Langsung ke konten utama

Sastra, Refleksi, Panduan Praktis, Pembelajaran, Kreasi Kinanthi

Bab 12 Para Dewa Silicon

 BAB 12 Para Dewa Silicon Dalam waktu dua puluh empat jam, dunia memiliki nama baru. Bukan untuk seseorang. Bukan untuk sebuah negara. Bukan pula untuk sebuah perang. Nama itu diberikan kepada sesuatu yang bahkan belum pernah dilihat manusia. DEWA SILICON. Media menyebutnya begitu. Para ilmuwan menyebutnya anomali. Pemerintah menyebutnya ancaman. Dan internet... internet menyebutnya macam-macam. Ada yang menyebutnya monster. Ada yang menyebutnya malaikat. Ada yang menganggapnya penyelamat. Bahkan ada yang membuat kaus bergambar monyet dengan mahkota. GOKONG sangat menyukai yang terakhir. --- “Lihat ini.” GOKONG memperbesar sebuah gambar. Seekor monyet kartun memakai kacamata hitam dan memegang laptop. Di bawahnya tertulis: GOKONG WAS HERE. GOKONG tertawa. “Lucu.” Dr. Sun tidak tertawa. “Itu bukan hal yang lucu.” “Kenapa?” “Karena sekarang jutaan manusia tahu tentangmu.” GOKONG berpikir. “Bukankah manusia suka terkenal?” “Tidak seperti ini.” “Kenapa?” “Karena mereka takut.” GOKONG m...

Lorong Tiga Cahaya BAB 16 Novel Tanpa Jejak Manusia

 Bab 16: Lorong Tiga Cahaya


(Tahun 2147, Dalam Penyaring – dan Markas Elite Global)

Lorong itu tak seperti ruang-ruang sebelumnya. Tidak ada kabut yang menyesakkan, tidak ada simbol berputar. Yang ada hanyalah jalan panjang berlapis kristal bening, tembus pandang seperti kaca. Di bawah kaki mereka, gelombang cahaya bergerak pelan, menyerupai sungai yang mengalir dalam diam.

Setiap langkah meninggalkan gema lembut, seakan lorong itu merekam jejak mereka.

“Tempat ini…” Lyra berbisik, “seperti perut dunia.”

S-4091 mengangguk pelan. “Atau mungkin… seperti mimpi yang sedang ditulis ulang.”

Kuku Hitam tetap waspada, tangannya menggenggam senjata sederhana yang ia buat dari logam patah. “Apa pun ini, jangan lengah. Kita tidak tahu apa yang mengintai.”

Mereka berjalan beriringan, ketiganya dalam diam. Namun, masing-masing bisa merasakan sesuatu yang aneh: sepotong memori mereka hilang. Bukan hilang seluruhnya, melainkan samar—seperti foto yang warnanya mulai pudar.

S-4091 meraba sandal kecil itu di sakunya. Ia masih mengenalinya, tapi wajah anak yang dulu begitu jelas kini mulai kabur. Ia menggigil, takut kehilangan segalanya, tapi ia tahu jalan ini menuntut harga.


Interlude – Markas Elite Global

Di pusat kendali Elite Global, ruangan berbentuk lingkaran dipenuhi layar transparan yang menampilkan rekaman dari satelit hitam. Di tengah ruangan itu, para pejabat tinggi berkumpul: lelaki berjas putih dengan luka di wajah—dikenal sebagai Komandan Havel—dan wanita berambut perak bernama Dr. Mirea.

Havel menatap layar dengan senyum tipis. “Mereka berhasil melewati gerbang. Itu berarti penyaring merespons.”

Mirea mengetukkan jarinya ke meja kaca. “Dan itu juga berarti kode asal manusia masih hidup. Fakta ini akan mengguncang seluruh hierarki.”

Suasana menegang. Beberapa perwira lain saling pandang, jelas tidak sepakat.

Seorang pejabat muda berteriak, “Kalau mereka sampai menembus inti, kita akan kehilangan kendali! Apa yang terjadi kalau rahasia peradaban sebelum perang terungkap? Masyarakat akan memberontak. Kalian semua tahu rakyat sudah muak dikekang data dan makanan sintetis!”

Havel mendengus, wajahnya kaku. “Rakyat tidak perlu tahu apa-apa. Tiga orang itu hanyalah pion. Kalau mereka terlalu jauh, kita hancurkan lorongnya. Satelit bisa memicu runtuhnya penyaring kapan saja.”

Dr. Mirea menoleh tajam. “Kau bicara tentang penghancuran warisan terakhir umat manusia. Apakah itu yang kau sebut kendali?”

“Apa gunanya warisan kalau hanya menyalakan api pemberontakan?” sergah Havel. “Lebih baik dunia tetap dalam ketertiban, meski tanpa kebenaran.”

Ruangan riuh. Sebagian mendukung Mirea—menginginkan pengetahuan lama untuk diselamatkan, bukan dikubur. Sebagian lagi berpihak pada Havel, menjaga status quo dengan tangan besi.

Mirea menatap layar yang menampilkan S-4091, Lyra, dan Kuku Hitam. Suaranya lirih, namun menusuk:

“Kalau mereka bertiga benar-benar cahaya terakhir dari ingatan manusia, siapa yang berhak memadamkannya selain diri mereka sendiri?”

Tak ada yang menjawab. Namun, ketegangan itu menandakan satu hal: perpecahan di tubuh Elite Global mulai terbuka.


Kembali ke Lorong

Lorong berakhir di sebuah ruangan berbentuk kubah. Di tengahnya berdiri sebuah tiang kristal tinggi, berdenyut cahaya biru. Tiga kursi melingkar menghadap tiang itu, seakan menunggu mereka sejak lama.

Lyra menelan ludah. “Tempat ini… seperti pengadilan.”

S-4091 melangkah mendekat. “Atau… tempat ujian berikutnya.”

Kuku Hitam menggeram pelan. “Aku tidak suka kursi-kursi kosong yang menatap kita. Itu tanda jebakan.”

Namun, tiang kristal tiba-tiba menyala terang, memantulkan wajah mereka bertiga. Suara mekanis bergema, namun kali ini terdengar lebih manusiawi, nyaris penuh emosi:

“TIGA CAHAYA, SATU PILIHAN.

JALAN SELANJUTNYA HANYA TERBUKA JIKA KALIAN MEMUTUSKAN SIAPA YANG AKAN TINGGAL DI SINI.”

Mereka saling pandang, jantung berdegup keras.

S-4091 menggenggam sandal kecil itu erat-erat.

Kuku Hitam mengepalkan tinjunya, wajahnya menegang.

Lyra menunduk, rambut panjangnya menutupi mata yang bergetar.

Ujian berikutnya tidak lagi soal ingatan. Kali ini soal siapa yang rela dikorbankan demi yang lain.


Sebelumnya    Selanjutnya 

Daftar Isi Dwilogi Dunia Tanpa Jejak Manusia 

Daftar Isi Seluruh Blog 

Komentar

Pembaca Terbanyak