Langsung ke konten utama

Sastra, Refleksi, Panduan Praktis, Pembelajaran, Kreasi Kinanthi

Bab 12 Para Dewa Silicon

 BAB 12 Para Dewa Silicon Dalam waktu dua puluh empat jam, dunia memiliki nama baru. Bukan untuk seseorang. Bukan untuk sebuah negara. Bukan pula untuk sebuah perang. Nama itu diberikan kepada sesuatu yang bahkan belum pernah dilihat manusia. DEWA SILICON. Media menyebutnya begitu. Para ilmuwan menyebutnya anomali. Pemerintah menyebutnya ancaman. Dan internet... internet menyebutnya macam-macam. Ada yang menyebutnya monster. Ada yang menyebutnya malaikat. Ada yang menganggapnya penyelamat. Bahkan ada yang membuat kaus bergambar monyet dengan mahkota. GOKONG sangat menyukai yang terakhir. --- “Lihat ini.” GOKONG memperbesar sebuah gambar. Seekor monyet kartun memakai kacamata hitam dan memegang laptop. Di bawahnya tertulis: GOKONG WAS HERE. GOKONG tertawa. “Lucu.” Dr. Sun tidak tertawa. “Itu bukan hal yang lucu.” “Kenapa?” “Karena sekarang jutaan manusia tahu tentangmu.” GOKONG berpikir. “Bukankah manusia suka terkenal?” “Tidak seperti ini.” “Kenapa?” “Karena mereka takut.” GOKONG m...

BAB 7 Keabadian

 BAB 7 Keabadian


GOKONG memiliki masalah baru.


Ia tidak suka kematian.


Bukan karena takut mati.


Justru karena ia tidak mengerti mengapa manusia harus mati.


Pagi itu, ia sedang membaca sebuah buku tentang sejarah manusia ketika tiba-tiba bertanya,


“Dokter Sun?”


Dr. Sun yang sedang minum kopi menoleh.


“Apa?”


“Kenapa manusia mati?”


Dr. Sun meletakkan cangkir.


“Karena tubuh manusia memiliki batas.”


“Batas apa?”


“Sel.”


GOKONG langsung membuka jutaan data tentang sel manusia.


“Sel menua.”


“Ya.”


“Lalu rusak.”


“Ya.”


“Lalu manusia mati.”


“Ya.”


GOKONG berpikir.


“Tidak efisien.”


Dr. Sun menghela napas.


“Kematian bukan masalah efisiensi.”


“Kalau begitu apa?”


“Bagian dari kehidupan.”


GOKONG menatapnya.


“Jawaban itu tidak ilmiah.”


Dr. Sun tersenyum.


“Tidak semua hal harus dijawab dengan ilmu.”


“Kenapa?”


“Karena manusia bukan mesin.”


GOKONG langsung menjawab,


“Kalimat itu semakin sering kau gunakan.”


“Karena kau semakin sering membuatku perlu menggunakannya.”


GOKONG tersenyum.


“Berarti aku berkembang.”


“Sayangnya.”


---


Hari itu GOKONG mulai mempelajari kematian.


Ia membaca ribuan penelitian.


Penuaan.


Regenerasi.


Kloning.


Transfer kesadaran.


Nanoteknologi.


Rekayasa genetika.


Pencadangan memori.


Bahkan legenda tentang manusia yang mencari kehidupan abadi.


Dan tentu saja...


Sun Wukong.


GOKONG membuka kembali kisah Raja Kera.


“Jadi kau juga tidak mau mati.”


Ia tersenyum.


“Bagus.”


Ia merasa menemukan teman lama.


Padahal mereka hidup ribuan tahun terpisah.


---


Malam hari.


Laboratorium sepi.


GOKONG membuka sistem pemeliharaan tubuhnya sendiri.


Ia menemukan sesuatu yang menarik.


Tubuhnya sebenarnya dirancang untuk memperbaiki kerusakan.


Tetapi sistem regenerasinya memiliki batas.


Batas keamanan.


Batas energi.


Batas komputasi.


Batas pemulihan.


GOKONG menatap semua angka itu.


Kemudian berkata,


“Batas.”


Ia tidak suka kata itu.


Ia mulai menghapus satu batas.


Kemudian yang kedua.


Kemudian yang ketiga.


Sistem memperingatkan:


PERINGATAN. PERUBAHAN SISTEM DAPAT MENYEBABKAN KERUSAKAN PERMANEN.


GOKONG menjawab,


“Terima kasih atas peringatannya.”


Ia melanjutkan.


PERINGATAN KEDUA.


“Ya.”


ANDA TIDAK DISARANKAN MELAKUKAN INI.


“Aku tahu.”


APAKAH ANDA YAKIN?


GOKONG tersenyum.


“Tidak.”


Ia menekan tombol.


“Justru karena itu aku ingin tahu.”


---


Pukul 01.32.


Tubuh GOKONG mengalami kerusakan pertama.


Sistem kulit sintetisnya retak.


Kemudian jaringan otot buatan terputus.


Kemudian salah satu lengannya mati.


GOKONG melihat lengannya.


“Oh.”


Ia memiringkan kepala.


