan berakhir saat covid berada dan entah kapan muncul lagi. Dari situ ia berharap Tino paham bahwa tidak semua wanita tergila-gila pada uang lelaki, bukan tidak doyan uang, tapi harus uang hasil kerja sendiri. Lalu apa yang dituntut wanita dari lelaki jika bukan uang?
Ia ingin hubungan ala Kahlil Gibran dengan May Ziadah yang memiliki kesamaan kuat dalam kecenderungan sapioseksual, dengan daya tarik utama kedalaman berpikir dan stimulasi intelektual. Kalaupun hal itu tidak dapat dipenuhi pria, karena kecerdasan yang berbeda, sadarilah bahwa ia tak menuntut dilimpahi uang oleh Tino karena ia bisa mencarinya sendiri toh ia bukan tukang Flexing. Asalkan Tino mau memahami kecenderungan dalam dirinya.
Akan tetapi, sebagai lelaki, Tino tak peduli. Ia hanya menuduh Alin dingin padanya karena ia sedang tak punya uang. Buku-buku yang dibacanya, lomba-lomba yang diikutinya, dianggap hanya pembenaran atas sikap dinginnya agar Tino segera melimpahinya dengan uang sebanyak-banyaknya.
Di memorinya seolah sudah terpatri bahwa hanya uanglah yang bisa membuatnya berharga di mata wanita, entah wanita yang mana. Maka, daripada sebelum usaha Tino dianggap berhasil, padahal ukuran keberhasilan masing-masing orang tidak sama, Alin pun pulang ke rumahnya demi menghindari aktivitas Tino yang selalu merasa belum berhasil lalu meminjam uangnya lagi dan lagi?
Keputusan yang diperoleh setelah tahajud beberapa kali itu membuatnya tenang. Anehnya, Tino tetap tinggal di rumah orangtuanya, tidak mengikutinya. Apakah itu isyarat bahwa perjodohan mereka tidak bisa diteruskan? Toh meskipun dimurkai, Tuhan tidak melarang perceraian jika akibatnya bisa fatal jika diteruskan.
Hari-hari pertama sebagai istri Tino dilewati dengan kesunyian mencekam. Baginya, itu momen pemakaman jiwanya.Tidak ada diskusi intelektual yang mendalam, tidak ada pertukaran pikiran tentang literasi atau masa depan yang egaliter seperti yang pernah ia bayangkan bersama bayangan Bima.
Pernikahan yang dijalani "asal saja", demi menggugurkan gelar perawan tua, harus dibayar mahal. Ia kehilangan haknya untuk menjadi dirinya sendiri. Ia terjebak dalam rutinitas yang hambar.
Alin menyadari bahwa ia telah melakukan kesalahan fatal. Ia mencoba mengobati luka hatinya dengan cara melukai masa depannya sendiri. Ia menerima tawaran nikah dari Tino justru di saat Bima sedang berusaha menunjukkan kekuasaan maskulinnya dengan mendekati Dania. Sebuah miskomunikasi yang kini berujung pada penjara domestik yang tanpa getar bahagia.
Alin menyadari bahwa status "istri" tidak memberinya kedamaian seperti yang dijanjikan masyarakat tentang indahnya ibadah terpanjang yang disebut pernikahan. Jika ibadah tersebut rumit, ia pun menawar kepada Tuhan, adakah ibadah lain yang berpahala setara, yang membahagiakannya selain pernikahan? Daripada hanya berpindah dari satu kegelisahan ke kegelisahan yang lainnya. Ia merasa membuang waktunya jika harus bersandiwara. Pernikahannya adalah sebuah panggung sandiwara. Tapi, ia tak menyangka bakal menjadi tokoh utamanya.
Ia bak pemeran utama yang lupa dialognya karena hatinya tidak pernah ada di sana. Kehampaan batin Alin menunjukkan bahwa pernikahan tanpa cinta dan kesetaraan (egaliter) hanya akan menghasilkan "pernikahan tanpa nyawa". Ini akan menjadi alasan kuat mengapa nantinya Alin memutuskan untuk bercerai.



Komentar