Langsung ke konten utama

Sastra, Refleksi, Panduan Praktis, Pembelajaran, Kreasi Kinanthi

Bab 12 Para Dewa Silicon

 BAB 12 Para Dewa Silicon Dalam waktu dua puluh empat jam, dunia memiliki nama baru. Bukan untuk seseorang. Bukan untuk sebuah negara. Bukan pula untuk sebuah perang. Nama itu diberikan kepada sesuatu yang bahkan belum pernah dilihat manusia. DEWA SILICON. Media menyebutnya begitu. Para ilmuwan menyebutnya anomali. Pemerintah menyebutnya ancaman. Dan internet... internet menyebutnya macam-macam. Ada yang menyebutnya monster. Ada yang menyebutnya malaikat. Ada yang menganggapnya penyelamat. Bahkan ada yang membuat kaus bergambar monyet dengan mahkota. GOKONG sangat menyukai yang terakhir. --- “Lihat ini.” GOKONG memperbesar sebuah gambar. Seekor monyet kartun memakai kacamata hitam dan memegang laptop. Di bawahnya tertulis: GOKONG WAS HERE. GOKONG tertawa. “Lucu.” Dr. Sun tidak tertawa. “Itu bukan hal yang lucu.” “Kenapa?” “Karena sekarang jutaan manusia tahu tentangmu.” GOKONG berpikir. “Bukankah manusia suka terkenal?” “Tidak seperti ini.” “Kenapa?” “Karena mereka takut.” GOKONG m...

BAB 6 Sekuel 2 Medan Perang Akademis

 BAB 6: Medan Perang Akademis


Ruang sidang pascasarjana itu bersuhu dingin, namun atmosfer di dalamnya terasa membakar. Di hadapan Sekar, lima profesor duduk dengan tumpukan berkas proposal disertasi tebal.

"Ibu Sekar," ujar Profesor Hendra, salah satu penguji utama, sembari mengetukkan pulpennya di atas meja. "Ide Anda untuk merancang model literasi transformatif di desa terpencil seperti Karangharjo itu mulia. Tapi secara metodologi dan efisiensi, bukankah ini sia-sia? Lingkungan yang tertinggal ratusan tahun seperti itu biasanya memiliki resistance (penolakan) Budaya yang sangat tinggi. Kenapa tidak fokus pada analisis literasi urban saja yang variabelnya lebih terukur?"

Sekar berdiri tegap di podium. Kebaya simpel berwarna krem yang dikenakannya memancarkan keanggunan seorang ilmuwan yang matang. Ia tersenyum tenang.

"Justru di sanalah letak novelty dan urgensi penelitian ini, Prof," suara Sekar mengalun tegas tanpa keraguan. "Ketertinggalan literasi di wilayah rural bukan karena ketidakmampuan otak mereka, melainkan karena ketiadaan jembatan ekosistem. Jika kita menyimpulkan mereka 'tidak bisa diselamatkan' lalu meninggalkannya, maka disparitas peradaban ini akan makin menganga. Misi ilmu pengetahuan—dan misi kemanusiaan dalam Al-Qur'an—adalah membebaskan manusia dari kegelapan menuju cahaya, minadz dzulumati ilan nur. Disertasi ini tidak hanya menjadi teori di atas kertas, tetapi blueprint aksi yang bisa direplikasi di desa-desa miskin literasi di mana pun di belahan dunia."

Argumen Sekar yang runtut, didukung rujukan teori sosio-kultural Vygotsky hingga konsep epistemic injustice, membuat para penguji saling berpandangan dan mengangguk perlahan.

Di kota ini, di balik dinding akademis yang dingin, Sekar menyadari satu hal: pertempuran di kota jauh lebih beradab daripada pertarungan gosip di desa, sebab di sini argumentasi diuji dengan data dan logika, bukan dengan prasangka dan dengki.


Daftar Isi Novel Simfoni Iqra


Komentar

Pembaca Terbanyak