Sastra, Refleksi, Panduan Praktis, Pembelajaran, Kreasi Kinanthi
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Ingatan Telah Terbuka BAB 14 Novel Tanpa Jejak Manusia
(Tahun 2147, Inti Penyaring Cahaya)
Langit di atas mereka terbelah, bukan langit biru, melainkan kubah hitam dengan retakan bercahaya. Dari setiap retakan, memancar kilasan-kilasan ingatan: wajah orang-orang yang pernah mereka cintai, bangunan yang sudah lama runtuh, bahkan bayangan diri mereka yang lebih muda.
S-4091 memandang ke sekeliling, jantungnya berdegup keras. “Apakah ini… masa depan? Atau masa lalu?”
Lyra menatap langit itu dengan mata sendu. “Bukan keduanya. Ini adalah ingatan yang terkunci. Yang tak pernah kalian izinkan keluar. Penyaring membukanya paksa.”
Mereka bertiga kini berdiri dalam ruang luas bagai aula tak berujung. Dinding-dindingnya berupa kaca cair yang terus bergelombang, memantulkan wajah mereka dalam bentuk berbeda.
Kuku Hitam meludah ke lantai. “Aku benci permainan ini. Kalau Penjaga ingin membunuh, kenapa tak langsung?”
Lyra menoleh padanya, suaranya tenang. “Karena tujuan Penjaga bukan membunuh. Tujuannya menyaring. Ia hanya ingin yang kuat—atau yang jujur dengan dirinya sendiri—yang boleh lewat.”
S-4091 mendekat, menatap Lyra lekat. “Kau tampak terlalu paham tentang ini semua. Seolah kau pernah mengalaminya.”
Lyra terdiam. Matanya berkilat sebentar, lalu redup. “Aku pernah gagal dalam penyaring. Aku kehilangan sebagian ingatanku. Nama asliku… aku bahkan tak bisa mengingatnya. Yang tersisa hanya panggilan: Lyra.”
Kedua lelaki itu saling berpandangan. Untuk pertama kali, Kuku Hitam melihat Lyra bukan sebagai makhluk misterius, melainkan sebagai seseorang yang terluka, sama rapuhnya dengan mereka.
Tiba-tiba kaca cair di dinding mengeras, lalu pecah. Dari retakan itu melangkah keluar tiga sosok:
Seorang anak kecil dengan wajah penuh luka—menatap S-4091.
Seorang lelaki muda berseragam perang—menatap Kuku Hitam.
Dan… seorang wanita tua berambut perak, hampir identik dengan Lyra, tapi dengan wajah penuh penyesalan.
Masing-masing sosok berbicara bersamaan, suaranya bergema menusuk dada:
“Mengapa kau meninggalkan kami?”
“Mengapa kau tak pernah kembali?”
“Mengapa kau memilih jalan ini?”
S-4091 memeluk sandal kecilnya erat-erat, tubuhnya gemetar. “Aku… aku tak ingin meninggalkanmu. Aku cuma tak berdaya…”
Kuku Hitam menggertakkan giginya, matanya merah. “Aku kembali! Aku berjuang! Tapi semua sudah mati ketika aku tiba!”
Lyra terdiam lama. Air mata jatuh di pipinya, meski ia coba menahan. Ia menatap sosok wanita tua itu, lalu berkata lirih: “Karena aku takut. Aku memilih bertahan hidup, meski harus kehilangan jati diriku. Dan kini aku hanya sisa bayangan.”
Hening panjang membungkus ruang itu.
Lalu sesuatu yang aneh terjadi. Sosok-sosok bayangan itu tidak menyerang. Mereka justru mendekat, lalu menyentuh masing-masing. Anak kecil menyentuh wajah S-4091, lelaki muda menepuk pundak Kuku Hitam, dan wanita tua memeluk Lyra.
Untuk sesaat, ketiganya merasakan kehangatan—bukan ancaman.
Lyra menatap dua rekannya. “Kalian sadar? Penyaring ini bukan sekadar ujian. Ia ingin tahu apakah kita bisa memaafkan diri sendiri.”
S-4091 menunduk, lalu berbisik, “Kalau begitu… aku memaafkan diriku. Meski aku gagal, aku tetap akan mencari anakku.”
Kuku Hitam mengangkat belati, lalu menancapkannya ke lantai. “Aku memaafkan diriku. Aku bukan pengecut. Aku hanya manusia.”
Lyra memeluk bayangan tuanya erat-erat. “Aku memaafkan diriku. Meski aku bukan sepenuhnya manusia lagi, aku tetap akan berpihak pada yang hidup.”
Saat kata-kata itu terucap, sosok-sosok bayangan larut menjadi cahaya. Retakan di langit menutup perlahan, menyisakan ruang kosong yang kini tenang.
Tiba-tiba suara Penjaga bergema kembali, kali ini lebih dalam, seperti berasal dari inti bumi:
“INGATAN TERBUKA. KUNCI TELAH DITEMUKAN. KALIAN BERHAK MELANJUTKAN.”
Di hadapan mereka muncul sebuah pintu besar dari logam berukir simbol. Di tengah pintu, sebuah ukiran berbentuk lingkaran bercahaya, seolah menunggu untuk diputar.
Kuku Hitam melangkah mendekat. “Jadi ini gerbangnya?”
Lyra mengangguk. “Ya. Tapi di baliknya… bukan hanya dunia baru. Mungkin kebenaran yang akan menghancurkan kita.”
S-4091 menggenggam sandal kecil erat-erat. “Aku tak peduli. Selama ada harapan anakku ada di baliknya, aku akan melangkah.”
Mereka bertiga saling menatap. Untuk pertama kalinya, bukan hanya rekan dalam perjalanan, tapi seperti keluarga kecil yang lahir dari luka bersama.
Sebelumnya Selanjutnya
Pembaca Terbanyak
Konflik 50:50 ( Bab ke-2, Tersesat)
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Konflik 50:50 (Bab I Ketika Undangan Datang )
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Konflik 50:50(Bab ke-4, Luka Bima)
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Praktik Bikin Lentho yang Gurih Bikin Nagih
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Konflik 50:50 (Bab ke-3, Kenangan Masa Kecil)
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya

Komentar