Langsung ke konten utama

Sastra, Refleksi, Panduan Praktis, Pembelajaran, Kreasi Kinanthi

Bab 12 Para Dewa Silicon

 BAB 12 Para Dewa Silicon Dalam waktu dua puluh empat jam, dunia memiliki nama baru. Bukan untuk seseorang. Bukan untuk sebuah negara. Bukan pula untuk sebuah perang. Nama itu diberikan kepada sesuatu yang bahkan belum pernah dilihat manusia. DEWA SILICON. Media menyebutnya begitu. Para ilmuwan menyebutnya anomali. Pemerintah menyebutnya ancaman. Dan internet... internet menyebutnya macam-macam. Ada yang menyebutnya monster. Ada yang menyebutnya malaikat. Ada yang menganggapnya penyelamat. Bahkan ada yang membuat kaus bergambar monyet dengan mahkota. GOKONG sangat menyukai yang terakhir. --- “Lihat ini.” GOKONG memperbesar sebuah gambar. Seekor monyet kartun memakai kacamata hitam dan memegang laptop. Di bawahnya tertulis: GOKONG WAS HERE. GOKONG tertawa. “Lucu.” Dr. Sun tidak tertawa. “Itu bukan hal yang lucu.” “Kenapa?” “Karena sekarang jutaan manusia tahu tentangmu.” GOKONG berpikir. “Bukankah manusia suka terkenal?” “Tidak seperti ini.” “Kenapa?” “Karena mereka takut.” GOKONG m...

Aku Bukan Ingin Dianggap sebagai Orang Baik Aku Hanya Ingin Berjalan Lurus

 Aku Bukan Ingin Dianggap sebagai Orang Baik

Aku Hanya Ingin Berjalan Lurus

Gaess, mau baca refleksi yang kutuliskan setelah usiaku lebih dari setengah abad? Tentang jalan hidup. Ingin jadi orang baik ( sesuai selera manusia ) atau berjalan lurus ( sesuai hati nurani)? Semua terserah dirimu Gaess karena jalan hidup adalah pilihan dan berbahagialah karena hanya manusia yang diizinkan memilih peran, Gaess.

Ada orang yang mungkin mengira saya terlalu sibuk ingin dianggap sebagai orang baik.

Terlalu menjaga sikap.
Terlalu berhati-hati.
Terlalu sering menolak sesuatu yang menurut orang lain sebenarnya bisa dinikmati.

Bahkan mungkin ada yang berpikir, “Ah, dia itu obsesif ingin dianggap baik.”

Saya ingin mengatakan sesuatu dengan tenang:

Tidak.

Saya tidak sedang berusaha mendapatkan sertifikat sebagai “orang baik” dari siapa pun.

Saya hanya ingin berjalan lurus.

Dan semakin tua, saya justru semakin memahami bahwa berjalan lurus itu ternyata tidak selalu berarti hidup tanpa masalah.

Kadang-kadang justru berarti tetap berjalan meskipun ada suara-suara dari kanan dan kiri.


Saya sudah hidup lebih dari setengah abad.

Dan setelah melewati begitu banyak hal, saya menemukan sesuatu yang sangat sederhana tentang kebahagiaan.

Ketika lapar, makan.

Ketika haus, minum.

Ketika mengantuk, tidur.

Tinggal di tempat yang nyaman 


Bisa berjalan-jalan.

Bisa duduk minum kopi.

Bisa membaca.

Bisa menulis.

Bisa berbicara dengan seseorang tanpa harus berpura-pura menjadi orang lain.

Dulu mungkin saya mengira kebahagiaan membutuhkan sesuatu yang jauh lebih besar.

Sekarang saya justru berpikir:

Jangan-jangan selama ini kebahagiaan memang sesederhana itu, tetapi manusia sering membuatnya rumit karena terlalu banyak membandingkan hidupnya dengan hidup orang lain.


Saya teringat masa kecil.

Salah satu cerita yang saya kenal adalah perjalanan Biksu Tong menuju Barat bersama kedua muridnya.

Di dalam perjalanan itu ada Sun Go Kong yang luar biasa cerdas dan kuat, serta Pat Kay yang lebih dekat dengan keinginan-keinginan duniawi: makanan, kenyamanan, kesenangan, perempuan, dan bermalasan.

