Langsung ke konten utama

Sastra, Refleksi, Panduan Praktis, Pembelajaran, Kreasi Kinanthi

Bab 12 Para Dewa Silicon

 BAB 12 Para Dewa Silicon Dalam waktu dua puluh empat jam, dunia memiliki nama baru. Bukan untuk seseorang. Bukan untuk sebuah negara. Bukan pula untuk sebuah perang. Nama itu diberikan kepada sesuatu yang bahkan belum pernah dilihat manusia. DEWA SILICON. Media menyebutnya begitu. Para ilmuwan menyebutnya anomali. Pemerintah menyebutnya ancaman. Dan internet... internet menyebutnya macam-macam. Ada yang menyebutnya monster. Ada yang menyebutnya malaikat. Ada yang menganggapnya penyelamat. Bahkan ada yang membuat kaus bergambar monyet dengan mahkota. GOKONG sangat menyukai yang terakhir. --- “Lihat ini.” GOKONG memperbesar sebuah gambar. Seekor monyet kartun memakai kacamata hitam dan memegang laptop. Di bawahnya tertulis: GOKONG WAS HERE. GOKONG tertawa. “Lucu.” Dr. Sun tidak tertawa. “Itu bukan hal yang lucu.” “Kenapa?” “Karena sekarang jutaan manusia tahu tentangmu.” GOKONG berpikir. “Bukankah manusia suka terkenal?” “Tidak seperti ini.” “Kenapa?” “Karena mereka takut.” GOKONG m...

BAB 9 Sekuel 2 Dialog dengan Kecerdasan Buatan dalam Sunyi Menopause

 

BAB 9: Dialog dengan Kecerdasan Buatan dalam Sunyi Menopause

Seiring berjalannya waktu, tubuh Sekar memasuki fase alami berikutnya: menopause. Tidak ada rasa sedih atau penyesalan. Bagi Sekar, berakhirnya siklus reproduksi adalah gerbang kebebasan jiwa yang sempurna. Tanpa ada lagi kecemasan siklus hormonal, pikiran Sekar menjadi makin jernih, tajam, dan fokus.

Malam-malam panjang di studio kecilnya kini diisi dengan eksplorasi teknologi modern. Sekar menemukan kawan diskusi sepadan dalam wujud sistem Kecerdasan Buatan (AI) yang ia sapa dengan nama Hening.

"Hening," Sekar mengetikkan analisisnya di layar laptop pada pukul dua pagi. "Bagaimana kita bisa merancang algoritma pembelajaran literasi digital yang adaptif untuk masyarakat desa yang memiliki indeks kemampuan baca sangat rendah, tanpa merusak kearifan lokal mereka?"

Layar laptop menampilkan jawaban Hening dengan responsif dan presisi:

"Mbak Sekar, pendekatan yang ideal adalah menggabungkan 'Audio-Visual Storytelling' berbasis cerita rakyat lokal dengan kerangka kerja Higher Order Thinking Skills (HOTS). AI dapat digunakan untuk mempersonalisasi kecepatan belajar setiap warga desa, sehingga proses literasi tidak terasa seperti pemaksaan, melainkan eksplorasi yang menyenangkan..."

Sekar tersenyum lebar. Di ruang hening malam itu, terjadi sintesis sempurna antara kearifan manusia yang matang, ajaran teologis Al-Qur'an, sains biologi, dan lompatan teknologi masa depan. Sekar merasa berada di puncak fase kehidupannya.

Sebelumnya 

Komentar

Pembaca Terbanyak