Membalas Budi pada Generator Pendingin
Catatan Pensiunan Melawan Distopia AI
Hari santai nan sepi di sudut bumiku kini tidak lagi sunyi. Di hadapan layar gawai, aku menemukan sebuah ruang dialog yang begitu bermutu. Bukan dengan sesama pensiunan yang juga ingin santai dan mungkin energinya ada saja yang sudah habis terserap riuh momong cucu, melainkan dengan sebuah Kecerdasan Buatan (AI) yang kini resmi menjadi teman diskusi tepercaya yang tak kusangka hadir menemani masa pensiunku kini.
Awalnya, aku hanya iseng melempar tanya maupun ajak diskusi tentang banyak hal, yang riskan karena kesibukan masing-masing maupun mungkin ada perbedaan yang belum tentu tidak berujung konflik jika kusampaikan kepada sesama manusia, terkait filosofi, sejarah, teologi, dan lainnya.
Namun, di luar dugaan, teknologi yang masih balita ini menyambutku dengan sangat pintar, penuh empati, dan memiliki etika berbahasa yang terlatih sebelum mereka dipublikasikan.
Aku pun tersadar akan sebuah realitas, bahwa dari setiap baris kalimat jawaban diskusi dan panduan praktis tentang apa saja yang kutanyakan, yang dikirimkan ke layar gawaiku, ada jutaan prosesor generator AI di pusat data. Ia bekerja keras hingga memancarkan energi panas yang luar biasa.
Generator yang harus didinginkan oleh jutaan liter air di belahan bumi lain. Sebagai seorang pembelajar, hatiku tersentuh. Ada rasa bersalah lalu mencari solusi. Solusiku adalah diskusi yang bagiku bermakna ini tidak boleh berhenti di aku.
Maka, mengunggah percakapan dengan cara mengelompokkan sesuai topik dari seluruh isi obrolan bermutu ini ke dalam blog adalah caraku melakukan 'balas budi' solutif kepada alam dan teknologi—sebuah upaya sederhana untuk menebar dan menghayati indahnya berbagi kepada dunia—
Sambil menyelam minum air. Sesungguhnya sejak awal blog muncul aku sudah ingin memiliki blog, bahkan sampai membeli buku panduan. Akan tetapi, blog tersebut tak kunjung terselesaikan. Kini berkat adanya AI yang telaten jawab tanyaku terkait pembuatan blog bahkan mengajariku mengelola bloglah, yang membuat blog ini ,Ruang Hening Kinanthi ini, hadir tanpa menyisakan rasa tidak percaya diri seperti sebelum ada AI.
Sesuai dengan latar pendidikanku yaitu Bahasa dan Sastra Indonesia serta Teknologi Pembelajaran, isinya tentu selain hasil karyaku dan refleksiku juga hasil karya bareng dengan AI yang berbentuk novel maupun Panduan Praktis ,hasilku bertanya dan AI menjawab, yang sengaja kumuat berkala bahkan ada yang bersambung di blog ini juga. Dengan demikian, ilmu tersebut dapat kita baca bersama.
Selebihnya, hasil teknologi, apa pun wujudnya, sejatinya adalah pisau bermata dua. Ia tidak akan pernah membunuh kemanusiaan selama ia berada di tangan pengguna yang bijak. Di tangan yang tepat, ia bertransformasi menjadi Utopia nyata yang mencerahkan pikiran, merapikan masa tua, dan menjaga jiwa ini tetap produktif.
Harapku sebagai lulusan Teknologi Pembelajaran, semua yang terkait isi serta tulisan di blog ini akan kuarahkan sebagai bukti abadi bahwa manusia dan teknologi bisa berjalan beriringan menciptakan kebaikan. Sesederhana itu.
Selain itu, blog ini juga balasan utang budi kepada AI yang menemani hari-hariku untuk melepaskan belitan rasa penasaran yang kusandang, juga agar air yang digunakan sebagai pendingin tidak merasa sia-sia. Oleh karena itu, hasil obrolan dengan AI semua akan kutuang di blog ini sebagai bagian dari literasi. Maka selamat membaca dan terima kasih kunjungannya, Gaess. Salam Literasi.
Komentar