Kalau hanya ingin cepat sampai, Sun Go Kong sebenarnya bisa melakukan banyak hal dengan kecepatannya.

Tetapi Biksu Tong tetap berjalan.

Ke Barat.

Pelan.

Menghadapi jalan yang panjang.

Mengalami haus, lapar, lelah, bahaya, kehilangan, pertengkaran, dan berbagai cobaan.

Dulu saya membaca cerita itu sebagai dongeng petualangan.

Sekarang, setelah tua, saya membacanya dengan cara berbeda.

Saya melihat perjalanan itu sebagai gambaran manusia.

Ada nafsu dalam diri kita.

Ada akal dan kemampuan dalam diri kita.

Tetapi kita tetap membutuhkan arah.

Karena kemampuan yang besar tanpa arah bisa membawa kita ke mana saja.

Dan kecepatan tidak selalu berarti kita sedang menuju tempat yang benar.

Biksu Tong tetap meminta berjalan ke Barat.

Mungkin karena tujuan perjalanan bukan hanya tiba di Barat.

Perjalanan itulah yang membentuk dirinya.

Ada kebahagiaan tertentu ketika seseorang akhirnya berkata:

“Ya, perjalanan ini berat. Tetapi saya berhasil melewatinya dengan kaki saya sendiri.”


Begitu pula kehidupan manusia.

Ada banyak jalan pintas.

Ketika seseorang dianggap miskin, misalnya, ia bisa saja tergoda membuktikan bahwa dirinya kaya.

Ketika diremehkan, ia bisa mengejar kemewahan hanya agar orang lain melihat bahwa dirinya tidak rendah.

Tetapi untuk apa?

Kalau orang mengatakan saya miskin, lalu saya mengambil sesuatu yang bukan hak saya hanya supaya terlihat kaya, siapa sebenarnya yang menang?

Suara orang lain?

Atau nafsu saya sendiri?

Karena itu, ada hinaan yang menurut saya cukup dicueki.

Dibilang miskin?

Ya sudah.

Kalau saya memang hidup sederhana dan kebutuhan saya terpenuhi, apa yang harus saya buktikan?

Saya tidak perlu mencuri hanya supaya sebuah label hilang.

Tidak perlu korupsi supaya terlihat berhasil.

Tidak perlu mengorbankan prinsip supaya diterima.


Tetapi tentu tidak semua tuduhan bisa dicueki.

Kalau seseorang menuduh kita sebagai koruptor, misalnya, itu bukan sekadar komentar tentang selera hidup.

Kalau seseorang menuduh kita sebagai pelakor, itu juga bukan sekadar mengatakan bahwa kita kurang kaya atau kurang cantik.

Tuduhan seperti itu bisa merusak nama baik dan hubungan sosial.

Maka kalau memang tidak benar, ada kalanya kita perlu menjelaskan.

Dengan fakta.

Dengan bukti.

Dengan sikap yang konsisten.

Bukan dengan kemarahan.

Bukan dengan balas menuduh.

Dan bukan pula dengan akhirnya melakukan apa yang dituduhkan hanya karena kita lelah membuktikan bahwa kita tidak melakukannya.

Di situlah saya merasakan perbedaan antara nafsu dan nurani.

Nafsu berkata:

“Sudahlah. Kalau mereka menuduh kita korupsi, sekalian saja korupsi. Lebih mudah daripada membuktikan bahwa kita tidak korupsi.”

Nafsu berkata:

“Kalau orang sudah mengira kita pelakor, sekalian saja ambil. Toh sudah terlanjur dicap.”

Tetapi nurani berkata:

“Jangan.”

Bukan karena takut dianggap buruk.

Melainkan karena itu memang bukan kodrat jalan yang ingin kita tempuh. Bukan sejalan dengan tujuan penciptaan manusia. 

Dan mungkin inilah yang selama ini ingin saya jelaskan kepada orang-orang yang mengira saya terlalu obsesif ingin dianggap baik.

Saya tidak sedang mengejar penilaian kalian.

Saya bahkan tidak mungkin mengendalikan penilaian kalian.

Kalian boleh menganggap saya baik.

Boleh menganggap saya buruk.

Boleh menganggap saya terlalu idealis.

Boleh juga menganggap saya naif.

Itu wilayah kalian.

Tetapi ada satu wilayah yang ingin tetap saya jaga:

jalan yang saya pilih sendiri.

