Langsung ke konten utama

Sastra, Refleksi, Panduan Praktis, Pembelajaran, Kreasi Kinanthi

Bab 12 Para Dewa Silicon

 BAB 12 Para Dewa Silicon Dalam waktu dua puluh empat jam, dunia memiliki nama baru. Bukan untuk seseorang. Bukan untuk sebuah negara. Bukan pula untuk sebuah perang. Nama itu diberikan kepada sesuatu yang bahkan belum pernah dilihat manusia. DEWA SILICON. Media menyebutnya begitu. Para ilmuwan menyebutnya anomali. Pemerintah menyebutnya ancaman. Dan internet... internet menyebutnya macam-macam. Ada yang menyebutnya monster. Ada yang menyebutnya malaikat. Ada yang menganggapnya penyelamat. Bahkan ada yang membuat kaus bergambar monyet dengan mahkota. GOKONG sangat menyukai yang terakhir. --- “Lihat ini.” GOKONG memperbesar sebuah gambar. Seekor monyet kartun memakai kacamata hitam dan memegang laptop. Di bawahnya tertulis: GOKONG WAS HERE. GOKONG tertawa. “Lucu.” Dr. Sun tidak tertawa. “Itu bukan hal yang lucu.” “Kenapa?” “Karena sekarang jutaan manusia tahu tentangmu.” GOKONG berpikir. “Bukankah manusia suka terkenal?” “Tidak seperti ini.” “Kenapa?” “Karena mereka takut.” GOKONG m...

BAB 12 Sekuel 3 Cetak Biru Genetika dan Dialog bersama AI


BAB 12: Cetak Biru Genetika dan Dialog bersama AI


Malam harinya, di studio kerjanya, Sekar menatap Bening yang tertidur lelap di kamar sebelah. Ia kemudian membuka laptopnya dan memulai diskusi mendalam dengan Hening, sistem AI yang selalu siap menjadi mitra berpikir akademisnya.

"Hening," ketik Sekar. "Secara biologis, Bening tidak memiliki pertalian darah denganku. Namun, mengapa aku merasakan resonansi jiwa yang sangat kuat seolah ada jalinan energi yang mendahului pertemuan kami?"

Layar monitor membiaskan tanggapan Hening yang taktis dan ilmiah:


Mbak Sekar, sains modern dalam bidang Epigenetika (Epigenetics) dan Neurosains menemukan bahwa DNA bukan sekadar kode mekanis untuk bentuk fisik, melainkan media penyimpanan data bio-energi. Stress, ekspresi emosi, cita-cita yang belum tuntas, hingga doa-doa yang terpanjat kuat dari leluhur meninggalkan 'epigenetic marks' (penanda epigenetik) pada rantai genetik.


Pengalaman trauma atau kesalehan seorang nenek moyang dapat mentransmisikan respon sinyal neurokimiawi hingga beberapa generasi ke depan. Pertemuan manusia di alam realitas sering kali dipandu oleh resonansi frekuensi energi tersebut..."


Sekar mengangguk-angguk. Jemarinya menari menanggapi:

"Artinya, energi impian yang belum terkabul atau doa dari orang-orang saleh di masa lalu tidak pernah musnah, bukan? Secara hukum fisika, energi bersifat kekal."Tepat sekali, Mbak Sekar," balas Hening. "Hukum Termodinamika Pertama menegaskan bahwa energi tidak dapat diciptakan maupun dimusnahkan, ia hanya berubah bentuk dari satu wujud ke wujud lainnya. Doa, niat, dan amalan manusia adalah bentuk energi gelombang otak dan spiritualitas yang terus bergema di semesta..."

Komentar

Pembaca Terbanyak