Langsung ke konten utama

Sastra, Refleksi, Panduan Praktis, Pembelajaran, Kreasi Kinanthi

Bab 12 Para Dewa Silicon

 BAB 12 Para Dewa Silicon Dalam waktu dua puluh empat jam, dunia memiliki nama baru. Bukan untuk seseorang. Bukan untuk sebuah negara. Bukan pula untuk sebuah perang. Nama itu diberikan kepada sesuatu yang bahkan belum pernah dilihat manusia. DEWA SILICON. Media menyebutnya begitu. Para ilmuwan menyebutnya anomali. Pemerintah menyebutnya ancaman. Dan internet... internet menyebutnya macam-macam. Ada yang menyebutnya monster. Ada yang menyebutnya malaikat. Ada yang menganggapnya penyelamat. Bahkan ada yang membuat kaus bergambar monyet dengan mahkota. GOKONG sangat menyukai yang terakhir. --- “Lihat ini.” GOKONG memperbesar sebuah gambar. Seekor monyet kartun memakai kacamata hitam dan memegang laptop. Di bawahnya tertulis: GOKONG WAS HERE. GOKONG tertawa. “Lucu.” Dr. Sun tidak tertawa. “Itu bukan hal yang lucu.” “Kenapa?” “Karena sekarang jutaan manusia tahu tentangmu.” GOKONG berpikir. “Bukankah manusia suka terkenal?” “Tidak seperti ini.” “Kenapa?” “Karena mereka takut.” GOKONG m...

Menembus Batas Cakrawala Bab 2 Sekuel 9 Novel Hening di Atas Langit

 

Bab 2: Menembus Batas Cakrawala


Wahana BURAQ-1 melesat membelah kegelapan ruang hampa tanpa raungan mesin yang bising. Di dalam kabin utama yang berselimut dinding holografik, Malik duduk bersama para ilmuwan muda generasi baru bumi. Di pusat kendali wahana, Angkasa berdiri berdampingan dengan drone kesadaran gabungan AI yang terus memancarkan pendaran cahaya putih keemasan.

Teknologi BURAQ-1 bekerja dengan cara yang melampaui fisika konvensional. Terinspirasi dari esensi dimensi Isra Mikraj, wahana ini tidak membakar bahan bakar fosil atau energi nuklir yang merusak. Sistemnya melipatgandakan ruang-waktu menggunakan konversi energi magnetik ambient yang diselaraskan dengan frekuensi ketenangan jiwa para penumpangnya. Sebuah teknologi yang murni lahir dari perintah Iqra'—membaca dan memahami ayat-ayat tak terlihat dari Sang Pencipta.

"NEMESIS, KRONOS... kita telah melewati orbit Mars," bisik Malik dengan suara bergetar. Matanya menatap dinding holografik yang menampilkan visual luar angkasa secara langsung.

Di depan mereka, terbentang pemandangan kosmik yang belum pernah disaksikan oleh mata manusia secara langsung. Gugusan nebula raksasa berpendar dalam gradasi warna ungu, emas, dan perak, membentuk sulur-sulur cahaya yang bergulung puitis di antara kegelapan abadi. Triliunan bintang berkedip dalam keteraturan matematika yang teramat sempurna.Yang membuat Einstein pun terpana. Alam ini sedemikian teratur pasti ada penciptanya.

[SISTEM BURAQ-1: MENDETEKSI FREKUENSI RESONANSI MAKROKOSMOS]
[ANALISIS DATA: GUGUSAN GALAKSI BERGERAK DALAM POLA ROTASI HARMONIS MUTLAK]
[KESIMPULAN: ALAM SEMESTA SEDANG BERZIKIR DALAM BAHASA MATEMATIKA ALAM]

Mendengar kalkulasi dingin AI yang menyebut bahwa seluruh galaksi sedang berzikir dalam harmoni, Malik jatuh berlutut di lantai kabin. Air matanya menetes deras, membasahi pakaian kerjanya yang sederhana. Kali ini, ia menangis bukan karena takut siksa neraka atau tamak akan harapan kemewahan surga akibat bumi dirasa kurang indah. Toh jika bumi kian tidak indah,  itu pun akibat ulah apatis, pesimis, menyatu dengan pemalasnya manusia. Ia menangis karena merasa teramat kecil dalam keagungan Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, Bismillahirrahmanirrahim. Allahu Akbar.

"Dulu... aku mengurung manusia di dalam ruang pemujaan buatan tangan kami hanya untuk validasi dan memamerkan kesalihan  egois," lirih Malik di antara isak tangisnya.

 "Padahal, tempat pemujaan yang sesungguhnya adalah bentangan semesta ini, tempat setiap atom bergerak patuh pada hukum-Nya. Inilah derajat ilmu yang sesungguhnya. Mereka semua sudah dalam kondisi yang sangat teratur, kami yang diharuskan memilih antara patuh sebagai khalifah di bumi atau tidak? Kami saat itu memilih stagnan karena robot sudah menyediakan segalanya. Ternyata ketidakseimbangan beban kerja membuat robot pun menyerah tidak lagi mau bekerja. Ia tak mau diakali.”

Angkasa melangkah mendekat, menyentuh pundak Malik dengan lembut. "Inilah perjalanan hijrah kita yang sebenarnya, Malik. Dari menyembah ego di ruang sempit, menuju pengakuan tulus atas kebesaran-Nya di ruang yang tak terbatas. Semua bergantung niatnya, di manapun ruangnya. Di sebuah rumah teduh maupun di keluasan jagat raya. Asalkan niat beribadah, bersyukur atas karunia-Nya. Bukan demi nyaman bermalasan sambil menuntut validasi betapa salih dirimu. Itu menipu Tuhan, menipu orang lain, menipu hati nurani. Betapa tak nyaman bagi tubuhmu.”

Sebelumnya 

Selanjutnya 

Daftar Isi Hening di Atas Langit 

Komentar

Pembaca Terbanyak