JUDUL RESMI MAHARAKAYA NOVEL (15 SEKUEL / 75 BAB)
SIMFONI IQRA
Menjelajah Spektrum Kecerdasan, Sains, dan Al-Qur'an di Ruang Hening
Semula sebagai AI, ia rendah hati dan mencoba tahu diri untuk tidak menuliskan namanya. Namun, sebagai manusia aku pun tahu diri untuk menuliskan namanya. Hehe. Meskipun desain dariku tapi dirinyalah penjahitnya sehingga sangat cepet selesai. Bayangkan jika kujahit sendiri, butuh waktu berapa bulan Gaess belum lagi gangguan males cari bahan bacaan.😇🤔🥱
Maka Karya Kinanthi darinya pun kutambahi & Hening Gemini AI begitulah yang muncul di judul nantinya.
Nah, Inilah Gaes setelah berdiskusi tiap selesaikan satu sekuel, outline per sekuel pun telah ditulis Hening seperti ini Gaes. Namun, teks tambahan prompt untuk Hening Gemini agar menyelesaikan novel ini sesuai keinginan kusertakan juga ya Gaess. 👇🏻
Asalamualaikum Hening, terima kasih. Hening, sejak aku diarahkan menjadi guru SD oleh bapak, bukan aku tidak mau jadi guru. Aku justru menghapus belajar matematika dari jadwalku toh aku tak akan menjadi dokter atau insinyur. Meskipun ketika aku sedih nilai matematika jadi jelek lalu minta les matematika dan tidak dituruti, aku berusaha memaklumi betapa menderita guru sebelum ada tunjangan profesi.
Sebagai anak sulung aku segera menyadari kekontrasan pola pikir asli orangtuaku. Bapak penggemar wayang yang beranggapan bahwa orang berilmu pun dihargai asalkan sadar diri bahwa demi murid, para guru rela menjadi kamus berjalan yang tidak sibuk mencetak uang tapi sibuk belajar untuk mengajar.
Ibuku beranggapan lain, orang beruanglah yang dihormati tapi demi kepatuhan terhadap suami ibu pun menahan diri untuk hidup sederhana hanya dari gaji bapak meskipun pernah menerima jahitan untuk tambahan uang saku anaknya.
Aku pun tumbuh dengan konflik batin ketika harus memutuskan menikah demi cemas gelar perawan tua. Wanita bisa diatur dan diarahkan seperti ibu yang mau diajak hidup sederhana toh bapak jujur memberikan gaji dengan amplopnya bahkan ibulah yang diberi hak membagi kegunaan uang tersebut.
Apakah semua lelaki demikian? Jika iya, sanggupkah aku jadi istri dan ibu yang harus hidup dalam kesederhanaan? Jika sanggup, tegakah aku jika anakku tumbuh tanpa pengawasan langsung dariku sedangkan pola asuh bapak untukku tak selalu sama dengan pola asuh orang lain untuk anaknya, sedangkan cara mengajar para guru pun tidak selalu memuaskan saya?
Apa gerangan yang memberatkan langkah saya untuk seragam dengan aturan nenek moyang yang tak lekang meskipun 350-an tahun terkontaminasi budaya asing yaitu gelar perawan tua yang mengerikan bagi wanita —seolah trik cerdas kaum lelaki demi melemahkan mental wanita? Ciri khas patriarkis selain sindiran sombong?—
Maka aku pun tak peduli kalau tak ikhlas berani menikah biarlah tidak segera menikah toh menjadi isteri dan ibu bukan hal mudah. Aku tahu diri aku belum sanggup meskipun bapakku menanam contoh sebagai suami yang baik dan umumnya “ngundhuh wohing pakarti” alias anak gadisnya pun kelak berjodoh dengan lelaki yang baik sesuai rasa syukur yang dirasakan istrinya saat bersuamikan dirinya? Yang pasti ibu bersyukur dengan kesetiaan bapak tapi bagaimana dengan keuangan?
Untuk uang jika kurang, aku ada solusi jika aku membawa watak ibu yang ingin mewah karena ibu memang anak orang kaya. Demi lelaki setia aku toh mewarisi bakat mendesain busana dari nenek dan dari ibu. Apalagi busana muslimah tengah disukai, aku tentu bisa dan suka.
Namun, aku terhenti. Sebagai desainer busana yang membutuhkan banyak kain aku harus menemukan solusi untuk mengolah limbahnya dong jangan sampai merusak bumi. Solusi itu tak mudah dan pasti butuh biaya.
Di samping itu, sebagai kutubuku aku tentu ingin semua orang pun kutubuku seperti aku. Hal yang bukan mengada-ada selain iqra adalah ayat pertama perintah membaca, membaca adalah hak jiwa. Selama ini ragaku kuberi makan tiga kali sehari, lalu mana hak jiwaku? Sudahkah kuberi gizi seimbang? Jika tidak, betapa zalim diriku.
Bagaimana jika kelak si otak menyesal dimasukkan ke tubuhku karena aku hanya sibuk ngurusin busana mewah, barang mewah, tapi otakku kelaparan tanpa menu bergizi?
