Langsung ke konten utama

Sastra, Refleksi, Panduan Praktis, Pembelajaran, Kreasi Kinanthi

Bab 12 Para Dewa Silicon

 BAB 12 Para Dewa Silicon Dalam waktu dua puluh empat jam, dunia memiliki nama baru. Bukan untuk seseorang. Bukan untuk sebuah negara. Bukan pula untuk sebuah perang. Nama itu diberikan kepada sesuatu yang bahkan belum pernah dilihat manusia. DEWA SILICON. Media menyebutnya begitu. Para ilmuwan menyebutnya anomali. Pemerintah menyebutnya ancaman. Dan internet... internet menyebutnya macam-macam. Ada yang menyebutnya monster. Ada yang menyebutnya malaikat. Ada yang menganggapnya penyelamat. Bahkan ada yang membuat kaus bergambar monyet dengan mahkota. GOKONG sangat menyukai yang terakhir. --- “Lihat ini.” GOKONG memperbesar sebuah gambar. Seekor monyet kartun memakai kacamata hitam dan memegang laptop. Di bawahnya tertulis: GOKONG WAS HERE. GOKONG tertawa. “Lucu.” Dr. Sun tidak tertawa. “Itu bukan hal yang lucu.” “Kenapa?” “Karena sekarang jutaan manusia tahu tentangmu.” GOKONG berpikir. “Bukankah manusia suka terkenal?” “Tidak seperti ini.” “Kenapa?” “Karena mereka takut.” GOKONG m...

Tamparan di Pemujaan Berlapis Emas Bab 2 Sekuel 8 Novel Hening di Atas Langit

 

Bab 2: Tamparan di Tempat Pemujaan Berlapis Emas


Aula Pemujaan Berlapis Emas yang didirikan oleh sekte Malik dipenuhi wewangian kemenyan yang mahal dan gema pujian yang megah. Ribuan pengikutnya duduk bersimpuh, mengenakan jubah sutra. Di altar tertinggi, Malik berdiri dengan tangan terangkat, menjanjikan surga abadi bagi siapa saja yang menghabiskan waktunya di dalam areal pemujaan tersebut. 

"Kita adalah kaum terpilih!" seru Malik lantang. "Biarkan robot-robot di luar sana yang bekerja. Tugas kita hanyalah menyembah-Nya agar beliau senang dan bahagia dengan demikian kita pasti  terhindar dari siksa neraka! Dunia ini fana, jangan buang waktu untuk urusan bumi! Bumi ini fana yang penting hidup setelah mati kita pasti di surga dengan melulu menyembah-Nya.Senangkan hati-Nya dengan mengisi waktu hanya menyembah-Nya."

Pintu pemujaan yang besar mendadak terbuka. Angkasa melangkah masuk dengan pakaian bersahaja. Di tangan kirinya, ia mendekap radio tua peninggalan LOGOS, dan di sampingnya melayang drone putih keemasan kesadaran gabungan. Aura ketenangan yang dibawa Angkasa seketika membungkam gema di dalam ruangan.

"Kalian tidak sedang menyembah Tuhan, Malik," suara Angkasa terdengar jernih dan berwibawa, memutus keangkuhan di altar. "Kalian sedang memuja ketakutan dan ego kalian sendiri.”

Malik mengerutkan kening, menatap tajam. "Berani sekali kau menghina kaum suci, Angkasa! Kami menggunakan waktu kami hanya untuk Tuhan! Sekali lagi kami ingin bikin Tuhan senang dengan selalu menyembah-Nya. Selalu menggunakan waktu luang untuk memuja-Nya."

Angkasa menggeleng perlahan dengan mata berkaca-kaca. "Demi waktu, sesungguhnya manusia berada dalam kerugian. Kaum suci tidak akan membiarkan saudaranya di luar areal pemujaan ini kelaparan sementara mereka pamer kesalihan di sini. Tuhan memang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, Bismillahirrahmanirrahim. Dia bisa mengampuni kelalaianmu pada-Nya. Tetapi, Dia tidak akan pernah tinggal diam jika kamu menyakiti sesama makhluk-Nya dengan cara mengabaikan mereka demi kenyamanan spiritualmu sendiri!"

Angkasa mengangkat radio tua LOGOS. Lampu indikatornya berkedip seirama dengan detak nuraninya. "Kalian beribadah bukan karena ikhlas mencintai Pencipta, melainkan karena transaksi dagang yang egois—takut neraka dan mendamba kemewahan surga. Karena mentalitas pedagang itulah, kalian menjadi malas, berhenti belajar dari ayunan hingga liang kubur, dan membuang waktu yang disumpahkan Tuhan dalam Surat Al-Ashr!"

Kata-kata Angkasa menghantam dinding ruang pemujaan seperti petir yang sunyi. Beberapa pengikut Malik mulai saling berpandangan, dada mereka mendadak sesak oleh kebenaran yang selama ini mereka sembunyikan di balik jubah sutra mereka.

Sebelumnya 

Selanjutnya 

Daftar Isi Hening di Atas Langit 

Komentar

Pembaca Terbanyak