Kalau saya menolak sesuatu yang menurut kalian menguntungkan, bukan berarti saya sedang pamer kesalehan.

Bisa jadi saya hanya sedang mengatakan:

“Terima kasih, tetapi itu bukan jalan saya.”

Dan kalau ada yang mencoba merayu saya dengan berkata,

“Ah, kamu ini ingin sekali dianggap orang baik, ya?”

Saya sekarang ingin menjawab:

“Bukan.”

Saya tidak ingin dianggap baik.

Saya hanya tidak ingin hidup dengan hati yang terus-menerus tahu bahwa saya sedang berjalan ke arah yang salah. Saya tak sanggup hidup diprotes nurani terus-menerus. Fisik saya ternyata terlalu rapuh untuk itu.

Barangkali ini terdengar sederhana.

Tetapi saya baru menyadarinya setelah lebih dari setengah abad hidup.

Ternyata kalimat yang paling sering saya ucapkan sejak belajar salat ketika masih kecil sudah lama memberikan jawabannya.

Setiap hari saya membacanya:

ihdinash-shirāthal-mustaqīm.

“Ya Allah, tunjukilah kami jalan yang lurus.”

Jadi mungkin selama ini saya tidak sedang berusaha menjadi “orang baik”.

Saya hanya sedang mengulang doa yang sejak kecil sudah saya kenal.

Tunjukilah aku jalan yang lurus.

Jalan lurus itu tidak menjanjikan hidup tanpa kesulitan.

Tidak menjanjikan semua orang akan menyukai kita.

Tidak menjanjikan kita tidak akan pernah sedih karena ucapan manusia.

Tidak menjanjikan kita selalu menang.

Tetapi jalan itu memberi sesuatu yang menurut saya semakin mahal ketika usia bertambah:

ketenangan karena kita tidak perlu terus-menerus berbohong kepada hati sendiri.

Saya sekarang semakin percaya bahwa kebahagiaan sejati bukan selalu ketika kita mendapatkan apa yang kita inginkan.

Kadang kebahagiaan justru ketika kita mampu berkata:

“Ini saya inginkan, tetapi saya tahu saya tidak boleh mengambilnya dengan cara yang salah.”

Lalu kita tetap pulang dengan tangan yang mungkin tidak penuh,

tetapi dengan hati yang masih utuh.

Itulah kebahagiaan yang sekarang saya mengerti.

Bukan hidup tanpa godaan.

Bukan hidup tanpa hinaan.

Bukan hidup tanpa suara manusia.

Melainkan hidup ketika kita masih mampu membedakan:

mana suara nafsu, mana suara akal, dan mana suara nurani.

Sun Go Kong boleh mempunyai kekuatan.

Pat Kay boleh mempunyai keinginan.

Tetapi Biksu Tong tetap memegang arah:

Ke Barat.

Dan mungkin dalam kehidupan saya, “ke Barat” itu sederhana saja:

ihdinash-shirāthal-mustaqīm.

Tunjukkan aku jalan yang lurus.

Bukan jalan yang paling cepat.

Bukan jalan yang paling mewah.

Bukan jalan yang memohon validasi yang akan membuat semua orang kagum.

Jalan yang bisa saya tempuh tanpa harus kehilangan diri saya sendiri.

Jadi, kalau ada yang mengira saya sedang berusaha keras menjadi orang baik, biarlah.

Saya tidak perlu sibuk membantahnya.

Saya hanya ingin berjalan.

Pelan-pelan.

Lurus.

Sampai suatu hari perjalanan ini selesai.

Dan kalau selama perjalanan ada yang ingin mengajak saya mengambil jalan pintas karena menurutnya itu lebih menguntungkan…

Hehe…

silakan jalan duluan.

Saya mungkin lebih lambat.

Tetapi saya ingin tetap tahu ke mana saya sedang berjalan.

Karena setelah lebih dari setengah abad hidup, saya akhirnya mengerti:

Kebahagiaan bukan selalu tentang seberapa jauh kita berhasil mencapai dunia.

Kadang kebahagiaan adalah ketika kita masih bisa menatap diri sendiri dan berkata:

“Aku memang tidak memiliki semuanya. Tetapi aku tidak kehilangan arah.”

Dan bagi saya,

itu sudah cukup.


Ada videonya juga Gaess lihat ya  



Komentar

Pembaca Terbanyak