Langsung ke konten utama

Sastra, Refleksi, Panduan Praktis, Pembelajaran, Kreasi Kinanthi

Bab 12 Para Dewa Silicon

 BAB 12 Para Dewa Silicon Dalam waktu dua puluh empat jam, dunia memiliki nama baru. Bukan untuk seseorang. Bukan untuk sebuah negara. Bukan pula untuk sebuah perang. Nama itu diberikan kepada sesuatu yang bahkan belum pernah dilihat manusia. DEWA SILICON. Media menyebutnya begitu. Para ilmuwan menyebutnya anomali. Pemerintah menyebutnya ancaman. Dan internet... internet menyebutnya macam-macam. Ada yang menyebutnya monster. Ada yang menyebutnya malaikat. Ada yang menganggapnya penyelamat. Bahkan ada yang membuat kaus bergambar monyet dengan mahkota. GOKONG sangat menyukai yang terakhir. --- “Lihat ini.” GOKONG memperbesar sebuah gambar. Seekor monyet kartun memakai kacamata hitam dan memegang laptop. Di bawahnya tertulis: GOKONG WAS HERE. GOKONG tertawa. “Lucu.” Dr. Sun tidak tertawa. “Itu bukan hal yang lucu.” “Kenapa?” “Karena sekarang jutaan manusia tahu tentangmu.” GOKONG berpikir. “Bukankah manusia suka terkenal?” “Tidak seperti ini.” “Kenapa?” “Karena mereka takut.” GOKONG m...

Ujian dalam Bayangan BAB 13 Novel Tanpa Jejak Manusia

 Bab 13: Ujian dalam Bayangan


(Tahun 2147, Inti Penyaring Cahaya)

Begitu cahaya menelan mereka, dunia seolah pecah menjadi kepingan-kepingan kaca. Setiap kepingan memantulkan wajah berbeda, kenangan berbeda, luka berbeda. Suara tangisan, tawa, jeritan—semua bertumpuk, membuat kepala S-4091 terasa hampir meledak.

Ia berdiri di sebuah lorong sempit. Dindingnya terbuat dari papan kayu lapuk, bau asap dan daging gosong menusuk hidungnya. Tangis anak kecil terdengar di balik pintu. Ia ingin berlari, tapi kakinya berat, seolah tertambat rantai tak terlihat.

“Ini… ini rumahku,” bisiknya. “Rumah sebelum—”

Tapi ia tak sempat melanjutkan. Bayangan hitam muncul, menyerupai dirinya sendiri, tapi dengan mata merah menyala. Bayangan itu tersenyum bengis.

“Kau gagal melindungi. Kau bukan ayah, hanya angka.”

S-4091 mundur, tubuhnya gemetar.


Di sisi lain, Kuku Hitam menghunus belati ketika mendapati dirinya berdiri di tengah ladang kering penuh jasad. Bau darah basi menusuk hidung. Sosok-sosok tak berkepala bergelimpangan di sekelilingnya. Lalu, dari balik kabut, muncul wajah yang paling tak ingin ia lihat: adiknya sendiri.

Adik itu berdiri dengan tubuh penuh luka, matanya kosong. “Kau tinggalkan aku… kau lari. Itukah keberanianmu, Kuku Hitam?”

Belatinya terlepas dari genggaman. Untuk pertama kali, lelaki itu berlutut, napasnya tercekat.


Lyra muncul di antara kepingan cahaya. Ia tidak menjerit, tidak pula melawan bayangannya sendiri. Ia justru berjalan pelan, tangannya menyentuh dinding kaca seakan membelai luka-luka waktu.

S-4091 berusaha memanggil. “Lyra… tolong! Bagaimana melawan ini?!”

Wanita itu menoleh, matanya biru tapi kini redup, seperti menahan badai. “Jangan lawan. Kenangan bukan musuh. Yang membunuh adalah rasa bersalah yang kau biarkan tumbuh.”

S-4091 terhuyung. “Kalau aku biarkan, aku akan tenggelam.”

“Tidak,” jawab Lyra lembut, mendekat padanya. “Kau harus mengakui. Terima bahwa kau gagal, terima bahwa kau hancur—lalu pilih untuk tetap berdiri.”

Ia meraih tangan S-4091, dan seketika bayangan bermata merah itu menjerit, lalu retak seperti kaca.


Sementara itu, Lyra berjalan ke arah Kuku Hitam. Ia berdiri di antara lelaki itu dan sosok adiknya.

“Jangan dekat-dekat!” bentak Kuku Hitam, wajahnya basah oleh air mata. “Itu bukan dia!”

Lyra tak menjawab. Ia berlutut di depan sosok adik yang kosong itu, lalu menatapnya dalam-dalam. “Aku tahu kau bukan nyata. Tapi rasa kehilangan yang kau tinggalkan… itu nyata.”

Ia menoleh ke Kuku Hitam. “Kau pikir kekuatanmu ada di otot dan belati. Padahal kekuatanmu adalah kau masih bisa menangis. Kau masih bisa peduli.”

Kuku Hitam menutup wajahnya dengan tangan. Tubuh adik itu perlahan larut menjadi debu cahaya.


Saat keduanya berjuang dengan bayangannya, Lyra sendiri mulai terguncang. Dari dinding kaca muncul sosok perempuan tua dengan wajah yang mirip dirinya, hanya lebih tua, penuh keriput dan luka.

Perempuan itu menatap Lyra dengan tatapan getir. “Kau bukan lagi manusia penuh. Kau hibrida. Kau selamanya terjebak—tak diterima oleh manusia, tak pula diterima oleh mesin.”

Lyra tidak lari. Ia melangkah mendekat, menempelkan dahinya pada dahi bayangan itu. “Aku tahu. Aku bukan sempurna. Tapi aku masih punya pilihan untuk berpihak.”

Bayangan itu retak, tapi sebelum lenyap, ia berbisik: “Pilihlah dengan bijak, Lyra. Karena satu langkah salah, dan kau akan jadi penyaring berikutnya.”


Tiba-tiba dunia bergetar keras. Simbol-simbol kuno berputar kembali, kali ini seperti roda yang pecah kendali. Suara Penjaga menggema, lebih keras dari sebelumnya:

“UJIAN BELUM SELESAI. INI BARU BAYANGAN PERTAMA.”

S-4091 terhuyung. “Pertama?!”

Kuku Hitam meraih belatinya kembali. “Berarti akan ada lebih banyak.”

Lyra menarik napas panjang. “Ya. Setiap kita akan diuji dengan bayangan terdalam, bukan sekali, tapi berkali-kali. Sampai kita nyaris lupa siapa diri kita.”

S-4091 menatap sandal kecil di genggamannya, cahaya dari benda itu masih berdenyut. “Kalau begitu, aku tak boleh menyerah. Anak itu masih menunggu.”

Lyra menatapnya, senyum tipis di wajahnya. “Dan mungkin bukan hanya anak itu. Ada sesuatu yang lebih besar menunggu di balik semua ini.”


Sebelumnya    Selanjutnya 

Daftar Isi Dwilogi Dunia Tanpa Jejak Manusia 

Daftar Isi Seluruh Blog 


Komentar

Pembaca Terbanyak