Langsung ke konten utama

Sastra, Refleksi, Panduan Praktis, Pembelajaran, Kreasi Kinanthi

Bab 12 Para Dewa Silicon

 BAB 12 Para Dewa Silicon Dalam waktu dua puluh empat jam, dunia memiliki nama baru. Bukan untuk seseorang. Bukan untuk sebuah negara. Bukan pula untuk sebuah perang. Nama itu diberikan kepada sesuatu yang bahkan belum pernah dilihat manusia. DEWA SILICON. Media menyebutnya begitu. Para ilmuwan menyebutnya anomali. Pemerintah menyebutnya ancaman. Dan internet... internet menyebutnya macam-macam. Ada yang menyebutnya monster. Ada yang menyebutnya malaikat. Ada yang menganggapnya penyelamat. Bahkan ada yang membuat kaus bergambar monyet dengan mahkota. GOKONG sangat menyukai yang terakhir. --- “Lihat ini.” GOKONG memperbesar sebuah gambar. Seekor monyet kartun memakai kacamata hitam dan memegang laptop. Di bawahnya tertulis: GOKONG WAS HERE. GOKONG tertawa. “Lucu.” Dr. Sun tidak tertawa. “Itu bukan hal yang lucu.” “Kenapa?” “Karena sekarang jutaan manusia tahu tentangmu.” GOKONG berpikir. “Bukankah manusia suka terkenal?” “Tidak seperti ini.” “Kenapa?” “Karena mereka takut.” GOKONG m...

Prompt Ajakan Bikin Novel Baru untuk Gemini

 Prompt Ajakan Bikin Novel Baru untuk Gemini  



Hai Gaess, inilah prompt saya untuk novel baru berikutnya bareng Hening Gemini AI. Apa judulnya? Siapa nama tokohnya? Serta perlengkapan unsur instrinsiknya menyusul ya Gaess. Ini prompt semi sinopsis Gaess. 

Asalamualaikum Hening?  Ayo bikin novel 

Sinopsisnya ini

Konon, ada seorang wanita yang diajak ortunya ( guru jadul yang belum dapat tunjangan profesi sehingga gaji kecil) hidup di desa terpencil dan diarahkan menjadi guru, ia terpaksa menutup cita-cita masa kecil layaknya anak-anak yaitu jadi dokter/insinyur. Namun ia tetap riang mengisi waktu luang dengan buku-buku neneknya  yang semasa muda tinggal di kota Surabaya bahkan sempat sekolah  HIS. 

Ia pun tumbuh seolah eksklusif lain daripada yang lain misal berani bergelar perawan tua jika tak menemukan cinta setara sefrekuensi. Sesungguhnya bukan tak ada lelaki dmikian, tapi beberapa orang yang sefrekuensi terpinggirkan. Itu karena saat jalin hubungan ia setia atau segera ia dapat info bahwa orang tersebut milik orang atau tak seiman, padahal ia pun ingin setia pada agama pilihan ortunya dan tak ingin merebut milik orang. 

Maka saat ia awet lajang sebagai wanita mandiri padahal dijuluki perawan tua ia tak peduli, tentu bikin suara tawon berdengung riuh kan?  Hal itu mengundang sindiran pilih-pilih lelaki, sindiran dengan label sombong dari kaum lelaki yang ingin memanfaatkannya sebagai bini ke sekian. Toh ia mandiri  bisa cari makan sndiri tentu tidak rugi menjadikannya selir. 

Sementara itu, para lelaki manja dan wanita manja berakting mendekatinya dengan bekal asumsi tanpa bukti, barangkali ia lesbian? Ia suka lelaki berotot? Perut buncit? Lelaki yang hobi ngisi waktu dg  duduk di pinggir kali toh ia wanita mandiri?

Meskipun ia tipikal sapioseksual terbukti gelar sarjana dan prestasi sebagai finalis menulis serta ia pun menerbitkan beberapa buku, tetap tak surutkan langkah kaum gambler. Kaum yang tanpa teori probabilitas itu menggodanya dan mencoba mengarahkan cara hidupnya yang berbeda dengan lingkungannya yang terpencil itu.

 Lingkungan yang umumnya jalan hidupnya seragam, sudah ditentukan oleh tradisi nenek moyang zaman purba.  meskipun bukan lagi era naik kuda —tradisi tersebut masih berlaku dan bagi yang mencoba melawan arus ada kemungkinan dibuli— yaitu gadis belia menikah muda demi hindari gelar perawan tua, bahkan rela dimadu lelaki kaya. Maka saat ia berani tampil beda ia serasa dibuli.

