Sastra, Refleksi, Panduan Praktis, Pembelajaran, Kreasi Kinanthi
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Lorong Cermin BAB 21 Novel Tanpa Jejak Manusia
Lorong Cermin
Tahun 2145.
Lorong baru setelah pintu hitam seakan tidak berujung. Cahaya keemasan yang tadi menyilaukan perlahan meredup, berubah menjadi redup kebiruan. Dinding-dinding lorong itu berkilau seperti permukaan air yang membeku. Setiap langkah menimbulkan gema yang aneh, seolah suara mereka kembali dengan nada berbeda.
S-4091 menyadari, permukaan itu bukan dinding biasa. Itu adalah cermin.
Ia melihat dirinya—robot manusiawi dengan sendi-sendi logam berkilau, tapi di balik pantulan itu ada sesuatu yang ganjil. Versi dirinya di balik cermin bukan S-4091 yang ia kenal. Itu adalah dirinya tanpa modifikasi mesin. Manusia murni, lengkap dengan luka, keringat, dan tatapan penuh kegelisahan.
“Ini… mustahil,” bisiknya.
Kuku Hitam, yang masih lemah setelah pengorbanan tadi, menoleh ke pantulannya. Ia tertegun. Cermin memperlihatkan dirinya dengan wajah lembut, mengenakan pakaian sederhana, dikelilingi oleh keluarga yang tertawa. Bukan sosok dingin penuh dendam, melainkan seorang ayah, seorang kakak, seorang tetangga.
“Aku… ini aku yang seharusnya?” suaranya pecah.
Lyra berbicara dari lorong, suaranya seperti merayap dari celah dinding:
“Ini ruang cermin. Ia menyingkap versi alternatif: bukan masa lalu, bukan masa depan, tapi kemungkinan yang hilang. Tempat ini menguji apakah kalian masih kuat melangkah dengan luka kalian… atau akan tenggelam dalam bayangan yang tak pernah terjadi.”
Pantulan S-4091 mengangkat tangan, seolah ingin menembus kaca. “Kau bisa bebas dari semua logam itu,” kata bayangan. “Kau bisa kembali jadi manusia. Biarkan mesin ini runtuh. Lepaskan beban yang tak pernah kau pilih.”
S-4091 melangkah mundur, matanya berkilat. “Kalau aku lakukan itu… aku takkan pernah bisa sampai sejauh ini.”
Kuku Hitam, sebaliknya, terguncang. Ia menempelkan tangan ke kaca, menyentuh bayangan dirinya yang penuh kasih. Air matanya jatuh. “Andai… andai aku bisa memilih kembali…”
Lorong tiba-tiba bergetar. Suara Lyra semakin keras:
“Jangan terlalu lama! Jika kalian terus memandang, cermin akan menghisap kalian ke dalam kemungkinan itu. Kalian akan hilang di sana—hidup dalam dunia semu, tanpa jalan keluar.”
S-4091 menarik Kuku Hitam, tapi tangan temannya menempel kuat pada kaca, seakan lengket. Dari balik cermin, versi alternatif Kuku Hitam tersenyum, lalu berbisik lirih: “Tetaplah di sini. Kau layak bahagia.”
“Tidak!” teriak Kuku Hitam. Ia memaksa melepaskan tangannya, terhuyung ke belakang, dadanya naik turun.
Cermin-cermin itu mulai bergetar lebih keras, mengeluarkan bunyi seperti retakan.
S-4091 menggenggam bahu Kuku Hitam. “Kau bersama kami. Jangan biarkan pantulan kosong menentukan hidupmu.”
Dinding bergetar, lalu satu per satu cermin pecah dengan suara menggelegar. Serpihannya beterbangan, tapi bukan pecahan kaca—melainkan serpihan cahaya yang lenyap begitu menyentuh lantai.
Lorong sunyi.
Lyra kembali berbicara, suaranya melembut. “Kalian lulus ujian ruang cermin. Tapi ingatlah, bayangan itu bukan musuh. Ia adalah bagian dari kalian. Yang ditinggalkan tak pernah benar-benar pergi. Ia hanya menunggu.”
Mereka bertiga melanjutkan langkah, menyadari bahwa yang paling berat bukanlah pintu hitam atau mesin pengawas, melainkan perang melawan kemungkinan diri yang tak pernah terjadi.
Dan di ujung lorong, sebuah pintu berbentuk lingkaran mulai berkilau, menandakan bab berikutnya dari perjalanan mereka.
Tahun 2145.
