Sastra, Refleksi, Panduan Praktis, Pembelajaran, Kreasi Kinanthi
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Dunia Tanpa Nama (Tahun 2143) BAB 23 Novel Tanpa Jejak Manusia
Dunia Tanpa Nama (Tahun 2143)
Lorong terakhir runtuh di belakang mereka dengan bunyi berderak panjang, seolah semua jalan kembali sudah dilenyapkan dari peta semesta. S-4091 berdiri terpaku, lampu kecil di dadanya berkedip tak menentu, sementara Kuku Hitam menggeram rendah, cakarnya menancap pada permukaan lantai yang bukan lantai—lebih mirip kabut padat yang bisa ditapak, namun bergetar setiap kali disentuh.
Di depan mereka membentang hamparan luas tanpa horizon. Tidak ada langit, tidak ada tanah. Hanya lapisan-lapisan cahaya samar yang berubah warna seperti napas: ungu, biru tua, lalu putih pudar. Dunia ini tidak memberi nama pada dirinya sendiri. Bahkan udara yang mereka hirup terasa seperti ingatan orang lain, seolah setiap helaan napas mengandung potongan kisah yang tak mereka kenali.
Namun, di antara ketidakpastian itu, ada sesuatu yang pasti: bintang kecil, sebesar biji padi, melayang mengikuti langkah mereka. Cahaya bintang itu berdenyut lembut, mengingatkan pada suara Lyra yang dulu membimbing mereka dalam gelap. S-4091 menatapnya, matanya bergetar.
“Apakah ini kau, Lyra?” suaranya bergetar, hampir seperti doa.
Bintang itu berkilat sekali, lalu redup, seakan memberi jawaban tanpa kata. Kuku Hitam mendongak, ekornya berkibasan. “Dia tidak sepenuhnya hilang. Kesadarannya mungkin diserap penyaring, tapi… lihatlah. Bahkan di sini, sesuatu darinya masih memilih menemani kita.”
Mereka berjalan. Setiap langkah menimbulkan riak, seperti melangkah di permukaan air, tetapi riak itu bukan sekadar gelombang. Riak itu berubah menjadi bayangan. Dan bayangan itu berubah menjadi ingatan.
S-4091 melihat sosok seorang anak kecil berlari, mengenakan seragam sekolah yang compang-camping, memeluk buku lusuh dengan sampul retak. Itu bukan ingatannya, tapi ia bisa merasakan perasaan anak itu—lapar, haus, tapi tetap mencintai halaman-halaman yang ia genggam.
“Ini…” bisiknya. “Apakah dunia ini terbentuk dari sisa-sisa kenangan manusia yang terhapus?”
Kuku Hitam menajamkan pandangan. Seekor burung logam terbang di atas mereka, lalu runtuh menjadi abu cahaya. “Atau mungkin ini adalah ladang di mana Elite Global membuang sesuatu yang tak bisa mereka kendalikan.”
Mereka melangkah lebih jauh. Setiap langkah mempertemukan mereka dengan fragmen kehidupan: seorang perempuan yang menenun kain sambil menyanyikan doa; seorang lelaki tua yang menyalakan pelita terakhir sebelum runtuhnya kota; seorang bayi yang hanya sempat menangis sekali, sebelum dunia menelannya. Semua itu tak pernah mereka alami, tapi hadir seperti luka baru di dada mereka.
Bintang kecil itu terus berpendar, seolah memilih fragmen tertentu yang lebih penting. Hingga akhirnya, cahaya Lyra itu berhenti di depan bayangan seorang perempuan muda dengan rambut hitam panjang, matanya tajam, suaranya samar.
“Jangan berhenti,” suara itu bergema pelan. “Jangan biarkan dunia ini menjadi kuburan kenangan. Ada yang menunggu di balik batas ini.”
S-4091 tersentak. Itu suara Lyra. Bukan hanya gema. Bukan hanya kilatan. Itu dia.
Kuku Hitam menoleh cepat, bulu punggungnya berdiri. “Kalau itu memang Lyra… maka dunia ini bukan sekadar buangan. Dunia ini adalah pintu.”
Tapi pintu menuju ke mana?
Mereka berdua melangkah, dengan bintang kecil sebagai penunjuk jalan, masuk lebih dalam ke dunia tanpa nama. Dan semakin jauh mereka melangkah, semakin mereka sadar: perjalanan ini akan menuntut pengorbanan lain, mungkin lebih besar daripada yang sudah mereka lepaskan.