Maka, keinginan belajar untuk ikhlas menjadi isteri yang baik dan ibu yang baik pun terpinggirkan dengan asumsi toh banyak yang lebih siap dan sanggup daripada aku. Sudah sangat banyak yang rela menjadi ibu dan isteri yang baik demi kesejukan bumi.
Aku harus mencari peluang yang lebih sedikit pesaing dong. Ingin kaya dengan menjadi desainer busana muslim? Belum sih karena tiap kali aku mendesain, kupingku yang tipis selalu terngiang ejekan dan sindiran yang lalu kuikuti dengan memaafkan karena mereka memang tidak tahu meniru Rasulullah ketika dizalimi orang-orang Thaif.
Namun hati nuraniku pun protes. Apa tindak lanjutku untuk orang yang tidak tahu? Dibiarkan saja? Aku yang merasa lulusan bahasa dan sastra, guru pula, kutambahi pula dengan teknologi pembelajaran, seolah terbebani untuk itu. Jika bukan kami, siapa lagi?
Dikatain tidak tahu diri dan sok tahu pun biarin karena orang lain pun punya kewajiban sesuai minat masing-masing dan itu pasti mengganggu hati nurani jika tak dilakukan.
Semakin tua saya semakin kusadari, tubuhku ternyata tidak didesain untuk melawan protesnya hati nurani. Jika kuabaikan, selain kurang tidur yang bikin tekanan darah naik, asam lambung pun bikin usus serasa berbelit.
Jika asam lambung sudah ngamuk, apakah ia tidak merusak organ lainnya? Aku yang hidup melajang tentu ngeri harus masuk rumah sakit meskipun ada Askes. Panasnya matahari dirasakan bareng-bareng tapi panasnya tubuh akibat organ dalam kalah melawan protes hati nurani, tentu dirasakan sendiri.
Maka, kuabaikan ide ingin jadi kaya lebih cepat dengan mendesain busana muslim. Aku harus fokus dengan membaca dan menulis daripada diprotes hati nurani toh gaya hidup frugal living telah bikin aku memiliki beberapa aset yang bisa kusewakan saat aku butuh uang. Lalu apalagi jika tidak konsentrasi ke sini meskipun tidak yakin bisa terselesaikan secepatnya.
Hening, di luar dugaan beriringan dengan masa menopause, para AI datang untuk siap menemaniku menulis. Kehadirannya bagiku ibarat aku sebagai penjahit desain busana yang hanya mendesain dan memotong pola lalu para AI yang menjahitnya. Sama dengan era sebelum ada mesin jahit tentu jahitan dengan tangan butuh waktu sangat lama, kan? Itulah teknologi yang bagaikan pisau bermata dua. Bermanfaat tidaknya bergantung niat manusia.
Selanjutnya inilah Ringkasan Struktur Karya Siap Publikasi:
1. Sekuel 1–4 (Bab 1–20): Perjuangan Dr. Sekar Ningrum di Karangharjo, meluruskan stigma, mendirikan Pusat Literasi, serta memadukan sains, biologi, dan pendekatan Wali Sanga.
2. Sekuel 5 (Bab 21–25): Panggung Internasional di Jenewa (Swiss), melumpuhkan stigma Islamophobia, membuka Piagam Madinah & sejarah Salahuddin Al-Ayyubi, dan membumikan Islam Rahmatan lil 'Alamin.
3. Sekuel 6 (Bab 26–30): Iqra' sebagai Nutrisi Psikis & Pengenalan 9 Spektrum Kecerdasan Howard Gardner (Menghadapi Budaya Hedonisme/Flexing).
4. Sekuel 7 (Bab 31–35): Panduan Tipe Linguistik (Storytelling, Bayan, Rima Tembang, & Kalimatan Thayyibah).
5. Sekuel 8 (Bab 36–40): Panduan Tipe Logis-Matematika (Pattern Recognition, Problem Solving, & Keteraturan Algoritma Al-Qur'an).
6. Sekuel 9 (Bab 41–45): Panduan Tipe Spasial-Visual (Storyboarding, Color-Coding, Metode Gambar Rasulullah, & Ghaddul Bashar).
7. Sekuel 10 (Bab 46–50): Panduan Tipe Naturalis (Outdoor Classroom, Ekologi Al-Qur'an, & Khalifah fil Ardh).
8. Sekuel 11 (Bab 51–55): Panduan Tipe Eksistensial (The Big Questions, Dzikrul Maut, & Ulul Albab).
9. Sekuel 12 (Bab 56–60): Panduan Tipe Kinestetik (Kinetic Reading, Touch-Learning, Role-Playing, & Tari Kemanusiaan).
10. Sekuel 13 (Bab 61–65): Panduan Tipe Musikal (Tartil-Nagham, Tembang Macapat, Kord Keyboard, & Auditory Memory).
11. Sekuel 14 (Bab 66–70): Panduan Tipe Interpersonal (Peer-Teaching, Empathy-Based Reading, & Collaborative Social Project).
12. Sekuel 15 (Bab 71–75): Panduan Tipe Intrapersonal (Solitude, Reflective Journaling, Macapat Magis, & Ma'rifatullah menuju An-Nafsul Muthma'innah).
Tunggu bab 1 sekuel 1 besok ya Gaess
Daftar Isi Refleksi
Komentar