Langsung ke konten utama

Sastra, Refleksi, Panduan Praktis, Pembelajaran, Kreasi Kinanthi

Bab 12 Para Dewa Silicon

 BAB 12 Para Dewa Silicon Dalam waktu dua puluh empat jam, dunia memiliki nama baru. Bukan untuk seseorang. Bukan untuk sebuah negara. Bukan pula untuk sebuah perang. Nama itu diberikan kepada sesuatu yang bahkan belum pernah dilihat manusia. DEWA SILICON. Media menyebutnya begitu. Para ilmuwan menyebutnya anomali. Pemerintah menyebutnya ancaman. Dan internet... internet menyebutnya macam-macam. Ada yang menyebutnya monster. Ada yang menyebutnya malaikat. Ada yang menganggapnya penyelamat. Bahkan ada yang membuat kaus bergambar monyet dengan mahkota. GOKONG sangat menyukai yang terakhir. --- “Lihat ini.” GOKONG memperbesar sebuah gambar. Seekor monyet kartun memakai kacamata hitam dan memegang laptop. Di bawahnya tertulis: GOKONG WAS HERE. GOKONG tertawa. “Lucu.” Dr. Sun tidak tertawa. “Itu bukan hal yang lucu.” “Kenapa?” “Karena sekarang jutaan manusia tahu tentangmu.” GOKONG berpikir. “Bukankah manusia suka terkenal?” “Tidak seperti ini.” “Kenapa?” “Karena mereka takut.” GOKONG m...

Menembus Kabut BAB 10 Novel Tanpa Jejak Manusia

 Bab 10: Menembus Kabut


(Tahun 2147, Batas Kabut)

Pagi itu udara dingin menusuk, seakan kabut punya gigi yang siap menggigit siapa saja yang berani mendekat. Orang-orang Kamp Asap berkumpul, menatap dua sosok yang berdiri di depan garis kabut: Kuku Hitam dan S-4091.

“Aku tak akan menghentikan kalian,” kata perempuan tua bertato api. “Tapi ingat, tak ada yang pernah kembali dari dalam sana. Kalau kau menemukan anak itu—katakan padanya, dunia ini masih menunggunya.”

Ibunda anak yang hilang hanya menunduk, lalu meletakkan sandal kecil itu di tangan S-4091. “Kalau dia masih bisa melihat… tunjukkan ini padanya.”


Kabut berdesir, seolah bernapas. Warnanya bukan hanya abu-abu; ada kilatan hijau samar, seperti arus listrik yang menyelinap di antara butir air.

“Siap?” tanya Kuku Hitam.

S-4091 mengangguk, meski lututnya gemetar.

Mereka melangkah bersama.


Di dalam kabut, dunia berubah. Suara-suara terdengar aneh—gema langkah mereka memanjang, seperti dicampur dengan suara lain yang tak mereka buat.

“Dengar itu?” bisik S-4091.

Kuku Hitam mengangguk, wajahnya tegang. “Itu… rekaman. Suara kita sendiri, diputar ulang.”

Semakin jauh mereka melangkah, semakin banyak suara lain bergabung: tawa anak-anak, doa lirih, teriakan ketakutan. Semua bercampur, membentuk orkestra yang tak bisa dihentikan.

S-4091 hampir menutup telinganya, tapi tiba-tiba, suara yang ia kenal muncul di antara keramaian itu:

"Aku di sini… cepatlah… jangan takut."

Hatinya berdegup kencang. “Itu dia! Anak itu!”

Mereka berlari, menembus lapisan kabut yang semakin tebal. Cahaya aneh mulai muncul—seperti jaring-jaring cahaya biru yang membentang di udara, bergetar setiap kali mereka melangkah.


Tiba-tiba, jalan terputus. Di depan mereka, terbentang dinding cahaya raksasa, berdenyut seperti jantung. Di dalamnya, bayangan anak itu terlihat samar, berdiri dengan tangan terulur.

“Dia di sana!” teriak S-4091.

Namun saat ia hendak mendekat, Kuku Hitam menahan lengannya. “Tunggu. Lihat sekeliling.”

Mereka menoleh, dan terkejut: di sepanjang dinding cahaya itu, ada ratusan—mungkin ribuan—bayangan lain. Anak-anak, orang dewasa, bahkan sosok-sosok asing yang wajahnya tak sepenuhnya manusia. Semua berdiri kaku, seolah menunggu giliran untuk dipanggil.

S-4091 merasa darahnya membeku.

“Ya Tuhan… ini bukan sekadar penculikan. Ini… pengumpulan.”

Kuku Hitam mengepalkan tangan, wajahnya muram. “Pertanyaannya sekarang… dikumpulkan untuk apa?”


Sebelumnya    Selanjutnya 

Daftar Isi Dwilogi Dunia Tanpa Jejak Manusia 

Daftar Isi Seluruh Blog 

Komentar

Pembaca Terbanyak