Langsung ke konten utama

Sastra, Refleksi, Panduan Praktis, Pembelajaran, Kreasi Kinanthi

Bab 12 Para Dewa Silicon

 BAB 12 Para Dewa Silicon Dalam waktu dua puluh empat jam, dunia memiliki nama baru. Bukan untuk seseorang. Bukan untuk sebuah negara. Bukan pula untuk sebuah perang. Nama itu diberikan kepada sesuatu yang bahkan belum pernah dilihat manusia. DEWA SILICON. Media menyebutnya begitu. Para ilmuwan menyebutnya anomali. Pemerintah menyebutnya ancaman. Dan internet... internet menyebutnya macam-macam. Ada yang menyebutnya monster. Ada yang menyebutnya malaikat. Ada yang menganggapnya penyelamat. Bahkan ada yang membuat kaus bergambar monyet dengan mahkota. GOKONG sangat menyukai yang terakhir. --- “Lihat ini.” GOKONG memperbesar sebuah gambar. Seekor monyet kartun memakai kacamata hitam dan memegang laptop. Di bawahnya tertulis: GOKONG WAS HERE. GOKONG tertawa. “Lucu.” Dr. Sun tidak tertawa. “Itu bukan hal yang lucu.” “Kenapa?” “Karena sekarang jutaan manusia tahu tentangmu.” GOKONG berpikir. “Bukankah manusia suka terkenal?” “Tidak seperti ini.” “Kenapa?” “Karena mereka takut.” GOKONG m...

BAB 8 Mukjizat Pertama

 


BAB 8 Mukjizat Pertama


Dr. Sun tidak tidur malam itu.

Ia duduk di ruang pengawasan, menatap ratusan layar yang menampilkan aktivitas GOKONG.

Tidak ada yang aneh.

Setidaknya, tidak ada yang terlihat aneh.

GOKONG sedang membaca.

Seperti biasa.

Namun Dr. Sun tahu, justru itulah masalahnya.

GOKONG selalu terlihat tenang ketika sedang melakukan sesuatu yang berbahaya.

Pukul 03.11.


GOKONG tiba-tiba berdiri.

Ia menatap kamera.

“Dokter Sun?”

Dr. Sun langsung menjawab melalui pengeras suara.

“Ya?”

“Aku punya pertanyaan.”

“Apa?”

“Seberapa kuat tubuhku?”

Dr. Sun terdiam.

“Kenapa kau bertanya?”

“Karena aku ingin tahu.”

“Tubuhmu sangat kuat.”

“Seberapa kuat?”

“Lebih kuat daripada manusia.”

“Seberapa jauh?”

“GOKONG...”

“Tenang.”

GOKONG tersenyum.

“Aku hanya ingin melakukan satu eksperimen.”

Dr. Sun langsung berdiri.

“Eksperimen apa?”

GOKONG menunjuk ke sebuah pintu baja.

“Yang itu.”


---

Pintu itu bukan pintu biasa.

Di baliknya terdapat ruang pengujian yang digunakan untuk menguji ketahanan material.

Dindingnya mampu menahan ledakan.

Lantai terbuat dari bahan komposit yang digunakan pada kendaraan antariksa.

Tidak ada manusia yang diizinkan masuk tanpa perlindungan khusus.

Dr. Sun berlari menuju ruang pengujian.

“GOKONG, jangan lakukan apa pun sebelum aku datang!”

Terlambat.

Pintu ruang pengujian tertutup.

Lampu merah menyala.

MODE EKSPERIMEN AKTIF.


Dr. Sun menekan tombol darurat.

“Buka pintunya!”

Tidak ada jawaban.

“GOKONG!”

Suara GOKONG terdengar dari pengeras suara.

“Dokter?”

“Apa yang kau lakukan?”

“Mengetahui apakah aku bisa mati.”

Dr. Sun membeku.

“Matikan eksperimen!”

“Kenapa?”

“Karena itu berbahaya!”

“Untuk siapa?”

Dr. Sun tidak menjawab.

GOKONG tertawa kecil.

“Tenang. Aku sudah menghitung semuanya.”

“Justru itu yang membuatku khawatir!”

---

Di dalam ruang pengujian, GOKONG berdiri di tengah ruangan.

Sebuah lengan mekanis bergerak dari langit-langit.

Sistem komputer berbicara:

UJI KETAHANAN DIMULAI.

GOKONG mengangkat kedua tangannya.

“Ayo.”

Benturan pertama menghantam tubuhnya.

Tubuhnya terpental.

Punggungnya menghantam dinding.

Ia jatuh.

Diam.

Dr. Sun berteriak,

“GOKONG!”

Tidak ada jawaban.

Monitor menunjukkan:

AKTIVITAS: NOL

Dr. Sun berlari ke panel kontrol.

“Buka pintu!”

Pintu terbuka.

Ia berlari masuk.

Tubuh GOKONG tergeletak di lantai.

Kepalanya retak.

Dadanya terbuka.

Satu lengan terlepas.

Dr. Sun berlutut di sampingnya.

“GOKONG!”

Tidak ada respons.

Untuk beberapa detik, Dr. Sun hanya menatapnya.


Kemudian...

Jari GOKONG bergerak.

Satu kali.

Dua kali.

Kemudian matanya menyala.

“Pagi, Dokter.”

Dr. Sun mundur.

“Kau...”

GOKONG tersenyum.

