Sastra, Refleksi, Panduan Praktis, Pembelajaran, Kreasi Kinanthi
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Penyaring Ingatan BAB 12 Novel Tanpa Jejak Manusia
Bab 12: Penyaring Ingatan
(Tahun 2147, Inti Batas Kabut)
Cahaya berdenyut makin cepat. Simbol-simbol di dinding itu berputar bagai roda nasib. S-4091 merasakan dadanya ditarik, seolah ada magnet yang menuntunnya maju.
“Aku tak bisa lagi menahan langkahku…” desisnya.
Kuku Hitam menghunus belatinya. “Kalau ini jebakan, kita harus siap melawan meski lawan tak punya tubuh.”
Mereka maju setapak, lalu dua tapak. Bayangan anak kecil itu semakin jelas. Namun tiba-tiba—
Cahaya terbelah.
Dari celahnya muncul sosok wanita muda dengan rambut panjang berwarna perak, matanya menyala biru seperti langit yang tak pernah lagi mereka lihat sejak dunia diselimuti kabut. Jubahnya berlapis serabut kristal, memantulkan cahaya seakan ia terbuat dari serpihan bintang.
“Berhenti.” Suaranya tenang, tapi bergema hingga membuat simbol-simbol berhenti berputar.
Kuku Hitam spontan menyiapkan senjata. “Siapa kau? Hantu penjaga? Tipu daya?”
Wanita itu menatap mereka sejenak. Lalu ia mengangkat tangan—dan sandal kecil di genggaman S-4091 bergetar keras, memancarkan cahaya sendiri.
“Nama kalian bukan sekadar angka. Dan anak itu… masih hidup. Tapi untuk mencapainya, kalian harus lolos dari penyaring ingatan.”
Sebelumnya Selanjutnya
Daftar Isi Novel Peradaban Kedua
S-4091 melangkah ragu. “Apa maksudmu dengan penyaring?”
Wanita itu mendekat, cahaya tubuhnya menghangatkan udara dingin. “Di dalam jantung cahaya ini, setiap makhluk diuji. Ingatan yang paling menyakitkan akan diputar kembali. Bila kau menyerah, kau akan kehilangan segalanya dan hanyut jadi bagian kabut. Bila kau bertahan, kau akan menemukan pintu menuju sisi lain.”
Kuku Hitam mendengus. “Dan siapa kau yang tiba-tiba bicara seperti tahu segalanya?”
Wanita itu tersenyum samar. “Aku… disebut Lyra. Salah satu yang dulu hampir dilenyapkan Elite Global. Aku hidup di celah, di antara lapisan data dan kabut. Aku bisa keluar masuk hanya ketika penyaring terbuka.”
S-4091 menelan ludah. “Kau… manusia?”
Lyra menatap mereka dengan mata biru itu. “Manusia. Tapi tubuhku telah dimodifikasi oleh mesin purba agar bisa bertahan. Aku bukan lagi sama sepenuhnya. Aku adalah sisa sekaligus jembatan.”
Simbol-simbol kembali menyala, kini lebih agresif. Suara Penjaga bergema:
“WAKTU HABIS. PILIH.”
Lyra menoleh pada mereka, mendesah lirih. “Jika kalian masuk, aku akan menemani. Tapi aku tak bisa melindungi kalian dari ingatan kalian sendiri. Itu musuh yang paling licin.”
S-4091 menatap sandal kecil di tangannya. “Aku akan masuk. Apa pun risikonya.”
Kuku Hitam menggeram, tapi akhirnya mengangguk. “Kalau begitu, kita bertiga melangkah bersama.”
Mereka menggenggam tangan masing-masing. Cahaya menelan mereka seketika.
Seketika, dunia berubah. S-4091 mendapati dirinya berdiri di sebuah rumah kecil, temboknya retak, bau asap menggantung. Dari dalam terdengar tangis anak kecil—tangis yang sama yang terus menghantuinya.
Kuku Hitam, di sisi lain, terjebak dalam ingatan berbeda: ia melihat dirinya sendiri, berdiri di tengah medan perang, dikelilingi mayat saudara-saudaranya.
Lyra menutup mata, wajahnya pucat. “Ujian sudah dimulai. Jangan percaya pada apa yang kalian lihat—kecuali hati kalian tetap teguh.”
Daftar Isi Dwilogi Dunia Tanpa Jejak Manusia
Pembaca Terbanyak
Konflik 50:50 ( Bab ke-2, Tersesat)
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Konflik 50:50 (Bab I Ketika Undangan Datang )
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Konflik 50:50(Bab ke-4, Luka Bima)
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Praktik Bikin Lentho yang Gurih Bikin Nagih
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Konflik 50:50 (Bab ke-3, Kenangan Masa Kecil)
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya

Komentar