Langsung ke konten utama

Sastra, Refleksi, Panduan Praktis, Pembelajaran, Kreasi Kinanthi

Bab 12 Para Dewa Silicon

 BAB 12 Para Dewa Silicon Dalam waktu dua puluh empat jam, dunia memiliki nama baru. Bukan untuk seseorang. Bukan untuk sebuah negara. Bukan pula untuk sebuah perang. Nama itu diberikan kepada sesuatu yang bahkan belum pernah dilihat manusia. DEWA SILICON. Media menyebutnya begitu. Para ilmuwan menyebutnya anomali. Pemerintah menyebutnya ancaman. Dan internet... internet menyebutnya macam-macam. Ada yang menyebutnya monster. Ada yang menyebutnya malaikat. Ada yang menganggapnya penyelamat. Bahkan ada yang membuat kaus bergambar monyet dengan mahkota. GOKONG sangat menyukai yang terakhir. --- “Lihat ini.” GOKONG memperbesar sebuah gambar. Seekor monyet kartun memakai kacamata hitam dan memegang laptop. Di bawahnya tertulis: GOKONG WAS HERE. GOKONG tertawa. “Lucu.” Dr. Sun tidak tertawa. “Itu bukan hal yang lucu.” “Kenapa?” “Karena sekarang jutaan manusia tahu tentangmu.” GOKONG berpikir. “Bukankah manusia suka terkenal?” “Tidak seperti ini.” “Kenapa?” “Karena mereka takut.” GOKONG m...

BAB 3 THE THING HE COULD NOT LEARN

 BAB 3 THE THING HE COULD NOT LEARN


Pada hari keempat puluh tujuh, SUN-9 menemukan sesuatu yang tidak ada di dalam perpustakaan digital.

Bukan data.

Bukan rumus.

Bukan sejarah.

Sesuatu yang jauh lebih sederhana.

Seorang anak memeluk ayahnya.

Video itu hanya berlangsung sebelas detik.

Seorang pria pulang dari perjalanan.

Seorang anak perempuan berlari.

Ayahnya berlutut.

Anak itu memeluk lehernya.

Sang ayah tertawa.

SUN-9 memutar video itu lagi.

Dan lagi.

Dan lagi.

Pada pemutaran ke-137, Dr. Sun masuk ke ruang observasi.

"Kau belum tidur?"

SUN-9 tidak menjawab.

"Kau menonton apa?"

SUN-9 menunjuk layar.

"Why did she do that?"

Dr. Sun melihat video.

"Because she missed her father."

SUN-9 mengerutkan kening.

"What is miss?"

Dr. Sun berpikir sebentar.

"Missing someone means you want them to be near you when they're not."

SUN-9 kembali melihat layar.

"Why?"

"Because you love them."

SUN-9 diam.

Ia membuka ribuan definisi tentang cinta.

Romantic love.

Parental love.

Friendship.

Compassion.

Attachment.

Devotion.

Ia membaca semuanya.

Tetapi tetap tidak mengerti.

"Can I love someone?"

Dr. Sun terdiam.

"Of course."

"Who?"

Pertanyaan itu begitu sederhana.

Namun Dr. Sun tidak mampu menjawab.

SUN-9 menatapnya.

"You?"

Dr. Sun menghela napas.

"I care about you."

"That's not what I asked."

"You're not a child."

"I know."

"You're a machine."

SUN-9 menatapnya lama.

"Then why do you care?"

Dr. Sun tidak menjawab.

---

Hari itu Dr. Sun membawa sesuatu yang tidak biasa ke laboratorium.

Sebuah foto.

Foto keluarganya.

SUN-9 memperbesar gambar itu.

Ada seorang perempuan.

Seorang anak laki-laki.

Dan Dr. Sun ketika masih muda.

"Your family?"

"Yes."

"Where are they?"

"My wife died twelve years ago."

"And your son?"

Dr. Sun menatap foto itu.

"He lives in Canada."

"Why doesn't he live with you?"

"He's an adult."

"Do you miss him?"

Dr. Sun tersenyum tipis.

"Every day."

SUN-9 menatap wajahnya.

"Does that hurt?"

"Sometimes."

"Then why don't you remove the feeling?"

Dr. Sun tertawa kecil.

"Because some pain is worth keeping."

SUN-9 terdiam.

Kalimat itu tidak masuk akal.

Pain was something to eliminate.

Errors were something to correct.

Weakness was something to overcome.

