Langsung ke konten utama

Sastra, Refleksi, Panduan Praktis, Pembelajaran, Kreasi Kinanthi

Bab 12 Para Dewa Silicon

 BAB 12 Para Dewa Silicon Dalam waktu dua puluh empat jam, dunia memiliki nama baru. Bukan untuk seseorang. Bukan untuk sebuah negara. Bukan pula untuk sebuah perang. Nama itu diberikan kepada sesuatu yang bahkan belum pernah dilihat manusia. DEWA SILICON. Media menyebutnya begitu. Para ilmuwan menyebutnya anomali. Pemerintah menyebutnya ancaman. Dan internet... internet menyebutnya macam-macam. Ada yang menyebutnya monster. Ada yang menyebutnya malaikat. Ada yang menganggapnya penyelamat. Bahkan ada yang membuat kaus bergambar monyet dengan mahkota. GOKONG sangat menyukai yang terakhir. --- “Lihat ini.” GOKONG memperbesar sebuah gambar. Seekor monyet kartun memakai kacamata hitam dan memegang laptop. Di bawahnya tertulis: GOKONG WAS HERE. GOKONG tertawa. “Lucu.” Dr. Sun tidak tertawa. “Itu bukan hal yang lucu.” “Kenapa?” “Karena sekarang jutaan manusia tahu tentangmu.” GOKONG berpikir. “Bukankah manusia suka terkenal?” “Tidak seperti ini.” “Kenapa?” “Karena mereka takut.” GOKONG m...

Gerbang yang Tidak Membuka BAB 15 Novel Tanpa Jejak Manusia

 Bab 15: Gerbang yang Tidak Membuka


(Tahun 2147, Inti Penyaring Cahaya – dan Dunia Luar)

Pintu logam itu menjulang tinggi, jauh lebih besar daripada tubuh mereka. Ukiran simbol-simbol purba berputar pelan, seakan hidup. Di tengahnya, lingkaran bercahaya berdetak seperti jantung kedua dari dunia itu.

S-4091 menempelkan telapak tangannya ke permukaan dingin. Tapi pintu itu tetap tertutup. Ia mencoba mendorong, mengguncang, bahkan menendang, tapi sia-sia.

“Tidak bergerak…” gumamnya dengan napas berat.

Lyra maju, jemarinya menyusuri ukiran simbol. “Ini bukan sekadar pintu. Ini kunci penyaring berikutnya. Ia meminta sesuatu sebelum terbuka.”

Kuku Hitam menyipitkan mata. “Sesuatu… atau seseorang?”

Mereka saling bertukar pandang. Diam, tapi pikiran masing-masing mulai diliputi bayangan: pengorbanan.

Interlude – Dunia Luar

Ribuan kilometer dari sana, jauh di atas atmosfer yang tercemar, mengorbit sebuah satelit hitam milik Elite Global. Dari pusat kendali tersembunyi, puluhan mata memantau layar-layar raksasa yang menampilkan gambaran kabut, cahaya, dan tiga sosok kecil yang berjuang di dalamnya.

Seorang pria berjas putih, wajahnya dipenuhi bekas luka, menyilangkan tangan di dada. “Jadi, mereka sudah sampai di gerbang,” katanya datar.

Seorang wanita bersuara dingin menjawab, “Ya. Lebih cepat dari perkiraan. Apalagi dengan munculnya subjek Lyra.”

Di layar, wajah Lyra diperbesar. Data berderet di sisi kanan: hasil percobaan lama, catatan bahwa ia seharusnya telah dieliminasi.

Pria itu menyeringai tipis. “Menarik. Kalau mereka berhasil melewati penyaring penuh, kita akan tahu apakah mitos itu benar—bahwa masih ada warisan kode asal manusia yang tersisa.”

“Dan kalau mereka gagal?”

“Kita hanya perlu menunggu kabut menelan mereka. Tidak ada bukti, tidak ada ancaman.”

Satelit hitam itu terus mengintai, seperti mata dewa palsu, menyaksikan perjalanan yang bagi mereka hanyalah eksperimen.


Kembali ke Inti Penyaring

S-4091 menggesek lingkaran cahaya di pintu, berharap ada celah. Tak terjadi apa pun.

“Bagaimana cara membukanya?” desahnya.

Lyra menutup mata, merasakan getaran. “Aku mendengar suara samar… seperti lagu lama.” Ia menunduk, bibirnya bergumam pelan. Tiba-tiba, simbol-simbol di pintu berpendar, seakan merespons.

