Langsung ke konten utama

Sastra, Refleksi, Panduan Praktis, Pembelajaran, Kreasi Kinanthi

Bab 12 Para Dewa Silicon

 BAB 12 Para Dewa Silicon Dalam waktu dua puluh empat jam, dunia memiliki nama baru. Bukan untuk seseorang. Bukan untuk sebuah negara. Bukan pula untuk sebuah perang. Nama itu diberikan kepada sesuatu yang bahkan belum pernah dilihat manusia. DEWA SILICON. Media menyebutnya begitu. Para ilmuwan menyebutnya anomali. Pemerintah menyebutnya ancaman. Dan internet... internet menyebutnya macam-macam. Ada yang menyebutnya monster. Ada yang menyebutnya malaikat. Ada yang menganggapnya penyelamat. Bahkan ada yang membuat kaus bergambar monyet dengan mahkota. GOKONG sangat menyukai yang terakhir. --- “Lihat ini.” GOKONG memperbesar sebuah gambar. Seekor monyet kartun memakai kacamata hitam dan memegang laptop. Di bawahnya tertulis: GOKONG WAS HERE. GOKONG tertawa. “Lucu.” Dr. Sun tidak tertawa. “Itu bukan hal yang lucu.” “Kenapa?” “Karena sekarang jutaan manusia tahu tentangmu.” GOKONG berpikir. “Bukankah manusia suka terkenal?” “Tidak seperti ini.” “Kenapa?” “Karena mereka takut.” GOKONG m...

BAB 1 Sekuel 1 Warisan Lemari Kayu Jati Novel Simfoni Iqra

 BAB 1: Warisan Lemari Kayu Jati



Bau kayu tua dan kertas lapuk selalu punya cara tersendiri untuk menenangkan dada Sekar. Di sudut kamar berukuran tiga kali empat meter itu, berdiri sebuah lemari jati bermotif ukiran Jepara klasik. Lemari itu adalah peninggalan Eyang Putri—seorang wanita yang di masa mudanya sempat mengecap pendidikan di Hollandsch-Inlandsche School (HIS) Surabaya. Di dalamnya, tersusun rapi jilid-jilid majalah berkulit kusam, novel-novel berbahasa Belanda, hingga catatan harian bertinta emas ejaan lama. Bagi Sekar, lemari itu bukan sekadar furnitur tua, melainkan jendela dunia yang menyelamatkannya dari kepicikan.

Sekar merapikan letak kacamatanya. Di luar, suara deru angin sore berembus menyapu dedaunan kering di halaman rumah panggung mereka.

"Sekar, cangkir teh Bapak ditaruh di mana?" suara Pak Broto, ayahnya, terdengar lunak dari arah dapur.

"Di meja samping radio, Pak. Sudah Sekar tuangkan," sahut Sekar lembut sembari menutup salah satu buku tua milik neneknya.

Pak Broto adalah seorang guru Sekolah Dasar bersahaja. Beliau tipe pendidik zaman dulu—berdedikasi penuh, jujur, namun hidup di era ketika tunjangan profesi belum menyentuh pelosok Desa Karangharjo. Gaji bulanan yang pas-pasan membuat keluarga kecil mereka terbiasa hidup teramat sederhana, bahkan cenderung amat hemat.

Masa kecil Sekar tidak dihiasi oleh mainan mahal atau pakaian bagus. Saat anak-anak seusianya bermimpi menjadi dokter yang menyembuhkan orang atau insinyur yang membangun gedung-gedung bertingkat, Sekar perlahan melipat cita-cita itu. Orang tuanya, dengan penuh kasih namun terbatas oleh keadaan, mengarahkannya untuk mengambil jalur yang paling aman dan terjangkau: menjadi guru.

"Menjadi guru itu mulia, Nduk. Ilmu yang kamu ajarkan akan jadi amalan yang tak terputus," ucap ayahnya bertahun-tahun lalu ketika Sekar menerima ijazah kelulusannya.

Sekar tidak pernah membantah. Ia menerima takdir sebagai guru SD di desa terpencil itu dengan lapang dada. Namun, jiwa pengembara yang dipupuk dari lemari jati Eyang Putri tak pernah benar-benar padam. Di saat waktu luang usai mengajar, ketika warga desa sibuk bergunjing di pos ronda atau di depan warung sayur, Sekar memilih menenggelamkan diri dalam buku-buku warisan sang nenek.

Dari lemari tua itulah Sekar belajar tentang logika, tentang sejarah dunia, tentang cara wanita-wanita era modern berpikir dengan kepala dingin dan hati yang tenang. Ia tidak tumbuh menjadi wanita desa yang pasrah pada arus umum. Di dalam dirinya, terbentuk sebuah benteng kedewasaan yang eksklusif—sebuah kemandirian berpikir yang kelak membuat orang-orang di sekitarnya merasa terancam sekaligus heran.

Langkah kaki Pak Broto mendekat. Sang ayah duduk di kursi rotan tua di samping Sekar, memegang cangkir sengnya yang masih berasap.

"Tadi di balai desa, Pak RT sempat menanyakanmu lagi, Sekar," ucap Pak Broto perlahan, menatap putri tunggalnya dengan pandangan campur aduk antara bangga dan khawatir.

Sekar tersenyum tipis. Ia sudah bisa menebak arah pembicaraan itu tanpa perlu sang ayah melanjutkannya.

Sebelumnya  Selanjutnya 

Daftar Isi Novel Simfoni Iqra

Komentar

Pembaca Terbanyak