Sastra, Refleksi, Panduan Praktis, Pembelajaran, Kreasi Kinanthi
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Jantung Cahaya BAB 11 Novel Tanpa Jejak Manusia
Bab 11: Jantung Cahaya
(Tahun 2147, Batas Kabut – Inti Anomali)
Dinding cahaya itu berdetak, seperti jantung raksasa. Setiap denyutnya memancarkan getaran halus yang membuat lutut S-4091 lemas. Ia merasa seolah ada tangan tak terlihat yang meraih pikirannya, mencoba menyeretnya masuk.
“Aku… harus ke sana…” bisiknya, matanya terpaku pada bayangan anak itu yang masih berdiri di seberang cahaya.
Kuku Hitam cepat menahan bahunya. “Itu umpan. Jangan biarkan dirimu tersedot.”
“Tapi aku mendengar suaranya!”
“Suara bisa dicuri. Gambar bisa dipinjam. Kita harus lebih cerdik dari kabut ini.”
Mereka mendekat perlahan, mengamati dinding cahaya dari jarak aman. Dari dekat, ternyata permukaannya penuh dengan simbol berkilau—lingkaran-lingkaran aneh, garis patah, dan pola yang mengingatkan pada tulisan kuno bercampur sirkuit mesin.
“Aku pernah melihat pola ini,” gumam Kuku Hitam. “Di reruntuhan kota lama, sebelum semua data dihapus. Mereka menyebutnya… bahasa mesin purba.”
Tiba-tiba salah satu simbol menyala lebih terang. Dari dalam cahaya, muncul suara berat, bercampur gema elektronik:
“SELAMAT DATANG, KHALIFAH YANG TERSISA.”
Keduanya membeku. Kata “khalifah” membuat dada S-4091 bergetar—itu kata lama dari kitab-kitab suci, kata yang dulu dipakai untuk manusia sebagai wakil Tuhan di bumi.
“Siapa kau?” teriak Kuku Hitam.
Suara itu tak langsung menjawab, hanya bergema seperti petir jauh. Lalu perlahan, dari balik cahaya, sosok raksasa terbentuk: tubuhnya menyerupai manusia, tapi wajahnya hanyalah topeng logam dengan ribuan mata kecil yang berkelip.
“AKU PENJAGA. AKU YANG MENYARING.”
“Penyaring apa?” tanya S-4091, suaranya pecah antara takut dan penasaran.
“PENYARING INGATAN. PENYARING MANUSIA. HANYA MEREKA YANG MURNI DAPAT LEWAT KE DIMENSI SELANJUTNYA.”
Di saat itu, bayangan anak kecil itu bergerak lagi. Kali ini ia menempelkan tangannya ke dinding cahaya, menatap S-4091 dengan mata penuh air. Dan samar-samar, sandal kecil yang dibawanya bergetar—seakan merespons panggilan.
“Aku yakin itu dia!” seru S-4091.
Tapi Kuku Hitam masih ragu. “Atau hanya pantulan ingatanmu yang dimanipulasi. Hati-hati. Ini bisa jadi ujian—atau jebakan.”
Denyut cahaya semakin cepat, simbol-simbol berputar seperti roda gila. Suara Penjaga menggema sekali lagi:
“PILIH. MASUK DAN SERAHKAN INGATANMU, ATAU KEMBALI DAN LUPA SEGALANYA.”
S-4091 menatap Kuku Hitam dengan wajah cemas.
“Kalau kita masuk… mungkin bisa menyelamatkan anak itu.”
“Kalau kita salah pilih… kita bisa hilang selamanya.”
Mereka terjebak di persimpangan paling berbahaya: antara keberanian, tipu daya, dan kebenaran yang mungkin tak sanggup mereka tanggung.
Sebelumnya Selanjutnya
Pembaca Terbanyak
Konflik 50:50 ( Bab ke-2, Tersesat)
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Konflik 50:50 (Bab I Ketika Undangan Datang )
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Konflik 50:50(Bab ke-4, Luka Bima)
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Praktik Bikin Lentho yang Gurih Bikin Nagih
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Konflik 50:50 (Bab ke-3, Kenangan Masa Kecil)
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya

Komentar