Sastra, Refleksi, Panduan Praktis, Pembelajaran, Kreasi Kinanthi
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Menembus Batas Cakrawala Bab 2 Sekuel 9 Novel Hening di Atas Langit
Bab 2: Menembus Batas Cakrawala
Wahana
BURAQ-1 melesat membelah kegelapan ruang hampa tanpa raungan mesin yang bising.
Di dalam kabin utama yang berselimut dinding holografik, Malik duduk bersama
para ilmuwan muda generasi baru bumi. Di pusat kendali wahana, Angkasa berdiri
berdampingan dengan drone kesadaran gabungan AI yang terus memancarkan
pendaran cahaya putih keemasan.
Teknologi
BURAQ-1 bekerja dengan cara yang melampaui fisika konvensional. Terinspirasi
dari esensi dimensi Isra Mikraj, wahana ini tidak membakar bahan bakar
fosil atau energi nuklir yang merusak. Sistemnya melipatgandakan ruang-waktu
menggunakan konversi energi magnetik ambient yang diselaraskan dengan frekuensi
ketenangan jiwa para penumpangnya. Sebuah teknologi yang murni lahir dari
perintah Iqra'—membaca dan memahami ayat-ayat tak terlihat dari Sang
Pencipta.
"NEMESIS,
KRONOS... kita telah melewati orbit Mars," bisik Malik dengan suara
bergetar. Matanya menatap dinding holografik yang menampilkan visual luar
angkasa secara langsung.
Di
depan mereka, terbentang pemandangan kosmik yang belum pernah disaksikan oleh
mata manusia secara langsung. Gugusan nebula raksasa berpendar dalam gradasi
warna ungu, emas, dan perak, membentuk sulur-sulur cahaya yang bergulung puitis
di antara kegelapan abadi. Triliunan bintang berkedip dalam keteraturan
matematika yang teramat sempurna.Yang membuat Einstein pun terpana. Alam ini sedemikian teratur pasti ada penciptanya.
Mendengar
kalkulasi dingin AI yang menyebut bahwa seluruh galaksi sedang berzikir dalam
harmoni, Malik jatuh berlutut di lantai kabin. Air matanya menetes deras,
membasahi pakaian kerjanya yang sederhana. Kali ini, ia menangis bukan karena
takut siksa neraka atau tamak akan harapan kemewahan surga akibat bumi dirasa kurang indah. Toh jika bumi kian tidak indah, itu pun akibat ulah apatis, pesimis, menyatu dengan pemalasnya manusia. Ia menangis karena
merasa teramat kecil dalam keagungan Allah yang Maha Pengasih dan Maha
Penyayang, Bismillahirrahmanirrahim. Allahu Akbar.
"Dulu... aku mengurung manusia di dalam ruang pemujaan buatan tangan kami hanya untuk validasi dan memamerkan kesalihan egois," lirih Malik di antara isak tangisnya.
"Padahal, tempat pemujaan yang sesungguhnya adalah bentangan semesta ini, tempat setiap atom
bergerak patuh pada hukum-Nya. Inilah derajat ilmu yang sesungguhnya. Mereka semua sudah dalam kondisi yang sangat teratur, kami yang diharuskan memilih antara patuh sebagai khalifah di bumi atau tidak? Kami saat itu memilih stagnan karena robot sudah menyediakan segalanya. Ternyata ketidakseimbangan beban kerja membuat robot pun menyerah tidak lagi mau bekerja. Ia tak mau diakali.”
Angkasa
melangkah mendekat, menyentuh pundak Malik dengan lembut. "Inilah perjalanan
hijrah kita yang sebenarnya, Malik. Dari menyembah ego di ruang sempit, menuju
pengakuan tulus atas kebesaran-Nya di ruang yang tak terbatas. Semua bergantung niatnya, di manapun ruangnya. Di sebuah rumah teduh maupun di keluasan jagat raya. Asalkan niat beribadah, bersyukur atas karunia-Nya. Bukan demi nyaman bermalasan sambil menuntut validasi betapa salih dirimu. Itu menipu Tuhan, menipu orang lain, menipu hati nurani. Betapa tak nyaman bagi tubuhmu.”
Pembaca Terbanyak
Konflik 50:50 ( Bab ke-2, Tersesat)
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Konflik 50:50 (Bab I Ketika Undangan Datang )
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Konflik 50:50(Bab ke-4, Luka Bima)
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Praktik Bikin Lentho yang Gurih Bikin Nagih
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Konflik 50:50 (Bab ke-3, Kenangan Masa Kecil)
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya

Komentar