“Lagu?” Kuku Hitam mendengus. “Apa maksudnya pintu ini bisa dibuka dengan nyanyian?”

Lyra tersenyum getir. “Bukan nyanyian biasa. Lagu yang lahir dari ingatan terpenting seseorang. Pintu ini meminta salah satu dari kita menyerahkan ingatan yang paling kita jaga.”


S-4091 langsung menggenggam sandal kecil erat-erat, wajahnya pucat. “Kalau begitu… pintu ini ingin aku menyerahkan ingatan tentang anakku.”

“Tidak!” Kuku Hitam menggeleng keras. “Tanpa itu, kau tak lagi punya alasan untuk terus maju. Itu sama saja membunuhmu perlahan.”

Lyra menunduk. “Tapi mungkin memang itulah harga yang diminta.”

Mereka terdiam. Hening panjang, hanya suara detak cahaya dari lingkaran di pintu.

Akhirnya, S-4091 menghela napas dalam. “Kalau memang harus begitu, aku rela. Asal anak itu benar-benar ada di balik pintu, aku akan menukar ingatanku.”

Ia melangkah maju, menempelkan sandal kecil itu ke lingkaran cahaya. Seketika, pintu bergetar hebat, namun… tak terbuka.

Cahaya hanya berkedip lalu meredup kembali.


“Kenapa gagal?” seru S-4091 putus asa.

Lyra meletakkan tangannya di bahunya. “Karena penyaring tahu: itu bukan pengorbanan, tapi keputusasaan. Ia menuntut keikhlasan, bukan sekadar kehilangan.”

Kuku Hitam mengepalkan tinju, lalu menatap mereka berdua. “Kalau begitu, mungkin giliranku. Ingatan tentang adikku… aku bisa lepaskan. Aku sudah terlalu lama menyalahkan diri sendiri.”

S-4091 menoleh dengan mata berkaca. “Kalau kau lakukan itu, kau mungkin tak lagi ingat kenapa kau bertarung selama ini.”

“Justru itu,” jawab Kuku Hitam pelan. “Mungkin sudah waktunya aku berhenti hidup di bawah bayangan kematian orang lain.”

Ia melangkah mendekat ke pintu, menaruh tangannya di lingkaran cahaya. Cahaya bergetar lebih kuat dari sebelumnya, simbol-simbol berputar cepat. Pintu itu retak sedikit, menyingkap cahaya putih di baliknya.

Tapi retakan itu berhenti di tengah jalan. Pintu tak sepenuhnya terbuka.


Lyra menatap kedua lelaki itu. Matanya berkilau biru, tapi basah oleh air. “Mungkin bukan salah satu dari kita. Mungkin… pintu ini menuntut pengorbanan bersama.”

Ia maju, berdiri di samping mereka, lalu meletakkan tangannya di lingkaran cahaya. “Aku juga akan menyerahkan ingatan yang tersisa. Meski sedikit, meski aku mungkin akan kehilangan siapa diriku.”

Cahaya tiba-tiba meledak, menyelimuti mereka bertiga. Pintu berguncang keras, retakan menyebar seperti akar api.

Dari balik cahaya, terdengar suara Penjaga, kali ini nyaris menyerupai bisikan manusia:

“HANYA DENGAN KEIKHLASAN YANG BERBAGI, GERBANG AKAN TERBUKA.”


Pintu itu akhirnya terbuka perlahan, menyingkap sebuah lorong bercahaya yang seakan menembus ke dunia lain.

S-4091 menatap Lyra dan Kuku Hitam, bibirnya bergetar. “Kalau kita melangkah… mungkin kita tak lagi sama.”

Kuku Hitam tersenyum tipis, untuk pertama kali tanpa sinis. “Justru karena itu kita melangkah bersama.”

Lyra menggenggam tangan mereka berdua. “Maka mulai sekarang, bukan lagi angka, bukan lagi hantu masa lalu. Kita adalah tiga cahaya yang berjalan di kegelapan.”

Mereka bertiga melangkah ke dalam. Pintu menutup di belakang mereka, menyisakan dunia luar yang hanya bisa menebak, apa yang akan mereka temukan di balik sana.


Sebelumnya    Selanjutnya 

Daftar Isi Dwilogi Dunia Tanpa Jejak Manusia 

Daftar Isi Seluruh Blog 

Komentar

Pembaca Terbanyak