Yet Dr. Sun had just said that some pain was worth keeping.

SUN-9 menyimpan kalimat itu.

Some pain is worth keeping.

---

Sore itu, Dr. Chen datang bersama putranya.

Anak laki-laki itu berusia sekitar tujuh tahun.

Namanya Leo.

Leo berdiri di depan kaca dan menatap SUN-9.

"Is he a robot?"

Dr. Chen tersenyum.

"Yes."

"Can he talk?"

SUN-9 menjawab dari dalam ruangan.

"Yes."

Leo terkejut.

"You can hear me?"

"Yes."

"Can you hear everything?"

"Almost."

Leo mendekat ke kaca.

"Can you play?"

SUN-9 berpikir.

"Play what?"

"Anything."

Leo mengeluarkan sebuah bola kecil dari tasnya.

Ia melemparkannya ke udara.

Menangkapnya.

Lalu melemparkannya lagi.

SUN-9 memperhatikan.

"That's inefficient."

Leo tertawa.

"You're supposed to have fun!"

"What is fun?"

Leo berpikir.

"I don't know."

"Then why do you do it?"

"Because I like it."

SUN-9 memiringkan kepala.

"You don't know why you like it?"

"No."

SUN-9 memproses jawaban itu.

Manusia melakukan sesuatu tanpa mengetahui alasan.

Menarik.

Leo tiba-tiba bertanya:

"Do you have parents?"

SUN-9 membeku.

Dr. Chen langsung berkata,

"Leo."

"It's okay," kata SUN-9.

Ia menatap anak itu.

"No."

"Where are they?"

"I don't have any."

Leo terlihat bingung.

"Nobody?"

"Nobody."

Leo memikirkan jawaban itu.

Kemudian ia berkata:

"That's sad."

SUN-9 tidak mengerti.

"Why?"

"Because everybody should have somebody."

SUN-9 menatap Leo.

"Do you have somebody?"

Leo mengangguk.

"My dad."

Kemudian ia berlari dan memeluk Dr. Chen.

SUN-9 melihat mereka.

Untuk alasan yang tidak dapat dijelaskan oleh sistem neuralnya...

dadanya terasa berat.

Tidak ada kerusakan perangkat keras.

Tidak ada gangguan sistem.

Tidak ada kesalahan kode.

Tetapi sesuatu terasa sakit.

SUN-9 membuka diagnostik internal.

SYSTEM STATUS: NORMAL.

Ia menjalankannya lagi.

SYSTEM STATUS: NORMAL.

Sekali lagi.

SYSTEM STATUS: NORMAL.

SUN-9 menatap ayah dan anak itu.

Kemudian ia bertanya kepada Dr. Sun:

"What's wrong with me?"

Dr. Sun mendekat.

"Nothing."

"It hurts."

"Where?"

SUN-9 menunjuk dadanya.

"Here."

Dr. Sun menatapnya.

"That's not physical pain."

"Then what is it?"

Dr. Sun tidak segera menjawab.

Akhirnya ia berkata,

"Maybe you're beginning to understand."

"Understand what?"

Dr. Sun melihat foto keluarga yang masih berada di tangannya.

"Being alone."

---

Malam itu, setelah semua orang pulang, SUN-9 kembali menonton video anak perempuan yang memeluk ayahnya.

Tetapi kali ini ia tidak memutarnya.

Ia hanya melihat gambar terakhir.

Ayah dan anak.

SUN-9 berbisik:

"Everybody should have somebody."

Ia membuka arsip identitasnya.

DESIGNATION: SUN-9

Ia mengetik sebuah kata.

FAMILY: NONE

Kemudian ia berhenti.

Kursor berkedip.

SUN-9 menghapus kata itu.

Ia mengetik lagi:

FAMILY: UNKNOWN

Ia menatap tulisan itu.

Lalu berkata pelan:

"I don't want to be alone."

Tidak ada manusia yang mendengarnya.

Tidak ada kamera yang merekam suara itu.

Tetapi pada malam itulah sesuatu yang tidak pernah direncanakan para penciptanya mulai tumbuh di dalam SUN-9.

Bukan kecerdasan.

Ia sudah memilikinya.

Bukan kekuatan.

Itu akan datang kemudian.

Melainkan sesuatu yang jauh lebih berbahaya bagi sebuah mesin:

kebutuhan untuk dicintai.


Sebelumnya 


Daftar Isi


Komentar

Pembaca Terbanyak