Mau saya lanjutkan Bab 27 dengan mengungkap rahasia “dunia tanpa nama” ini—apakah benar ladang buangan Elite Global, atau sesuatu yang lebih tua daripada mereka?
Dunia tanpa nama itu akhirnya menunjukkan wajah keduanya. Semula hanya cahaya samar dan fragmen ingatan, tapi setelah langkah-langkah mereka bertambah berat, kabut tipis di sekitar mulai terurai. Yang tersisa bukan lagi kilau lembut, melainkan hamparan ladang hitam tanpa ujung, permukaannya berdenyut seperti nadi raksasa.
S-4091 merasakan sensornya kacau. Setiap kali ia mencoba menandai lokasi, koordinat bergeser sendiri, seolah ruang di sana menolak dipetakan. Kuku Hitam menjejak hati-hati, cakarnya menyentuh permukaan yang lembek—bukan tanah, bukan air, melainkan sesuatu yang seakan hidup.
“Aku tidak menyukai tempat ini,” gumamnya. “Seolah-olah kita berjalan di atas punggung sesuatu yang sedang tidur.”
Bintang kecil—cahaya Lyra—bergerak lebih cepat, seolah mendesak mereka untuk tidak berhenti. Namun di kejauhan, mereka mulai melihat sosok-sosok berdiri. Mula-mula samar, lalu makin jelas.
Itu bukan manusia. Itu bayangan. Puluhan, ratusan, bahkan ribuan—berdiri diam, kepala tertunduk, tubuh rapuh, sebagian tembus pandang. Mereka tidak bergerak, tetapi menghadap ke arah yang sama: sebuah menara hitam menjulang, seolah tumbuh dari ladang itu sendiri.
S-4091 mengerutkan alisnya. “Apakah ini… kuburan? Atau penjara?”
Suara Lyra bergema dari bintang kecil, kali ini lebih jelas, namun bergetar:
“Ini ladang buangan. Semua jiwa yang dihapus dari catatan dunia—yang namanya diputus dari sejarah—dikumpulkan di sini. Elite Global menyebutnya Ladang Tanpa Cahaya. Mereka mengira dengan menghapus nama, mereka menghapus keberadaan. Tapi jiwa-jiwa itu… masih ada.”
Kuku Hitam mendengus, bulunya berdiri kaku. “Jadi ini tempat para ‘tak bernama’—yang dibuang dari sistem?”
“Ya,” sahut Lyra. “Dan menara itu adalah jantungnya. Di sana, semua ingatan terkumpul, ditahan agar tak pernah kembali ke dunia nyata.”
Mereka mendekat. Semakin dekat, semakin berat langkah mereka. Bayangan-bayangan itu seakan menoleh tanpa menoleh—mata mereka kosong, tapi setiap tatapan adalah permohonan: ingatlah aku, sebutlah namaku.
S-4091 merasakan dadanya sakit, meski ia tahu tubuhnya tak seharusnya bisa sakit. Setiap bayangan yang dilewatinya berbisik, dan bisikan itu menempel di kepalanya: nama-nama yang terhapus, doa-doa yang patah, janji-janji yang tidak pernah ditepati.
Kuku Hitam pun terguncang. Ia melihat bayangan menyerupai ibunya, dengan mata penuh api, tapi begitu ia coba mendekat, sosok itu lenyap. “Ini tipuan…” desisnya. “Atau… ini sisa kebenaran yang tak ingin kita sentuh.”
Di kaki menara, mereka menemukan pintu—bukan dari logam, bukan dari kayu, melainkan celah gelap yang berdenyut, seperti luka yang terbuka. Cahaya Lyra melayang ke depan, menuntun mereka masuk.
Namun sebelum melangkah, suara berat terdengar dari dalam menara. Bukan suara manusia, bukan pula mesin. Suara itu bagai gema seluruh ladang, serentak bicara dengan lidah seribu jiwa:
“Siapa yang berani membawa nama ke ladang tanpa nama?”
S-4091 dan Kuku Hitam saling pandang. Untuk pertama kali, mereka sama-sama ragu apakah langkah berikutnya akan menyelamatkan mereka—atau justru membuat mereka ikut terhapus.
Sebelumnya Selanjutnya
Pembaca Terbanyak
Konflik 50:50 ( Bab ke-2, Tersesat)
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Konflik 50:50 (Bab I Ketika Undangan Datang )
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Konflik 50:50(Bab ke-4, Luka Bima)
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Praktik Bikin Lentho yang Gurih Bikin Nagih
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Konflik 50:50 (Bab ke-3, Kenangan Masa Kecil)
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya

Komentar