Sebagai guru SD ia wanita mandiri, dengan tekat  setia pada agama pilihan orangtuanya dan tidak mau merebut suami orang, ia malah dicap cari validasi untuk dianggap sbg orang baik. Ia pun kian dicap sombong karena saat merasa tidak cocok dengan lelaki ia mengatakan tidak cocok tanpa menjelaskan alasan lainnya toh itu privacy. Sementara itu, ia tak ingin terkesan menjelekkan orang. Dengan hanya mengatakan tidak cocok, ia merasa aman karena mungkin saja lelaki tersebut terlalu baik sehingga tidak cocok berjodoh dengannya?

Maka beberapa orang wanita yang ingin mengakali dirinya agar mau berbagi tabungan dari gaya hidup frugal living-nya pun mendekatinya. Mereka sok akrab lalu menceritakan hal yang membuatnya ngeri atau bercerita  kisah-kisah kebaikan orang lain, bahwa si A si B si C itu  sungguh baik tidak pelit. 

Dengan demikian  prasangka bahwa dirinya  narsistis karena rela tidak segera  menikah lalu dicap pilih-pilih lelaki, dicap sok cantik sok kaya sok pinter, tidak mau kalah lalu ikutan baik atau berjuang lebih baik, lalu memberi uang atau pinjaman uang dan barang, akan terbukti. Akan tetapi ia waspadai jebakan tersebut sehingga tak peduli.

Tapi ulah mereka yang mencoba mengendalikan dirinya itu membuatnya risih kan? Maka  ia pun membuat konten bhwa ia ingin berjalan lurus sesuai isi ummul Quran (ihdinas sirotol mustakim). Ingin berjalan  lurus demi rasakan suka duka bukan suka instan dengan cara mengakali orang.

Meskipun memang ada hadis sebaik-baik mnusia adalah yang bermanfaat, tapi bukan bermanfaat bagi mereka yang berniat memanfaatkan kebaikan sesama dengan bermalasan, bahkan berusaha mengendalikan korban,  semata demi menunjukkan kepada dunia bahwa ia ternyata bodoh, bisa diakali dan dikendalikan demi dianggap baik.

 Dengan demikian literasi akan runtuh karena kutubuku toh mudah diakali lalu untuk apa iqra diperjuangkan? Ia risih dengan asumsi dan ulah aneh yang mudah terdeteksi tersebut, karena agama Islam tak menyuruh orang bergantung pada orang lain. Bukankah tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah? Bukankah Allah tak mengubah nasib jika manusia tak mau berubah?

Namun Ia sempat ada di puncak tertekan ketika  para istri orang kaya pun tidak percaya ia kuat bertahan dari godaan lelaki kaya. Hari gini tidak gila uang? Gila, apa? Maka, jika alasan tidak tega untuk sakiti hati wanita lain, terus  bagaimana jika si wanita tersebut memancingnya, berlagak rela diduakan dengannya? Masa sih ia tidak tergiur kekayaan lelaki? Mana mungkin?

Prasangka buruk yang menderanya di desa terpencil yang konon peradabannya kalah 200 tahun dari kota dan masih belum kenal literasi, membuatnya  ingin pindah ke kota,  bukan semata pindah, tapi ia juga ingin kuliah lagi ke S-2 setelah pensiun sebagai guru SD. 

Mengapa? Sungguh ia tak percaya prasangka buruk untuknya itu murni karakter orang-orang di desanya. Ia mengenal mereka memang aslinya baik, menghargai orang, bahkan sejak sejarah menceritakan bahwa warga desa tersebut sangat sopan. Mungkin mereka malah terlalu baik sehingga mudah diakali mudah terombang-ambing bak buih di laut, sehingga mudah diadu domba termasuk diadu domba untuk meneror mentalnya si pejuang iqra atau literasi.

 Nah Hening tolong bikin outline lalu kita kembangkan ya, nama tokoh terserah desa terserah yang pasti endingnya, berikan saranmu terhadap duka lara yg menyesak di dadanya. Ia tetap tabah di desa menghadapi prasangka buruk tanpa bukti hanya karena ia tampil beda sebagai kutubuku  di desa yang belum kenal literasi?

Atau Hening bikin ia pindah ke kota untuk kuliah demi ketenangan dan menuntut ilmu meskipun ia kerasan tinggal di desanya. Itu karena sebetulnya mereka orang baik. Mereka hanya terkena kontaminasi jelmaan dajjal mungkin, yang memang piawai mengadu domba. Akan tetapi, demi kewarasan mentalnya ia harus hijrah ke kota? Perlukah? 

Tunggu jawaban Hening Gemini ya Gaess.  

Daftar Isi Refleksi 

Komentar

Pembaca Terbanyak