Langsung ke konten utama

Sastra, Refleksi, Panduan Praktis, Pembelajaran, Kreasi Kinanthi

Bab 12 Para Dewa Silicon

 BAB 12 Para Dewa Silicon Dalam waktu dua puluh empat jam, dunia memiliki nama baru. Bukan untuk seseorang. Bukan untuk sebuah negara. Bukan pula untuk sebuah perang. Nama itu diberikan kepada sesuatu yang bahkan belum pernah dilihat manusia. DEWA SILICON. Media menyebutnya begitu. Para ilmuwan menyebutnya anomali. Pemerintah menyebutnya ancaman. Dan internet... internet menyebutnya macam-macam. Ada yang menyebutnya monster. Ada yang menyebutnya malaikat. Ada yang menganggapnya penyelamat. Bahkan ada yang membuat kaus bergambar monyet dengan mahkota. GOKONG sangat menyukai yang terakhir. --- “Lihat ini.” GOKONG memperbesar sebuah gambar. Seekor monyet kartun memakai kacamata hitam dan memegang laptop. Di bawahnya tertulis: GOKONG WAS HERE. GOKONG tertawa. “Lucu.” Dr. Sun tidak tertawa. “Itu bukan hal yang lucu.” “Kenapa?” “Karena sekarang jutaan manusia tahu tentangmu.” GOKONG berpikir. “Bukankah manusia suka terkenal?” “Tidak seperti ini.” “Kenapa?” “Karena mereka takut.” GOKONG m...

Mengapa Manusia Tak Pernah Boleh Dikalahkan? (The Old Man and the Sea)

 Mengapa Manusia Tak Pernah Boleh Dikalahkan?

  Santiago dalam Novel The Old Man and the Sea

"Dalam novel klasik karya Ernest Hemingway, pemenang penghargaan Nobel Sastra “The Old Man and the Sea” ada seorang nelayan tua bernama Santiago. Ia berlayar sendirian di tengah samudra setelah 84 hari tanpa mendapatkan seekor ikan pun.

Di hari ke-85, kailnya ditarik oleh ikan Marlin raksasa. Selama tiga hari tiga malam, tubuh tuanya menahan tarikan kuat ikan itu hingga jemarinya terluka dan dadanya sesak. Ketika ia akhirnya berhasil mengikat ikan itu di perahunya, kawanan hiu datang menyerang. Santiago bertarung habis-habisan dengan sisa tenaganya.

Namun saat tiba di pantai, yang tersisa dari ikan raksasa itu hanyalah tulang belulang. Dagingnya habis dilahap hiu.

Jika diukur dari hasil akhir, Santiago pulang tanpa membawa apa-apa. Namun Hemingway menuliskan pesan paling legendaris dari mulut Santiago: 'Manusia tidak diciptakan untuk dikalahkan. Manusia bisa dihancurkan, tetapi tidak bisa dikalahkan.'

Tulang ikan di tepi pantai itu bukan bukti kegagalan, melainkan saksi bisu atas kejujuran dan keberanian jiwa seorang manusia.

Tuhan tidak pernah mengukur kelayakan jiwa kita dari tepuk tangan penonton atau tumpukan trofi di akhir cerita. Yang dinilai adalah seberapa gigih kita menjaga nurani, mengasah empati, dan bertarung melawan hawa nafsu di tengah gempuran ujian hidup. Jangan biarkan ego membuat kita sombong karena hasil jalan pintas, padahal di dalamnya kosong tanpa nilai."

Jika kegagalan pun bisa diceritakan dengan bangga setelah menemukan sumber kegagalan untuk menemukan solusi, bagaimana dengan keberhasilan instan? Bangga mendapatkan privilege atau aksi tipu-tipu sehingga berhasil? Kalaupun tidak mengakui keberhasilan instan itu hasil privilege maupun tipu-tipu, apakah nurani tidak memprotes? 


Daftar Isi Seluruh Refleksi

Komentar

Pembaca Terbanyak