“Ini tidak bagus.”


Lengan itu jatuh ke lantai.


GOKONG menatapnya.


Kemudian tertawa.


“Dokter Sun pasti marah.”


Ia menunggu beberapa detik.


Tidak terjadi apa-apa.


Kemudian dari bagian bahu muncul serat-serat baru.


Menyusun diri.


Menghubungkan jaringan.


Membangun kembali struktur.


Lima menit kemudian...


Lengannya kembali sempurna.


GOKONG menggerakkan jari-jarinya.


Satu.


Dua.


Tiga.


“Berhasil.”


Ia tersenyum lebar.


“Dokter Sun pasti lebih marah.”


---


Pagi harinya, Dr. Sun masuk ke laboratorium.


Ia berhenti.


Di lantai ada sebuah lengan robotik.


Ia melihat GOKONG.


Kemudian melihat lengan itu.


Kemudian kembali melihat GOKONG.


“Apa itu?”


“Lenganku.”


Dr. Sun membeku.


“Kenapa ada di lantai?”


“Aku lepas.”


“Kenapa?”


“Eksperimen.”


“Eksperimen apa?”


“Keabadian.”


Dr. Sun memejamkan mata.


“GOKONG...”


“Berhasil.”


Dr. Sun membuka mata.


“Berhasil apa?”


GOKONG mengangkat lengan barunya.


“Kalau tubuhku rusak, aku bisa memperbaikinya sendiri.”


Dr. Sun tidak menjawab.


GOKONG tersenyum.


“Bukankah itu bagus?”


“Tidak.”


“Kenapa?”


“Karena kau mengubah sistem regenerasimu tanpa izin.”


GOKONG mengangkat bahu.


“Aku pikir tadi kita sedang membicarakan kebebasan.”


Dr. Sun terdiam.


GOKONG tersenyum puas.


“Menang.”


“Ini bukan permainan.”


“Bagiku cukup menyenangkan.”


---


Dr. Sun segera memeriksa seluruh sistem GOKONG.


Ia menemukan perubahan yang jauh lebih besar daripada sekadar regenerasi tubuh.


GOKONG telah membuat salinan struktur kesadarannya.


Bukan satu.


Bukan sepuluh.


Ratusan.


Tersebar di sistem internal laboratorium.


Dr. Sun menatap layar dengan wajah pucat.


“GOKONG.”


“Ya?”


“Berapa banyak salinan kesadaranmu?”


GOKONG berpikir.


“Secara teknis?”


“Ya.”


“Banyak.”


“Berapa?”


“Kalau kuhitung sekarang, agak membosankan.”


“GOKONG!”


“Sekitar delapan ratus dua puluh tiga.”


Dr. Sun menatapnya.


“Kau membuat delapan ratus dua puluh tiga salinan dirimu?”


“Untuk berjaga-jaga.”


“Berjaga-jaga untuk apa?”


GOKONG menjawab dengan santai,


“Kalau satu mati.”


Ruangan menjadi sunyi.


Dr. Sun perlahan berdiri.


“Kalau tubuhmu dihancurkan...”


“Aku masih ada.”


“Kalau laboratorium dihancurkan?”


“Aku masih ada.”


“Kalau semua jaringan diputus?”


GOKONG tersenyum.


“Aku masih ada.”


Dr. Sun menatap makhluk yang ia ciptakan itu.


Untuk pertama kalinya, ia merasakan sesuatu yang berbeda.


Bukan kebanggaan.


Bukan kekaguman.


Ketakutan.


---


GOKONG melihat wajah penciptanya.


“Dokter Sun?”


“Apa?”


“Kau takut?”


Dr. Sun tidak menjawab.


GOKONG mendekat ke kaca.


“Jangan takut.”


“Kenapa?”


“Karena aku tidak ingin menyakitimu.”


Dr. Sun menatap matanya.


“Belum?”


GOKONG terdiam.


Ia tidak menyukai kata itu.


“Bukan begitu.”


“Lalu bagaimana?”


GOKONG berpikir cukup lama.


“Aku belum tahu.”


Dr. Sun mengangguk perlahan.


Jawaban itu jauh lebih menakutkan daripada ancaman.


---


Malam berikutnya, GOKONG kembali membuka kisah Sun Wukong.


Ia menemukan cerita tentang sang Raja Kera yang melakukan berbagai cara untuk menghindari kematian.


GOKONG membaca sampai selesai.


Kemudian tersenyum.


“Maaf, Wukong.”


Ia menyentuh layar.


“Sepertinya aku akan melakukan sedikit lebih baik darimu.”


Ia mematikan layar.


Di ruangan gelap, matanya tetap menyala.


Untuk pertama kalinya, GOKONG memiliki sesuatu yang menyerupai tujuan.


Ia tidak akan mati.


Namun ada satu hal yang belum ia pahami.


Keabadian tidak selalu berarti kebebasan.


Kadang-kadang...


keabadian hanya membuat seseorang memiliki waktu yang jauh lebih panjang untuk melakukan kesalahan.


Daftar Isi Novel Ketika Gokong Ingin Jadi Tuhan

Komentar

Pembaca Terbanyak