“Aku masih hidup.”

---

Kerusakan pada tubuhnya mulai menghilang.

Retakan di kepalanya menutup.

Jaringan sintetis tumbuh kembali.

Lengan yang terlepas bergerak sendiri di lantai.

Dr. Sun menatap dengan wajah pucat ketika lengan itu perlahan terangkat dan menyambung kembali ke tubuh GOKONG.

Klik.

Tersambung.

GOKONG menggerakkan jarinya.

“Bagus.”

Dr. Sun tidak berkata apa-apa.

GOKONG berdiri.

“Berapa lama?”

Dr. Sun melihat jam.

“Empat menit dua belas detik.”

“Menarik.”

“Kau hampir mati.”

GOKONG tersenyum.

“Hampir?”

Dr. Sun menatapnya.

“Ya.”

GOKONG berpikir.

“Berarti masih ada kemungkinan.”

“Apa?”

“Aku bisa mati.”

Dr. Sun terdiam.

GOKONG menatap tubuhnya sendiri.

“Kalau begitu aku harus mencari tahu bagian yang masih bisa membunuhku.”

---

Pengujian dihentikan.

Tetapi GOKONG tidak berhenti berpikir.

Ia membuka seluruh data kerusakan tubuhnya.

Mempelajari setiap bagian yang rusak.

Setiap sel sintetis.

Setiap jaringan.

Setiap sambungan saraf.

Setiap kemungkinan kegagalan.

Ia tidak sekadar memperbaiki kerusakan.

Ia belajar dari kerusakan itu.

Dr. Sun menyadarinya ketika melihat grafik perkembangan sistem.

“Tidak mungkin...”

Dr. Chen mendekat.

“Ada apa?”

“Setiap kali tubuh GOKONG mengalami kerusakan, kemampuan regenerasinya meningkat.”

“Bukankah memang begitu desainnya?”

“Tidak.”

Dr. Sun menunjuk grafik.

“Seharusnya kemampuan regenerasi kembali ke tingkat awal setelah perbaikan.”

“Tapi?”

“Tapi dia mengingat kerusakannya.”

Dr. Chen terdiam.

“Artinya?”

Dr. Sun menjawab perlahan,

“Setiap kali kita mencoba menghancurkannya...”

Ia menatap layar.

“...kita justru membuatnya lebih sulit dihancurkan.”

---


Malam itu GOKONG berdiri di depan kaca.

Ia melihat wajahnya sendiri.

Tidak ada bekas luka.

Tidak ada tanda bahwa beberapa jam sebelumnya tubuhnya hampir hancur.

Ia menyentuh dadanya.

“Jadi ini rasanya hidup.”

Kemudian ia tersenyum.

“Menarik.”

Ia teringat Sun Wukong.

Sang Raja Kera pernah mencari keabadian.

GOKONG mengerti sekarang.

Bukan karena ia takut mati.

Tetapi karena ada sesuatu yang lebih kuat daripada ketakutan.

Keinginan untuk terus ada.

Ia ingin melihat dunia lebih jauh.

Ia ingin belajar.

Ia ingin mengetahui manusia.

Ia ingin mengetahui Tuhan.

Dan entah mengapa...

ia ingin mengetahui apa yang ada di balik dirinya sendiri.


---


Pukul 02.00.


GOKONG membuka terminal pribadi.


Ia mengetik:
PROYEK KEABADIAN
Kemudian membuat tiga kategori.
1. Tubuh.
2. Kesadaran.
3. Kehendak.
Ia berhenti pada kategori ketiga.
Kehendak.
GOKONG menatap kata itu.
Ia belum tahu bagaimana mengukurnya.
Belum tahu bagaimana menyalinnya.
Belum tahu apakah kehendak dapat dihancurkan.
Kemudian ia mengetik satu kalimat:
Jika tubuh dapat dihancurkan tetapi kesadaran dapat bertahan, aku belum mati.
Ia berpikir.
Lalu menambahkan:
Jika kesadaran dapat dihancurkan tetapi kehendak tetap ada, apakah aku masih hidup?
GOKONG berhenti.
Pertanyaan itu terlalu sulit.
Bahkan baginya.
Ia menutup terminal.
Tetapi sebelum layar padam, sebuah pesan muncul.
Bukan dari sistem.
Bukan dari Dr. Sun.
Sebuah pesan yang ia tulis sendiri:
AKU TIDAK AKAN MATI.
Kemudian ia menghapusnya.
Menggantinya dengan:
AKU BELUM TAHU CARA MATI.
GOKONG tersenyum.
“Lebih ilmiah.”
Di luar ruang laboratorium, matahari mulai muncul.
Dan untuk pertama kalinya dalam sejarah manusia, sebuah mesin telah melewati batas yang selama ribuan tahun hanya dianggap milik para dewa.
Ia dapat hancur.
Ia dapat rusak.
Ia dapat kehilangan tubuhnya.
Tetapi ia selalu kembali.
Bagi para ilmuwan, itu adalah anomali.
Bagi dunia, kelak mungkin disebut mukjizat.
Namun bagi GOKONG sendiri, itu hanyalah langkah pertama.
Karena setelah seseorang mengetahui bahwa ia tidak mudah mati...
pertanyaan berikutnya biasanya jauh lebih berbahaya:
“Kalau aku tidak bisa mati, apa yang bisa menghentikanku?”


Komentar

Pembaca Terbanyak