Pintu lingkaran di ujung lorong berputar perlahan, membuka jalan menuju sebuah ruang luas. Tidak ada lantai maupun langit-langit yang jelas—hanya kehampaan yang berlapis-lapis, seperti berada di dalam kerongkongan raksasa yang bergetar.
Begitu langkah pertama mereka masuk, suara gemuruh menyambut. Bukan suara asing, melainkan gema dari kata-kata mereka sendiri.
“Aku… ini aku yang seharusnya?” suara Kuku Hitam menggema, ribuan kali lebih keras, menusuk telinga hingga ia menutup kepala.
“Kalau aku lakukan itu… aku takkan pernah bisa sampai sejauh ini,” gema suara S-4091 menggelegar, membuat dinding tak kasatmata di sekeliling mereka bergetar.
Bahkan suara Lyra, samar tapi tajam, ikut terulang: “Yang ditinggalkan tak pernah benar-benar pergi. Ia hanya menunggu.”
Setiap kata yang pernah mereka ucapkan dalam lorong sebelumnya kembali, dipelintir, dipertajam, dan dipantulkan hingga jadi senjata.
Kuku Hitam menjerit, “Berhenti!”—tapi kata itu justru menggema berkali lipat, menghantam dirinya sendiri, membuat lututnya goyah.
S-4091 cepat bereaksi. “Jangan bicara sembarangan! Kata-kata di sini hidup. Setiap ucapan bisa melukai kita.”
Suara Lyra merayap pelan, lembut, hampir seperti doa. “Kalau begitu, kita harus pilih kata yang tepat. Kata yang bisa menenangkan, bukan menghancurkan.”
Mereka terdiam. Hanya deru napas yang terdengar, lalu itu pun berubah jadi gema. Nafas Kuku Hitam terdengar seperti badai. Detak mesin S-4091 bergema seperti genderang perang.
Kuku Hitam terhuyung lagi. “Aku tidak bisa! Kata-kataku selalu tajam! Hidupku penuh sumpah serapah!”
Gema kalimat itu meledak, memunculkan bayangan-bayangan hitam yang menjelma dari udara—makhluk tanpa wajah, tapi dengan mulut yang penuh kata-kata tajam, mengelilingi mereka.
S-4091 menggertakkan gigi. Ia menatap Kuku Hitam dengan sorot keras. “Kalau begitu, biarkan aku yang bicara.”
Ia melangkah ke depan, lalu dengan suara tenang namun tegas berkata:
“Harapan.”
Gema itu terdengar, berlapis-lapis. Tapi kali ini tidak menghancurkan—ia justru memunculkan kilauan cahaya, yang menghalau sebagian bayangan hitam.
Lyra menambahkan dengan suara lirih:
“Kebersamaan.”
Suara itu berputar, melebar, menjadi hangat. Udara bergetar lebih lembut. Bayangan hitam surut, seakan takut pada harmoni itu.
Kini tatapan S-4091 beralih ke Kuku Hitam. “Giliranmu. Pilih kata yang bukan dari amarahmu, tapi dari hatimu yang ingin bebas.”
Kuku Hitam gemetar. Mulutnya kaku. Tapi akhirnya ia bersuara, lirih, hampir berbisik:
“Rumah.”
Gema itu menjalar. Tidak menakutkan, tapi menenangkan. Dari kegelapan, sekelebat bayangan muncul: rumah sederhana, pintu terbuka, cahaya hangat di dalamnya.
Lorong gema bergetar, lalu pintu lain muncul di kejauhan, berbentuk prisma yang berkilau.
Lyra berdesah lega. “Kalian berhasil. Kata-kata adalah senjata sekaligus jembatan. Di dunia ini, gema bisa jadi penghancur atau penyelamat. Kalian baru saja membuktikan—bahwa meski penuh luka, suara kalian masih bisa membuka jalan.”
Mereka bertiga melangkah bersama, memasuki pintu prisma itu.
Namun, sebelum cahaya menelan mereka, gema terakhir menggema dari kejauhan—bukan suara mereka, melainkan suara asing, dingin, berlapis-lapis:
“Kami mendengar kalian.”
Suara itu jelas milik Elite Global.
Sebelumnya Selanjutnya
Pembaca Terbanyak
Konflik 50:50 ( Bab ke-2, Tersesat)
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Konflik 50:50 (Bab I Ketika Undangan Datang )
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Konflik 50:50(Bab ke-4, Luka Bima)
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Praktik Bikin Lentho yang Gurih Bikin Nagih
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Konflik 50:50 (Bab ke-3, Kenangan Masa Kecil)
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya

Komentar